Pengamat: Parliamentary Threshold Naik Permudah Konsolidasi Politik

Pengamat: Parliamentary Threshold Naik Permudah Konsolidasi Politik
Ilustrasi (Antara)

INILAH, Pangkalpinang - Pengamat politik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ibrahim menilai wacana ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) naik menjadi 7 persen akan mendorong kedewasaan dalam membangun komunikasi politik di antara elite politik menjelang Pemilu 2024.

"Saya kira wacana menaikkan PT menjadi 7 persen sangat menarik karena justru bergema sebagai pemanasan politik bagi kalangan partai politik menuju pertarungan 2024," kata Ibrahim yang juga selaku dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung di Pangkalpinang, Rabu.

Menurut dia, angka 7 persen yang diusulkan oleh beberapa parpol ini juga menjadi sebuah tantangan bagi parpol-parpol kecil untuk lebih survive.

Jika batas kenaikan ini disetujui, lanjut dia, banyak parpol yang akan tereliminasi. Mungkin tinggal lima sampai enam parpol saja.

"Dengan jumlah parpol yang berkurang, konsentrasi kekuatan sebenarnya akan lebih stabil. Parpol akan terpaksa berfusi dengan parpol yang masuk PT," ujarnya.

Sebenarnya gagasan untuk mengurangi jumlah parpol sudah lama bergaung. Keinginan untuk mengurangi ini, kata dia, berangkat dari kenyataan bahwa distribusi dan variasi parpol membawa pada kerumitan konsolidasi.

"Kerumitan ini tidak hanya terjadi pada level pengambilan keputusan politik di jajaran elite, tetapi juga meluas pada fragmentasi masyarakat akar rumput. Sebaliknya, makin sedikit jumlahnya, konsolidasi akan lebih mudah dilakukan karena variasi warna akan lebih berkurang," katanya.

Ia mengkhawatirkan tingginya PT akan bergeser pada dinamisnya pertumbuhan parpol baru di setiap menjelang pemilu.

Parpol bukan tidak mungkin justru akan menguji peruntungan dengan selalu mendaftar pada setiap perhelatan demokrasi. Hal ini sebenarnya akan sama riuhnya dengan banyaknya jumlah parpol.

"PT tinggi akan menjadi saluran seleksi alam bagi parpol untuk tetap berada di papan tengah. Toh, jumlah parpol tidak bertalian dengan kualitas berdemokrasi. Lagi pula, sedikitnya jumlah parpol justru akan mendorong kedewasaan dalam membangun komunikasi politik di antara elite," katanya. (antara)