Serangan Hama Ulat Grayak Tak Pengaruhi Target Produksi Jagung di Garut

Serangan Hama Ulat Grayak Tak Pengaruhi Target Produksi Jagung di Garut
foto: Zainulmukhtar

INILAH, Garut - Kendati sempat terganggu dengan merebaknya serangan hama ulat grayak terhadap tanaman jagung, aparat Pemkab Garut berhasil mengatasinya. Bahkan, dari lahan yang terkena serangan sekitar 40% itu produksinya tak meleset jauh dari target.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Beni Yoga Santika, menyebutkan pada awal masa tanam lalu sekitar 40% areal tanaman jagung di Garut rusak diserang hama ulat grayak. Namun, dengan Gerakan Besar Penanggulangan Hama ulat Grayak bersama masyarakat selama dua minggu di semua daerah sentra tanaman jagung, persoalan tersebut cepat teratasi. Sehingga kerusakan tak meluas.

"Kalau dihitung dengan hasil panennya sekarang, serangan ulat grayak itu nyaris tak berpengaruh terhadap target produksi jagung kita. Bahkan kalau dikaitkan dengan kondisi darurat Covid-19 saat ini, kondisi pangan pokok kita khususnya jagung, Insya Alloh aman. Begitu pun dengan produksi beras kita, sampai Idul Fitri nanti relatif aman," kata Beni didampingi Kasi Serelia Bidang Tanaman Pangan Endang Junaedi, Selasa (31/3/2020).

Beni menuturkan, produksi jagung berupa pipilan kering pada Maret 2020 saja mencapai sebanyak 128.275 ton dari lahan tanaman jagung seluas 18.325 hektare tersebar di 41 kecamatan. Sedangkan produksi pada April 2020 diperkirakan mencapai sebanyak 37.191 ton dari lahan seluas 5.313 hektare tersebar di 31 kecamatan.

Tak hanya itu, dia menyebutkan petani juga akan mendapatkan keuntungan cukup dari hasil penjualan jagungnya. Kini, komoditas jagung itu dibanderol Rp3.500-Rp4.000 per kilogram di tingkat petani.

"Untuk pemasaran jagung, kita juga sudah memfasilitasi kemitraan antara perusahaan dengan petani di wilayah Pakenjeng dengan target produksi 2.000-3.000 ton seharga Rp3.500-Rp3.800 per kilogram, dan Gapoktan Maju Bersama Banyuresmi sudah bermitra dengan kelompok tani di wilayah Banyuresmi dan kecamatan lain dengan target produksi 2.000-3.000 ton seharga Rp3.500-3.800 per kilogram," ujar Beni. (Zainulmukhtar)