Bau Sampah Ganggu Aktivitas Belajar SDN Bojongasih 2

Bau Sampah Ganggu Aktivitas Belajar SDN Bojongasih 2
TPS yang mengganggu aktivitas belajar SDN Bojongasih 2
INILAH,Bandung- Warga Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bojongasih 2 di Kampung Bojongasih Desa/Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung mengeluhkan keberadaan Tempat Pembuangan Sampah(TPS) liar di samping sekolah mereka. 
 
Bau tak sedap kerap mengganggu para penghuni sekolah dan warga sekitar. "Kami sangat terganggu, kegiatan belajar mengajar jadi enggak fokus karena bau menyengat. Yah kalau bisa jangan disini kasihan anak anak," kata salah seorang guru SDN Bojongasih 2 Heni Sukaesih, Rabu (16/1).
 
Apalagi, menurut Heni,  sudah beberapa pekan ini sampah tersebut tak kunjung diangkut petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung. Sampah sudah menggunung tepat di samping gedung sekolah.
 
"Nah saat banjir kemarin yang sampai 3 meter itu, sampahnya kebawa banjir sebagian. Mengenai keberatan adanya TPS liar disamping sekolah kami itu sudah dilaporkan ke pak Kades,"ujarnya. 
 
Menurut Heni keberadaan TPS itu sudah lumayan lama sebagai tempat pembuangan sampah warga RW 14. Namun keberadaan tumpukan sampah tersebut juga diprotes warga karena mulai mengganggu akibat tidak kunjung diangkut oleh Petugas Kebersihan DLH. 
 
Yadi Supriadi (38)  salah seorang warga RW 14 mengatakan TPS itu dibuat pihak RW. Alasannya, karena warga setempat tidak memiliki TPS seperti warga RW lainnya. TPS tersebut dibuat sekitar 3 bulan lalu di atas lahan kosong disamping sekolah.
 
"TPS ini dibuat karena warga RW 14 enggak punya tempat membuang sampah. Kalau warga RW 03, 04, dan 05 sudah ada (TPS), di bantaran sungai Citarum, biasanya sampah dibakar," katanya.
 
Apalagi sudah dua pekan terakhir ini tumpukan sampah dibiarkan tak diangkut oleh petugas kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung dengan alasan kurangnya armada pengangkut sampah. 
 
Akibatnya sampah tersebut menumpuk sehingga mengganggu pemandangan dan mulai tercium bau tak sedap.  "Kami sudah menghubungi dinas. Tapi alasannya kurangnya armada pengangkut sampah terus," ujarnya. 
 
Kondisi tersebut diperparah dengan kerap terjadinya banjir di kawasan tersebut hingga 2 meter. Akibatnya sampah kerap terbawa banjir sehingga saat banjir sudah surut sampah-sampah tersebut berserakan. 
 
"Padahal Desa Dayeuhkolot itu sudah memiliki bank sampah, bangunannya (kantor) juga sudah ada. Tapi selama ini tidak berjalan sehingga warga masih membuang sampah sembarangan," katanya.
 
Yadi berharap pemerintah daerah bisa membangun TPS resmi untuk warga RW 14 di lokasi yang tepat. Tidak di tengah permukiman warga yang berdekatan dengan sekolah.