Dampak Corona, Petani di Pangalengan Jual Sayuran via Instagram dan WhatsApp

Dampak Corona, Petani di Pangalengan Jual Sayuran via Instagram dan WhatsApp
(Istimewa)

INILAH, Bandung- Para petani sayuran di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung terdampak wabah virus corona. Pasar tradisional dan pusat perbelanjaan yang sepi dan ditutup menyebabkan para petani ini tak dapat menjual sayuran hasil panen mereka. 

Ade salah seorang petani sayuran warga Kampung/Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan mengatakan, sejak seminggu terakhir ini sebagian besar petani di Pangalengan tak dapat menjual sayuran hasil panen mereka. Karena betbagai pasar yang biasanya dipasok oleh mereka, sekarang ini telah sepi bahkan ada beberapa diantaranya yang tutup. Alhasil, ratusan ton hasil pertanian mereka seperti sawi, kol dan tomat nyaris tak bisa diserap pasar.

"Biasanya kan kami jual ke Pasar Induk Caringin, ke Bekasi dan juga beberapa pasar lainnya di Bandung Raya dan Jawa Barat. Namun karena kebanyakan pasarnya juga sepi yah hasil panen kami enggak bisa sepenuhnya diserap oleh pasar. Ada penurunan lebih dari 50 persen yang enggak bisa dikirim ke pasarnya. Biasanya dalam sehari itu saya saja kirim 4 hingga 5 ton, nah sejak seminggu ini sehari paling cuma 1,5 ton saja," kata Ade melaui ponselnya, Kamis, (26/3/2020).

Dikatakan Ade, saat ini harga jual sayuran seperti sawi dan tomat memang lumayan bagus. Yakni tembus Rp 5000 perkilogram, padahal biasanya hanya sekitar Rp 3000 perkilogram. Namun sayangnya, meskipun harga bagus, tapi serapan pasar sangat rendah. Sehingga hasil panen yang melimpah ini terancam busuk dan merugikan mereka.

"Sawi dan tomat itu paling lama tahan dua hari, kalau lebih dari itu busuk. Kalau kentang sih masih mendingan soalnya bisa tahan lebih dari seminggu," ujarnya. 

Ade melanjutkan, untuk mengurangi kerugian, sejak kemarin ia mencoba memasarkan langsung hasil panennya ke konsumen melalui media sosial Istagram dan WhatsApp. Hasilnya diluar dugaan, sejak kemarin ia kebanjiran lebih dari 3000 pesanan yang datang tak hanya dari wilayah Bandung Raya saja, melainkan ada juga dari Jakarta. Untuk penjualan langsung ini ia hanya menambah ongkos kirim sebesar Rp 5000 per setiap pesanan.

"Tadinya saya berpikir bagaimana menyelamatkan sayuran ini. Saya coba jual lewat media sosial, eh ternyata responnya bagus, mungkin karena masyarakat banyak diam di rumah yah. Pesanan sampai 3000 itu tidak bisa saya layani semua, soalnya saya personil cuma ada 4 orang. Begitu juga pesanan ke Jakarta enggak bisa saya kirim karena akomodasinya terlalu tinggi yah," katanya. 

Ade menejelaskan, di Kecamatan Pangalengan terdapat lebih dari 1000 orang petani sayuran dengan luas kebun kecil dan menengah. Jumlah itu belum ditambah dengan petani skala besar. Sehingga wajar jika selama ini sayuran dari Pangalengan ini banyak tersebar diberbagai pasar di Jawa Barat dan Jakarta. Adanya wabah virus corona tentu saja sangat merugikan mereka.

"Semoga saja wabah ini segera berakhir. Karena kami para petani terkena imbasnya, banyak orang yang bergantung dari sektor pertanian ini. Kalau terus terusan bisa benar benar lumpuh perekonomian rakyat," ujarnya. (rd dani r nugraha).