Dear Parpol-parpol, Lagi Pandemi Corona Nih!

Dear Parpol-parpol, Lagi Pandemi Corona Nih!
Ilustrasi/Antara Foto

MASYARAKAT mengalami kepanikan luar biasa disebabkan adanya Covid-19 yang dinyatakan pandemi. Bagaimana peran partai politik ikut menanganinya?

Korban pandemi virus yang perkembangannya makin mengganas ini sampai dengan Jumat (27/3), sudah merambah ke 199 negara dengan jumlah korban terkonfirmasi total 537.606 kasus. Dari total kasus tersebut, jumlah kematian mencapai 24.136 pasien, sedangkan 124.451 pasien telah dinyatakan sembuh.

Di Indonesia, jumlah kasus positif virus corona hingga Jumat (27/3) mencapai 1.046 orang, 87 orang meninggal dunia, dan 46 orang sembuh. Jumlah pasien kasus corona terus bertambah dari hari ke hari.

Pemerintah sudah menetapkan pandemi virus corona sebagai bencana nasional nonalam. Penetapan status kebencanaan itu seiring dengan bertambahnya jumlah pasien positif virus corona di Indonesia yang makin bertambah dari hari ke hari.

Sebagai bencana nonalam, diperlukan kesadaran dari semua pihak untuk ambil peran dalam menangani bencana virus corona ini. Pemerintah, tenaga medis, TNI/Polri, bahkan media massa juga memainkan perannya untuk ikut bersama mencegah penyebaran corona.

Lalu, bagaimana peran partai politik? Penulis membayangkan seandainya saat ini tidak ada pandemi corona, pada tahun ini adalah tahun politik, yang akan diselenggarakan pilkada serentak di 270 daerah pemilihan.

Seandainya tidak ada pandemi virus corona, kita memasuki masa kampanye yang ingar-bingar penuh dengan perang poster antarkandidat. Tentu tidak hanya perang poster, kita masih ingat pada saat musim kampanye, ada banyak yang gratis tetapi bukan bantuan, melainkan dari para kandidat yang butuh dukungan politik.

Namun, dalam kondisi genting seperti sekarang ini, ketika rakyat butuh orang-orang yang dahulunya pengobral janji kesejahteraan, semuanya hilang lenyap entah ke mana.

Terlepas dari persoalan politisasi, mestinya ada sikap kepedulian kepada rakyat yang sedang berupaya agar selamat dari kengerian pandemi virus corona.

Pada saat rakyat gamang karena kelangkaan masker dan cairan pembersih tangan, politikus sibuk bahkan mencari kesalahan para pejabat, menteri, bahkan Presiden, hingga perang tagar di Twitter.

Belum lagi, akan ada kondisi lebih buruk lagi setelah jumlah korban pasien positif virus corona dari hari ke hari kian meningkat tajam hingga mencapai ribuan orang.

Saat rakyat butuh masker, tidak mungkin bergantung penuh pada pemerintah yang supersibuk mencegah dan menangani penyebaran virus corona. Pada situasi seperti ini mestinya ada politikus yang sedikit peduli menyiapkan alat pelindung diri, ikut meringankan beban penderitaan rakyat.

Setidaknya mereka mau turun gunung menenangkan rakyat yang panik dan ketakutan menghadapi pandemi corona yang kian mengganas ini.

Bahkan, sampai saat ini hampir sulit ditemukan parpol yang membagi-bagikan masker dan cairan pembersih tangan. Setidaknya meracik cairan pembersih tangan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat. Namun apa daya, beginilah wajah politik kita yang sebenarnya sangat berbeda ketika kampanye atau musim politik.

Dalam kondisi serba tidak karuan, kekhawatiran, dan bahkan kepanikan di mana-mana, arus kritik penanganan dan pencegahan virus makin kuat, justru organisasi yang notabene dekat dengan rakyat tidak menunjukkan eksistensinya.

Jangankan bagi-bagi masker, membantu rakyat agar tenang tampak sulit didapatkan. Lain cerita saat masa kampanye, apa pun bisa diberikan selama dipandang sebagai sarana memikat hati rakyat untuk mendulang dukungan.

Lebih ironis lagi, saat genting begini, justru ada tiga menteri yang pantas dikritik karena mengurus parpol saat jam kerja. Ironisnya, menteri-menteri ini malah sibuk mengurus kepentingan parpol di tengah pandemi corona.

Ketiga menteri yang dimaksud adalah Menkominfo, Menko Perekonomian, dan Menteri Perindustrian. Ketiganya terlihat menggelar pertemuan safari politik di Kantor DPP Partai Golkar, Senin (9/3).

Dari definisi dan tujuan serta fungsi dari partai politik, dapat dirumuskan secara umum adalah sebagai mediator antara rakyat dan pemerintah. Begitu pula sebaliknya.

Secara garis besar, partai politik merupakan organisasi yang diciptakan untuk membantu mewujudkan visi pembangunan pada segmen demokrasi dan politik, yang tujuan akhir adalah demi kesejahteraan rakyat.

Di sinilah dituntut adanya tanggung jawab moral parpol kepada rakyat untuk memastikan adil dan makmur benar-benar terwujud. Entah melalui jalur parlemen atau nonparlemen. (suryanto/ing)