Bersikap Adil Menghadapi Corona

Bersikap Adil Menghadapi Corona
Adi Permana Sidik, Dosen Tetap Ilmu Komunikasi Fisip dan Kabag LPPM USB YPKP. (agus sn)

Sepertinya dalam satu bulan belakangan ini, tidak ada topik yang paling banyak dan sering dibicarakan oleh masyarakat baik di dunia global maupun di Indonesia selain virus corona atau disebut juga Covid-19.

Baik dibicarakan di media massa maupun media sosial. Baik oleh kalangan politisi, akademisi, mahasiswa, ibu rumah tangga, ulama, dan lain sebagainya. Virus corona ini sendiri ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi global. 

Merespons itu, pemerintah selanjutnya mengeluarkan kebijakan agar masyarakat melakukan pembatasan sosial (social distancing) atau pembatasan fisik (physical distancing), dan tidak menghadiri kegiatan-kegiatannya yang dihadiri massa yang banyak.

Lembaga-lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mengumpulkan banyak massa seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kemudian membuat kebijakan agar kegiatan pembelajaran langsung tatap muka diganti menjadi pembelajaran daring (online), mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Para dosen, guru, dan tenaga kependidikan juga diminta untuk kerja dari rumah atau work from home (WFH). Beberapa Lembaga dan instansi milik pemerintah maupun swasta juga mengeluarkan kebijakan sejenis, dengan harapan penyebaran corona ini bisa dihentikan.

Fatwa Ibadah saat Wabah Corona

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan dan tata cara pelaksanaan ibadah dalam kondisi darurat corona. Salah satu bunyi fatwanya adalah, “Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan Salat Jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan Salat Zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.”

Terkait pelaksanaan ibadah ini, khususnya terkait Salat Fardu dan salat berjamaah di masjid, ada pro dan kontra dari kalangan umat Islam. Bagi kalangan yang pro, mereka sudah tidak membuka masjidnya untuk Salat Fardu dan Jumat berjamaah.

Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya agar penyebaran virus corona dapat terhenti. Sementara bagi kalangan yang kontra mereka tetap melaksanakan Salat Fardu dan Jumat berjamaah seperti biasa. Walaupun sebagiannya melakukannya dengan berbagai syarat, seperti wajib membawa sajadah sendiri, sebelum masuk harus menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker, dan disemprot menggunakan cairan disinfektan. Kalangan kontra ini menganggap bahwa terkait adanya wabah corona, jangan sampai membuat aktivitas memakmurkan masjid ini menjadi terhenti. 

Tampaknya terkait pelaksanaan salat berjamaah di masjid ini yang melahirkan perbedaan cukup tajam di kalangan umat Islam. Bahkan dapat ditemukan di media sosial, terkadang kedua pihak yang kontra itu, saling mengejek, merendahkan, dan merasa yang paling benar atas pendapatnya. Seperti kata-kata semisal, “Yang harus ditakuti itu hanyalah Allah bukan virus corona”. “Jangan biarkan masjid menjadi kosong gara-gara corona”, atau yang lebih miris adalah cercaan terhadap ulama-ulama, dan kalimat-kalimat yang sejenis lainnya.

Tentu saja, kejadian semacam itu tidak semestinya terjadi. Masing-masing pendapat memiliki dalil atau argumentasinya yang sama kuatnya. Dalam berbagai hal, memang kerap kali terjadi dua kutub pro-kontra, yang sangat ekstrem. Jika sudah demikian bagaimana sesungguhnya kita harus bersikap, khususnya bagi kaum Muslim dalam konteks wabah virus corona ini?

Adil dalam Bersikap

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 143, Allah menyebut kaum Muslimin sebagai Ummatan Washatan (ummat yang pertengahan). Ada ulama yang menafsirkan Ummatan Washatan dengan Khoiru Ummat (umat yang terbaik) yang terdapat dalam Surat Ali-Imron ayat 110. 

Umat yang terbaik di sini selanjutnya diartikan sebagai umat yang adil. Adil dalam berbagai keterangan diartikan sebagai sebuah sikap yang menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Jika kita kaitkan dengan soal sikap menghadapi virus corona ini, maka kita harus mampu menempat diri kita sesuai dengan posisi kita sebagai apa dan siapa. Singkatnya, kita harus bisa menempatkan diri, jika kita memang bukan seorang yang ahli atau mempunyai otoritas keilmuan untuk menyampaikan suatu pendapat tentang corona ini, masa sebaiknya kita berdiam diri.

Termasuk, menyampaikan ‘fatwa-fatwa’ atau sikap yang terkait dengan pelaksanaan ibadah maghdoh (ritual). Apalagi di era sekarang, yang disebut sebagai era pasca truth, semua orang merasa benar dengan apa yang disampaikannya, khususnya di media sosial, maka sikap adil ini menjadi sangat mendesak untuk kita terapkan.

Dalam kondisi saat ini, biarkan orang-orang yang memiliki otoritas keilmuan mulai dari para alim ulama, pakar-pakar kesehatan, para dokter, peneliti, serta ilmuwan untuk melakukan tugasnya dengan baik. Berikan keleluasaan kepada mereka untuk mengerahkan segala daya upaya dalam menuntaskan ujian yang sangat berat dari Allah Swt ini.

Kita berusaha untuk berprasangka baik, berlapang dada, dan yang paling penting juga adalah kita semua harus berusaha bisa menahan egoisme kita. Entah itu ego keilmuan, ego almamater, ego organisasi, pemikiran, ego partai, dan ego mazhab serta ego yang paling berbahaya adalah ego merasa pendapatnya paling benar dari yang lain.

Sikap adil ini tentu bukan sesuatu yang mudah dilaksanakan. Bersikap adil itu memang sulit untuk dilakukan. Namun jika kita sedikit untuk merenung lebih mendalam lagi, atau setidaknya kita mencoba berempati terhadap para petugas yang setiap hari harus menangani pasien positif corona, berempati terhadap keluarga yang harus kehilangan orang tuanya, anaknya, suami atau istrinya disebabkan karena menangani pasien Covid-19, atau yang meninggal akibat positif terkena Covid-19.

Dengan melakukan itu, setidaknya kita berpikir berkali-kali jika kita tetap egois dan memaksakan diri dalam mengambil sikap yang kemudian bertentangan dengan keputusan pihak-pihak yang memiliki otoritas. Kita sudah diingatkan tentang kaidah ‘menolak kemudharatan lebih diutamakan dibanding dengan mengambil mashalat.’ Kaidah tersebut sangat relevan jika kita kita melihat fakta bahwa korban dari virus corona ini dari ke hari makin banyak, alih-alih menurun.

Kita semua yakin, tidak ada peristiwa di dunia ini, yang bukan dari Allah, termasuk wabah virus Corona ini juga adalah datang dari Allah. Seorang Muslim juga sudah diajarkan bagaimana kita bersikap saat menghadapi ujian dari Allah.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 156-157: “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-156).

Selain diminta bersabar, Allah juga meminta kepada untuk berikhtiar berusaha agar terbebas dari ujian tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran surat Ar’rad ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Setelah berikhtiar kita diperintahkan untuk tidak atas usaha kita, justru kita diperintahkan untuk bertawakal atau menyerahkan semua urusan kita kepada Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran surat Ali-Imron ayat 159: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Terakhir, yang tidak boleh juga kita tinggalkan dan lupakan adalah berdoa kepada Allah. Mari kita berdoa kepada dengan hati yang ikhlas, tulus, dan sikap merendahkan diri kepada Allah, agar semua ujian dan cobaan yang menimpa negeri ini termasuk wabah virus corona cepat selesai, sehingga kita bisa beraktivitas secara normal kembali, dan dapat menyambut bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri dengan penuh suka cita. Wallahu’alam.

Oleh: Adi Permana Sidik

Penulis adalah Dosen Tetap Ilmu Komunikasi Fisip dan Kabag LPPM USB YPKP.