Banjir dan Longsor Hantui KBB

Banjir dan Longsor Hantui KBB
Banjir dan Longsor Hantui KBB

INILAH, Ngamprah,-Hujan yang terjadi selama beberapa dengan intensitas tinggi di wilayah Bandung Raya mengakibatkan sejumlah daerah di Kabupaten Bandung Barat terendam banjir. Tak hanya banjir, hujan juga mengakibatkan terjadinya longsor di Tanjakan Cicau, Kampung Babakan, Desa Bojong Koneng Kecamatan Ngamprah, Selasa (31/3/2020).

Hasil pantauan INILAH, banjir bandang kembali menerjang Kampung Pajagalan, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kepala Pelaksana BPBD KBB Duddy Prabowo mengatakan, banjir tersebut terjadi akibat curah hujan yang tinggi sejak siang hingga sore hari. "Saluran atau gorong-gorong dibawah rel kereta api tidak mampu menampung debit air yg besar," kata Duddy saat dihubungi INILAH melalui pesan singkat WhatsApp.

Akibatnya, lanjut Duddy, air kembali meluap sekitar pukul 16.00 WIB, dua jam kemudian air kembali surut ketinggian air  sekitar 30-70 cm. "Saat ini petugas masih melakukan pendataan di beberapa titik desa mekarjaya, cilame, cipeundeuy dan margajaya," ujarnya.

Selain Cipeundeuy, banjir turut menerjang permukiman warga di Kampung Lebaksari, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah.

Selain banjir lanjut Duddy, hujan juga mengakibatkan longsor di Tanjakan Cicau, Kampung Babakan, Desa Bojong Koneng Kecamatan Ngamprah dansempat menutup jalan nasional sekitar satu jam. "Saat jni akses sudah terbuka dengan menggunakan alat berat yang digunakan di proyek KCIC," kata Duddy saat dihubungi INILAH melalui pesan singkat WhatsApp.

Duddy menjelaskan, pembersihan tanah yang menutup badan jalan dilakukan oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung Barat.

"Sekarang arus lalulintas sudah kembali normal untuk kedua arah, baik kendaraan roda dua maupun empat sudah bisa dilalui," jelasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, Usep Sudrajat menuturkan, ketinggian air di wilayah itu sempat mencapai 1 meter.

Menurut Usep, selain faktor hujan deras di wilayah itu, drainase yang ada kurang memadai untuk menampung air. Hal itu yang  menjadi penyebab air dari arah hulu tergenang. "Banjir itu terjadi karena air di wilayah atas sangat besar akibat hujan deras, dan gorong-gorong di proyek KCIC itu sempit, jadi aliran air terbendung," ujarnya pada wartawan.

Dikatakan Usep, wilayah teraebut memang menjadi langganan banjir saat curah hujan tinggi. Maka, lanjut Usep, pembesaran drainase menjadi tindakan yang harus dilakukan agar arus air tidak terbendung. "Mestinya gorong-gorong itu diperbesar karena sudah tidak bisa menampung volume air dari atas," katanya.

Usep menambahkan, saat ini BPBD masih melakukan pendataan mengenai dampak dari banjir itu.
"Untuk yang terdampak saat ini masih assessment dan sedang dikaji secepatnya oleh petugas. Ketinggian air yang sebelumnya mencapai 1 meter kini mulai surut," tandasnya. (agus sn)