Sumiati, Kali Perawan, dan Bendung Karet

Sumiati, Kali Perawan, dan Bendung Karet

BBWS Citarum sukses memasang bendung karet di Kali Perawan. Jadi role model untuk penyelamatan sungai.

Alkisah, tersebutlah Sumiati. Waktu itu –tak ada yang tahu persis kapan kejadiannya—dia tenggelam di tengah-tengah sungai. Kala itu, Sumiati hendak pergi sekolah menggunakan getek menyeberang sungai. Tiba-tiba, getek yang dia tumpangi terbalik. Nasib Sumiati tak pernah jelas sejak saat itu.

Sumiati adalah awal kenapa sungai itu diberi nama Sungai Perawan. Setidaknya begitu legendanya. Karena Sumiati masih gadis, masih perawan. Sumiati tak pernah ditemukan lagi meski banyak orang desa sekitar berusaha mencarinya.

Perkembangan zaman membuat sungai di kawasan Kecamatan Kandanghaur dan Bongas, Kabupaten Indramayu itu, tak hanya menelan Sumiati. Kadang kala, ketika musim hujan datang, kala musim pasang muncul, air sungai juga melebur hingga ke wilayah darat. Banjir.

Padahal, kawasan sekitarnya adalah lokasi permukiman dan lahan pertanian di pantai utara Kabupaten Indramayu itu. Airnya yang mengalir dari pucuk Citarum, begitu sampai di sana, juga menjadi payau dan tak layak dikonsumsi, bahkan sekadar mengairi lahan persawahan pun.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2018 menyelesaikan pembangunan Bendung Karet Kali Perawan di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur itu.  

Kehadiran bendung karet akan mengurangi risiko banjir di tiga desa seluas 380 hektare, yakni Desa Kertawinangun, Desa Ilir dan Desa Soge.

Selain mengatasi banjir dan intrusi air laut, pembangunan Bendung Karet yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Ditjen Sumber Daya Air juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air atau long storage.  

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan pembangunan bendung karet seperti ini merupakan salah satu cara yang cukup efektif dan efisien untuk pengelolaan air tawar.  

“Pembangunan bendung tidak membutuhkan pembebasan lahan karena menggunakan badan sungainya sendiri. Desain dan konstruksinya lebih sederhana dibanding pembangunan bendungan. Biayanya pun lebih kecil yakni untuk Bendung Karet Kali Perawan sebesar Rp67,4 miliar,” ujar Basuki saat itu.

Saat musim kemarau, pintu bendungan akan ditutup sehingga menjadi long storage yang bisa menampung air lebih dari 1 juta m3 dan sekaligus mencegah intrusi air laut ke sungai.Sementara pada musim hujan, pintu bendung akan ditutup hingga ketinggian air mencapai elevasi 1,9 meter, yang kemudian dialirkan ke laut dengan kapasitas 255,18 m3 per detik. 

Sukses di Indramayu, teknologi sederhana bendung karet akan dikembangkan di banyak daerah lainnya. Kementerian PUPR telah menerapkan inovasi bendung karet dalam rangka mendukung ketahanan air dan pangan di Indonesia. 

Bendung karet merupakan kantong karet yang dipasang melintang sungai atau saluran air untuk menaikan tinggi muka air sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengairi saluran irigasi, penyediaan air baku maupun sarana pengendali banjir.

Menteri Basuki mengatakan dukungan inovasi dan teknologi diperlukan dalam pembangunan infrastruktur untuk menjadi lebih baik, cepat, dan lebih murah. Pemanfaatan teknologi yang tepat guna, efektif, dan ramah lingkungan juga didorong guna menciptakan nilai tambah dan pembangunan berkelanjutan sehingga manfaat infrastruktur dapat dirasakan generasi mendatang.

Secara teknis pengoperasian teknologi ini dilakukan dengan memompa air/udara pada bendung karet untuk menahan aliran air. Saat karet menggelembung aliran air sungai akan tertahan untuk menaikkan tinggi muka air. Sebaliknya dengan mengempiskan secara manual atau otomatis dapat menurunkan tinggi muka air sesuai dengan kebutuhan. Bahkan dapat dibuat rata penuh dengan dasar sungai/saluran.

Bendung karet memiliki beberapa keunggulan diantaranya waktu pelaksanaan pembangunan relatif cepat dan sederhana, bentang gate panel dapat lebih panjang (maksimum 100 meter), tanpa/sedikit pilar, tubuh bendung fleksibel dapat mengikuti bentuk pondasi, konstruksi sub struktur (pondasi) relatif lebih ringan sehingga biaya lebih murah dan fleksibel terhadap penurunan tanah, sistem pengoperasian dan pemeliharaannya tidak membutuhkan daya dan biaya yang besar serta tidak perlu perawatan dengan pengecatan karena tidak korosi.

Pembangunan Bendung Karet juga dilakukan BBWS Pemali-Juanda Ditjen SDA untuk pengendalian banjir akibat luapan sungai Kanal Banjir Barat (KBB) di Kota Semarang. Pada saat musim hujan, air yang masuk di Sungai KBB akan ditahan bendung tersebut. Saat ketinggian air mencapai elevasi 2,5 meter, maka air langsung didorong oleh karet bendungan ke hilir sungai dan masuk ke laut. Sementara pada musim kemarau bendung karet sepanjang 155,5 meter tersebut juga berfungsi sebagai long storage yang dapat menampung sekitar 700.000 m3 air.

Selanjutnya Bendung Karet juga dibangun oleh BBWS Bengawan Solo di Kali Pepe, Tirtonadi, Kota Solo. Teknologi Bendung Karet di Solo dilengkapi dengan gate panel yang terbuat dari baja dengan ketebalan 16 mm dan tinggi 305 cm saat pembendungan dan 32 cm saat kondisi flat. Saat musim kemarau, bendung akan ditutup untuk menahan aliran air sungai dengan daya tampung sebesar 1 juta m3 dan panjang 1,5 km.

Sementara pada musim penghujan akan dibuka dengan kapasitas pengaliran sebesar 1.048 m3/detik, atau lebih besar dari debit awal 390 m3/detik. Kehadiran bendung ini diharapkan dapat mengurangi risiko banjir seluas kurang lebih 110 hektar di Kecamatan Banjarsari dan kurang lebih 80 hektare di Kecamatan Pasar Kliwon dan Laweyan. (ing)