(Sikap Kami) Langkah Politik Ganjar

(Sikap Kami) Langkah Politik Ganjar

PEMILIHAN Presiden baru akan berlangsung empat tahun lagi. Tapi, langkah-langkah politik menuju ke sana bahkan sudah dimulai dari sekarang. Tak mungkin membantah bahwa langkah Ganjar Pranowo ke Kota Bandung, Minggu (8/3) sepenuhnya lepas dari langkah politik.

Ganjar termasuk salah satu gubernur yang suka wira-wiri ke berbagai daerah akhir-akhir ini. Sebelum ke Bandung, kehadirannya di Bali belum lama ini juga sempat memunculkan tanya.

Ganjar Pranowo yang Gubernur Jawa Tengah itu punya alibi untuk melindungi langkahnya. Dia adalah Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah mada (Kagama). Bertemu dengan Kagama di seluruh Indonesia, bahkan luar negeri katanya.

Di Bandung, Ganjar didampingi Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat. Kebetulan, keduanya pun masuk dalam radar kontestasi demokrasi empat tahun ke depan itu. Keduanya kampanye gerakan cuci tangan pencegah virus covid-19.  “Ibu bapak percaya kan sama Ridwan Kamil. Percaya kan sama Pak Ganjar," kata Ridwan Kamil. Ahai, masuk bola itu.

Tidak bolehkah Ganjar melakukan langkah politik menuju kontestasi itu? Tentu saja tak ada yang melarang. Apalagi, berdasarkan berbagai survei, dia jadi kader PDI Perjuangan dengan elektabilitas tertinggi.

Tapi, langkahnya sering-sering meninggalkan Jawa Tengah, turba ke berbagai provinsi, bahkan luar negeri, bermantel Kagama, tentu layak dipertanyakan. Seberapa pentingkah aktivitas itu dilakukan dan apakah melampaui kepentingan masyarakat Jawa Tengah.

Kita berkali-kali mengingatkan gubernur, bupati, wali kota, bahwa fungsi mereka bukan hanya sebagai kepala pemerintahan, melainkan juga kepala daerah. Sebagai kepala pemerintahan, dia berhak menikmati hari libur, cuti, dan sebagainya. Tetapi sebagai kepala daerah, fatsunnya adalah siap 24 jam untuk melayani rakyatnya.

Itu sebabnya, berkali-kali kita kritik kepala daerah, siapapun, yang terlibat dalam kampanye Pilpres tempo hari. Semata-mata mengingatkan bahwa mereka adalah pemimpin daerah yang harus siap 24 jam untuk rakyatnya.

Itulah yang juga harus diperhatikan Ganjar. Hemat kita, ketimbang kerap terbang bersama Kagama, tidakkah sebaiknya dia memanfaatkan hari-harinya –sebagai kepala daerah—bersama masyarakat Jawa Tengah dan problematikanya? (*)