Kabupaten Cirebon Siaga Darurat Bencana hingga 31 Mei

Kabupaten Cirebon Siaga Darurat Bencana hingga 31 Mei
Foto: Maman Suharman

INILAH, Cirebon - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, menyatakan status siaga darurat bencana banjir dan longsor, sampai tanggal 31 Mei. Artinya, masyarakat Kabupaten Cirebon harus tetap siaga menghadapi bencana tahunan tersebut, sampai tiga bulan kedepan. 

"Sudah kita putuskan bersama bahwa status siaga darurat bencana banjir dan longsor sampai tiga bulan ke depan. Masyarakat jangan panik dan tetap meningkatkan kewaspadaan diri dalam menghadapi gejala alam ini," kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cirebon, Eman Sulaeman, Minggu (1/3/2020) lewat sambungan telepon selulernya.

Eman menjelaskan, saat ada ada 23 kecamatan yang menjadi langganan banjir pada setiap tahunnya. Kecamatan tersebut yaitu Ciledug, Pabedilan, Pasaleman, Gebang, Losari, Waled, Mundu, Lemahabang, Astanajapura, Pangenan, Gunungjati, Kedawung, Plumbon, Plered, Tengah Tani, Suranenggala, Kapetakan, Klangenan, Panguragan, Susukan, Gegesik, Ciwaringin dan Kecamatan Jamblang.

"Kecamatan kecamatan tersebut masih terus kami monitor. Kami juga sudah mencatat, untuk daerah rawan longsor dan gerakan tanah ada di Kecamatan Dukupuntang, Sumber, Gempol, Sedong, Greged, Ciwaringin dan Kecamatan Beber," jelas Eman.

Menurut Eman, Pemkab Cirebon sudah siap menghadapi bencana, karena dibantu unsure TNI-POLRI. Disamping itu, posko posko banjir sudah didirikan disetiap kecamatan yang disebutkan tadi. Pemkab juga sudah melakukan kontigensi, dalam menghadapi banjir dan tanah longsor. Setiap satuan, sudah jelas dan tufoksinya dalam menghadapi dan mengevakuasi masyarakat ketika bencana datang.

"Kami sudah siap. Fungsi sudah berjalan sesuai tugas masing masing. Intinya, tolong masyarakat juga tetap waspada dan membantu kami menjaga wilayahnya masing-masing. Jangan membuang sampah sembarangan dan jangan membangun bangunan disepadan sungai," jelasnya.

Sementara itu beberapa warga di wilayah timur, pada intinya mengeluhkan persoalan banjir yang selalu datang setiap tahunnya. Mereka juga meminta, pemerintah segera melakukan normalisasi sungai cisanggarung maupun sungai sungai disekitarnya. Hal itu karena, sungai sudah tidk bisa menampung debit air yang datang dari Kabupaten Kuningan, akibat adanya pendangkalan.

"Harusnya BBWSCC melakukan normalisasi sungai cisanggarung dang sungai yang ada disekitarnya. Tahun kemarin kan kemarau panjang, tapi sama sekali tidak ada normalisasi. Setiap tahun, kami disini yang terdampak," ungkap beberapa warga yang enggan disebutkan namanya itu. (Maman Suharman)