Efek Domino Penyebaran Virus Corona

Efek Domino Penyebaran Virus Corona
Pipin Sukandi, Dosen Universitas Widyatama Bandung. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Sebenarnya mudik sudah biasa dilakukan oleh bangsa Indonesia terlebih saat menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri. Tetapi yang menarik saat ini terjadi mudik dikarenakan kondisi work from home (WFH) akibat virus corona.

"Saya menyadari mereka mudik ke kampung halamannya karena mereka sudah dirumahkan sementara oleh perusahaan karena pandemi ini. Tapi, dampak yang ditimbulkan akan luar biasa," ujar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama, Pipin Sukandi, Rabu (1/4/2020).

Pipin Sukandi memahami, kondisi mereka yang mudik tetapi alam sadar dan bawah sadar manusia tidak sinkron. Sebagai contoh alam sadar manusia akan berpikiran untuk apa di sini, toh mereka tidak bekerja. Lebih baik dirinya pulang kampung dan bertemu sanak saudara.

Alam bawah sadar pun menyadari bahaya virus corona ini dapat menularkan keluarga yang didatangi. Tetapi, jika pola pikir manusia lebih mengutamakan ego tidak menutup kemungkinan akan terjadi efek domino baik untuk pihak keluarga ataupun warga sekitar.

Sebaiknya menahan diri sebentar akan jauh lebih baik. Jangan pernah memutuskan sesuatu saat kita sedang emosi.

"Hati-hati dengan pola pikir yang salah akan menyebabkan efek yang bahaya. Sebagai contoh pada zaman dahulu orang tua kita sering memberi tahu ketika sakit perut dijalan maka ambil batu dan kantongin. Maka sakit perutnya akan hilang. Dan ini memang terbukti. Namun ketika pola pikir yang salah bahayanya adalah kita akan mengganti obat sakit perut dengan batu. Padahal yang terjadi adalah pikiran alam bawah sadar kita yang mengalihkan sakit perut ke batu sehingga terjadi sugesti dengan mengantongi batu maka sakit perutnya hilang," papar Pipin Sukandi.

Menurutnya, begitu juga dengan efek mudik ini. Tidak sedikit masyarakat yang sama sekali tidak bergejala tetapi positif corona. Nah, yang seperti ini tidak menutup kemungkinan efek domino akan terjadi dengan menyebarkan virus.

Ketika imun seseorang kuat maka virus corona akan mati dengan sendirinya, tetapi ketika orang yang imunnya kuat dan kembali ke kampung halamannya dan bertemu dengan orang yang imunnya sedang lemah tidak menutup kemungkinan akan tertular. Akibatnya, mereka akan bingung sendiri kenapa bisa tiba-tiba tertular.

Inilah yang dikhawatirkan oleh pemerintah sehingga pemerintah berlomba-lomba untuk segera melakukan rapid test agar segera diketahui siapa yang bergejala siapa yang memang benar-benar sehat.

"Menurut saya, pemerintah pun perlu melakukan tindakan yang tegas terhadap pandemi ini. Karena setiap satu kepala akan mempunyai satu pendapat. Bayangkan jumlah warga negara Indonesia ratusan juta sehingga akan ada ratusan pendapat yang mungkin akan berbeda beda," ucapnya.

Dia berharap, sebaiknya lakukan secara tegas apa yang dilarang untuk masyarakat, apa yang diizinkan dilakukan bagaimana solusinya itu yang diharapkan masyarakat.

"Jika melihat saat ini kesadaran masyarakat pun cukup baik sehingga dengan kerja sama yang baik maka virus corona dapat dimusnahkan," pungkas Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama ini. (okky adiana)