Sikap Kami: Selamatkan Anak dari Corona

Sikap Kami: Selamatkan Anak dari Corona

LANGKAH Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar rapat koordinasi penanganan dan pencegahan corona dengan kepala Dinas Pendidikan se-Jawa Barat patut diapresiasi. Kalau perlu, harus ada langkah ekstrem menghindarkan anak-anak dan remaja dari ancaman virus ini.

Panik? Tentu saja tidak. Kita waspada, mengawal generasi-generasi masa depan ini dari paparan virus Covid-19 itu. Di tengah berjangkitnya virus, dengan tingkat kepedulian yang rendah dari anak-anak usia sekolah, corona menghadirkan ancaman sendiri.

Jangan termakan isu tak benar bahwa virus tersebut lebih membidik orang berusia baya. Faktanya, dari 13 orang positif terinfeksi virus corona di Indonesia, dua di antaranya adalah di bawah umur; 16 dan 17 tahun. Artinya, siapapun, berapapun usianya, risiko itu tetap ada.

Kenapa kita anggap rakor itu menjadi bagian penting? Pertama tentu untuk menumbuhkan perhatian anak-anak sekolah tentang ancaman virus corona. Mereka harus peduli dengan kesehatannya. Bukan lagi generasi yang abai terhadap kesehatan di tengah ancaman virus ini.

Keduanya, faktanya, anak-anak seusia mereka yang sering melakukan aksi kumpul-kumpul yang manfaatnya tak terlalu kuat. Mereka generasi anak nongkrong yang dalam kondisi seperti ini, potensi jadi sasaran persebaran virus.

Kita bahkan berpendapat, sekolah-sekolah lebih baik mengurangi aktivitasnya, terutama aktivitas ekstrakurikuler. Terlebih lagi, kegiatan ekstrakurikuler termasuk salah satu pendidikan yang kontrol gurunya tak terlalu ketat.

Yang terakhir, tentu saja karena tak lama lagi, sebagian di antara mereka akan lulus dari sekolah masing-masing. Biasanya, ada agenda perpisahan yang pada era sekarang lebih sering berlangsung di luar sekolahan. Bahkan tak jarang yang keluar kota.

Perpisahan di luar ruang sekolah, apalagi di luar kota, kita sarankan untuk dilarang sama sekali. Sebab, selain memberatkan bagi sebagian orang tua, yang lebih-lebih lagi adalah karena acara semacam itu kerap berlangsung secara kebablasan. Di tengah kebablasan itu, biasanya kepedulian hilang. Saat itulah, mereka akan menjadi sasaran bidikan virus tersebut.

Kita, khusus untuk soal yang terakhir ini, berharap otoritas pendidikan, mulai dari Dinas Pendidikan Jawa Barat hingga Dinas Pendidikan kabupaten/kota, melarang sama sekali. (*)