Sikap Kami: Selamatkan Garut

Sikap Kami: Selamatkan Garut

BAGAIMANAKAH hendak menandai Garut? Dia disebut dengan simbol kota yang baik-baik. Kota santri, kota agamis, kota takwa. Itu dalam tataran idealnya.

Tapi, bagi masyarakat kebanyakan, tak sulit menandai Garut: Kota Dodol, Kota Barbershop, dan –yang kurang mengenakkan—kota dimana terjadi dekadensi moral yang cukup mengkhawatirkan.

Ini fakta yang sulit dipungkiri. Jika sekarang orang menyebut Garut, maka asosiasinya mungkin langsung pada titik di mana pernah terjadi –maaf—skandal bercinta lebih dari dua orang, LGBT yang meruyak, dan perselingkuhan yang menjadi-jadi.

Tentu, bagi kita –juga sebagian masyarakat Garut—ini kondisi yang menyedihkan. Tapi, fakta informasinya yang beredar di publik memang seperti itu. Masyarakat Garut kian permisif terhadap hal-hal yang kian menekan moralitas.

Jika fakta itu belum cukup, maka apa yang terjadi pada Garut Culture Fest akhir pekan lalu, bisa pula menambah bukti. Di acara kebudayaan, diselenggarakan dalam rangkaian HUT Kabupaten Garut, ada acara yang menurut masyarakat setempat berupa tarian perempuan berpakaian minim. Menjurus erotis.

Jika petunjukan resmi yang tak menunjukkan adab yang tinggi seperti itu, apatah lagi di ruang-ruang yang lebih privat atau semi-privat. Patut jika orang berasumsi lebih rendah lagi.

Apa yang terjadi dengan Garut? Apakah karena dia termasuk daerah dengan IPM rendah di Jawa Barat? Sehingga dengan IPM rendah, warganya pun jadi modah tergoda oleh kultur-kultur rendahan yang kita yakini bukan berasal dari Garut?

Apapun, ini menjadi tugas berat bagi kepemimpinan Rudi Gunawan-Helmi Budiman untuk mengembalikan Garut ke trek yang sesungguhnya. Kota Takwa, Kota Agamis, Kota Santri.

Pendidikan menjadi hal yang utama. Penguatan peran pesantren-pesantren yang jumlahnya berjibun di Garut menjadi sebuah keniscayaan. Peningkatan indeks pendidikan menjadi keharusan. Pendidikanlah salah satu cara utama yang membuat manusia kembali kepada moralitas utamanya. Sebab, pendidikan yang mengajarkan seseorang menggunakan akal dan budi.

Melihat Garut dalam kondisi kekinian, kita patut mengurut dada. Kita percayakan kepada Rudi-Helmi, juga pemangku kepentingan terkait, untuk mengembalikan Garut di trek yang sesungguhnya. (*)