Tak Perlu Reuni Hura-hura, Cukup Harumkan Citarum

Tak Perlu Reuni Hura-hura, Cukup Harumkan Citarum
ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Kelompok masyarakat kian menunjukkan kepedulian terhadap Citarum. Menanam vetiver hingga bambu. Tak lama lagi, Reuni Perak ITB 95 bakal berlangsung. Sudah seperempat abad mereka berkenalan untuk pertama kalinya. Kini, sebagian besar mereka tersebar di banyak posisi, beragam lokasi.

Satu yang tak tertinggalkan adalah bakti kemasyarakatan. Alih-alih menandai reuni dengan sekadar pesta silaturahmi, mereka pun kembali mengabdi untuk Jawa Barat. Targetnya: ikut serta dalam program rehabilitasi Citarum.

Beda dengan pemerintah dan Satgas Citarum yang belakangan aktif menanam vetiver alias akar wangi, alumni ITB ini memilih menanam bambu. Sebanyak 95 ribu pohon bambu ditanam, di antaranya akan disebar ke sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

“Program ini kita beri nama Bambu Daya. Jadi, program ini adalah untuk konservasi air dan udara. Yang kita mau tanam adalah bambu,” ujar Ketua Reuni Perak Alumni ITB angkatan 95, Aksan Ansori Alam pada penanaman bambu pertama di kawasan Punclut, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Sabtu (29/2).

Aksan mengatakan, Program Bambu Daya ini tidak hanya bertujuan sebagai konservasi. Menurut dia, pemberdayaan masyarakat pun akan terwujud dengan memanfaatkan pohon bambu ketika telah tumbuh. 

“Pemberdayaan masyarakat mulai dari makanan, bisa untuk kerajinan, dan juga kemungkinan kita mau mensupport untuk ekspor,” katanya. 

Pada kegiatan ini, pihaknya pun menggandeng sejumlah stakeholder, yakni Akademi Bambu Nusantara (ABN) dan Padumukan Punclut. Termasuk dengan Satgas Sektor 22 Citarum Harum yang juga menyumbangkan sejumlah tanaman. 

“Jadi kita memang akan bekerja sama debgan banyak pihak, dari DAS Citarum, dari warga, Pemprov (Jabar), KBB dan segala macam,” katanya.

Kenapa bambu? Kenapa bukan vetiver? Dia menyebutkan bambu masuk kategori hasil hutan non kayu. Sehingga secara regulasi tidak menjadi rumit. Misalnya, tidak perlu harus daftar ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Jadi, tanam di manapun juga gampang, mudah, rawatnya juga mudah dibandingkan dengan yang lain. Kegunaannya juga sangat powerful. Makanya, kita kasih nama Bambu Daya,” katanya. 

Adapun alasan menjadikan Punclut yang menjadi kawasan perdana Program Bambu Daya, lantaran masih memiliki banyak lahan. Terlebih warga sekitar pun bersedia, bahkan turut semangat, apabila daerahnya ditanami bambu.

“Bambu ini buat warga Punclut salah satu hal yang tanaman baru. Sebelumnya, biasanya itu sirsak atau surian. Kalau bambu belum. Ini untuk menguatkan struktur tanah, maka kita pilih bambu,” pungkasnya. 

Komandan Sektor 22 Citarum Harum, Kolonel Inf Asep Rahman Taufik mengatakan pihaknya mendukung penuh kegiatan tersebut. Bahkan, pihaknya menyerahkan aneka pohon lainnya untuk ditaman, seperti pohon kopi, makadamia, surian yang merupakan pohon endemik Jabar, dan ekaliptus. 

“Mudah-mudahaan semangat budaya bambu ini menjadi budaya kembali masyarakat Jabar. Karena manfaatnya sangat banyak, bisa ditinjau dari segi ekologis, ekonomis,” ujar Asep.

Bahkan, Asep mengatakan, bambu pun memiliki semangat besar bilamana ditinjau dari aspek perjuangan. Hal itu seperti yang dilakukan para pejuang di zaman kemerdekaan. Di mana menggunakan bambu runcing sebagai senjata untuk mengusir penjajah. 

“Harapan saya ke depan, aneka jenis bambu di kita tidak kurang dari 60 jenis. Oleh karena itu budayakan kembali, tanami dan lestarikan, akan membawa dampak manfaat dan mensejahterakan rakyat,” katanya.

Asep pun mengatakan, lahan kritis yang ada di Jabar ini perlu segera dilakukan penanganan karena berbagai erosi yang menjadi sedimentasi ke sungai. Untuk itu, pihaknya pun mendukung setiap pihak yang melakukan gerakan sejenis.  

“Luas lahan kritis di KBU ini cukup banyak. Saya pikir warga ditawarkan bambu ini setelah mengetahui manfaat banyak warga akan menanam,” katanya. 
Asep mengatakan Program Bambu Daya ini sangat sejalan dengan program Citarum harum. Mengingat  amanah Citarum Harum ini merupakan kebersamaan. 

“Kebersamaan sekarang sudah terjadi. Oleh karena itu didasari dengan semangat tinggi dan kecintaan terhadap alam, kasih sayang terhadap pohon yang kita tanam hari ini, mudah-mudahan Citarum Harum akan sukses akan berhasil dan bisa dimanfaatkan oleh warga Jabar dan Indonesia,” paparnya. (rianto nurdiansyah)