Psikosomatis, Penyakit yang Mempengaruhi Pikiran dan Tubuh

Psikosomatis, Penyakit yang Mempengaruhi Pikiran dan Tubuh
Pipin Sukandi, Dosen Universitas Widyatama Bandung. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Sejak Desember 2019 sampai saat ini hampir seluruh dunia sedang dilanda pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019), yang lebih dikenal dengan sebutan virus corona, tidak terkecuali Indonesia.

Korban jiwa akibat dari virus ini pun tidak sedikit, namun lebih banyak yang sembuh. Berita-berita yang terkena virus corona berseliweran baik di televisi, radio, dan media sosial sehingga membuat khawatir masyarakat.

Pemerintah sendiri tidak tinggal diam, semua pemangku kebijakan bergotong royong untuk mencegah dan membasmi virus corona di negara Indonesia.

Di antaranya, dengan melakukan sosialisasi mengenai perintah mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan sampai diberlakukan social/phsycal distancing atau menjaga jarak dengan sesama, anjuran work from home, dan banyak lagi.

"Tapi tahukah Anda, selain menerapkan anjuran pemerintah tersebut? Ada yang lebih berbahaya dan mempercepat menurunkan imun tubuh, meskipun sedang melihat pemberitaan pada televisi atau melihat media sosial. Hal itu disebut psikosomatis," ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama, Pipin Sukandi, Selasa (1/4/2020).

Apa itu psikosomatis? Pipin mengungkapkan, psikosomatis terdiri dari dua kata yaitu psyche atau pikiran dan soma atau tubuh. Gangguan psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran mempengaruhi tubuh hingga penyakit muncul.

Gangguan psikosomatis ini bermula adanya keluhan fisik yang diakibatkan oleh faktor psikis atau mental seperti rasa cemas/stres. Stres pada umumnya merupakan hal yang biasa terjadi pada setiap manusia, tapi yang salah jika dibiarkan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

"Bagaimana pikiran bisa menjadi penyakit? Orang tua zaman dahulu pernah mengatakan kalau kamu sakit perut dijalan, ambil batu dan kantongin. Otomatis seketika sakit perutnya hilang. Kok bisa? Apakah batu itu sakti? Atau batu itu pengganti obat sakit perut? Bukan batunya yang sakti tetapi pikiran kita yang mempengaruhi alam bawah sadar dengan mengantongi batu maka sakit perutnya hilang," papar Pipin.

Pipin menambahkan, contoh berikutnya yang sering terjadi adalah ketika pihaknya meminta mahasiswa untuk presentasi di hadapan teman-temannya, tidak sedikit yang tiba-tiba langsung keluar keringat dingin, sakit perut, dan tidak mustahil bisa pingsan.

Gejala fisik itu disebabkan adanya aktivitas listrik atau impuls saraf dari otak ke beberapa bagian tubuh. Pikiran yang negatif dapat menyebabkan gangguan pada tubuh dan akhirnya menimbulkan penyakit.

Saat ini berita mengenai virus corona dapat dengan mudah diterima baik dari media sosial ataupun televisi. Baik itu berita benar ataupun hoaks, semua dapat dilihat dan dibaca.

"Akhirnya semakin sering kita melihat berita terutama berita negatif, secara otomatis otak akan merangsang dan menimbulkan berbagai pikiran yang bermacam-macam. Jika tidak dapat mengendalikan pikiran itu maka akan terjadi pada gangguan tubuh. Beberapa ciri akibat dari gangguan psikosomatis yaitu denyut jantung bertambah cepat, nyeri dada, keringat berlebih, pola napas yang cepat, mulut kering, dan sebagainya," ucapnya.

Bagaimana mengatasi psikosomatis?

Gangguan psikosomatis dapat diatasi dengan berbagai cara seperti menyaring informasi yang didapat dari berbagai media sosial, menggunakan teknik pengalihan, menggunakan hipnosis atau hipnoterapi.

Emosi penyebab psikosomatis antara lain memori sakit, konflik diri (tidak bisa memaafkan), menghukum diri, emosi negatif (rasa takut, bersalah, frustrasi, dan lainnya.)

Untuk mengetahui apakah orang tersebut terkena psikosomatis atau tidak, maka terlebih dahulu harus melakukan pemeriksaan ke dokter. Jika tidak ditemukan gangguan yang bersifat fisik, maka besar kemungkinan mengalami gangguan psikosomatis.

Gangguan psikosomatis bisa ditangani dengan mengonsumsi obat-obatan seperti penahan rasa sakit, namun itu bersifat sementara dan dapat muncul kembali. Obat-obatan tersebut hanya menangani gejala saja, selama akar penyebabnya pikiran yang negatif masih ada maka gejala tersebut akan tetap muncul.

Saat ini banyak sekali berita hoaks yang beredar mengenai pandemi virus corona. Jika Anda dalam sehari melihat dan membaca berita negatif tersebut otomatis akan terekam ke dalam alam bawah sadar dan akan menimbulkan ketakutan.

Maka harus diimbangi dengan berita yang positif sehingga masukan untuk alam bawah sadar akan seimbang.

"Jika terus-menerus memasukan berita ke dalam otak yang tidak tahu berita tersebut benar atau tidak itu sama seperti memasukan angin ke dalam balon, yang ditiup terus maka lama-lama akan meledak, begitupun manusia tanpa menyaring berita dapat mengakibatkan stres," papar Pipin.

Hal yang paling gampang dilakukan adalah mengatur penggunaan gadget, menyaring informasi yang masuk, waspada oleh judul provokatif, teliti alamat situs yang menyebarkan berita, cek fakta berita dan foto.

"Jika setelah bekerja setidaknya beristirahat sejenak, melihat dedaunan yang hijau, menghirup segarnya udara. Jika anda berada di ruangan kantor yang jauh ke mana-mana cukup anda duduk santai dan tarik napas melalui hidung embuskan melalui mulut lakukan secara perlahan setidaknya tiga kali untuk memasukan kembali oksigen ke dalam otak," pungkas Pipin. (okky adiana)