(Sikap Kami) Please, Nggak Usah Mudik!

(Sikap Kami) Please, Nggak Usah Mudik!
Ilustrasi/Antara Foto

SITUASI memang lagi buruk karena wabah virus corona. Tapi, tidak mesti dengan demikian kita gelap mata. Bersusah-susah sementara sampai wabah ini reda, adalah sikap yang lebih baik.

Beragam kebijakan pemerintah memang tak mungkin memacu ekonomi. Mulai kerja dari rumah, sekolah dari rumah, tempat wisata ditutup, mal-mal dibatasi jam operasional, bahkan tutup, hotel-hotel bernasib serupa, menghadirkan kesulitan ekonomi bagi banyak warga, terutama mereka yang hidup dari sektor nonformal.

Kita bisa memahami, warga-warga yang hidup dari sektor tersebut, kehilangan harapan. Penghasilan jauh menurun dari biasanya. Pedagang dan pelaku UMKM jadi serba sulit. Padahal, di sektor itulah banyak saudara-saudara kita menggantungkan hidup,

Paham juga kita jika mereka kemudian mengambil keputusan pulang kampung; mudik lebih awal. Tidak bisa kita menyalahkan mereka sepenuhnya.

Tapi, tindakan mudik lebih awal itu, perlu juga kita ingatkan, tidak akan menyelamatkan saudara-saudara kita tersebut sepenuhnya. Sebab, pergerakan orang-orang, apalagi secara masif, terutama pula jika berasal dari zona merah corona, justru bisa menghadirkan malapetaka.

Malapetaka bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga keluarga, tetangga, dan warga di kampung halaman. Bisa saja, proses mudik tersebut bukan hanya mengantarkan kesulitan bekerja di wilayah tertentu ke kampung halaman, tapi juga membawa virus yang meresahkan itu kepada keluarga, tetangga, dan warga. Bisa saja dari diri sendiri, bisa pula sebagai pembawa virus saat melakukan perpiindahan.

Itu sebabnya, kita mendukung langkah pemerintah agar warga tidak mudik dulu. Dalam konteks Jabar, bisa saja dari zona merah ke wilayah Jabar, tapi bisa pula dari zona merah di Jabar ke wilayah-wilayah lainnya di Tanah Air.

Wabah virus corona adalah persoalan kita bersama-sama. Karena itu, penanganannya pun semestinya bersama-sama. Tidak mudik saat ini, adalah salah satu peran warga agar virus ini tak kian menggerogoti kehidupan kita.

Buat kita, imbauan ini bahkan berlaku pada tradisi mudik Idul Fitri, karena menurut perhitungan kita sampai saat itu pun wabah ini masih menghantui kita. Percayalah, tak mudik dan tak pulang kampung, pasti takkan memutuskan silaturahmi dengan keluarga. Tapi, mudik atau pulang kampung dalam suasana seperti ini, pasti akan memunculkan kerisauan di kalangan keluarga, tetangga, dan warga sekitar kita di kampung halaman.

Karena itu, berhentilah “bermigrasi” ke kampung halaman. Itu jika kita sayang dengan keluarga, tetangga, warga sekitar, dan kampung halaman kita. (*)