Sikap Kami: Maaf di Dayeuhkolot

Sikap Kami: Maaf di Dayeuhkolot

MELALUI kolom pendek ini, berkali-kali kita pernah kritik Ridwan Kamil karena sering terlambat datang ke lokasi bencana. Kini, setelah Gubernur Jawa Barat itu lebih cepat mendatangi warga yang kesusahan, tentu patut pula kita apresiasi.

Rabu (1/4), Ridwan Kamil mengunjungi sebagian lokasi banjir di wilayah Kabupaten Bandung. Jika kita hitung, hanya selang dua hari setelah banjir terjadi. Di tengah kesibukannya menangani persoalan corona atau Covid-19, datang mengunjungi warga kebanjiran, layak kita dukung.

Kenapa seperti itu? Karena gubernur bukan sekadar kepala pemerintahan. Dia juga seorang kepala daerah. Sebagai kepala daerah, semestinya dia mengerti dan ikut merasakan denyut nadi warganya.

Terlebih, Emil –sapaan akrabnya—datang dengan menunjukkan kerendahan hati. Meminta maaf kepada warga karena program-programnya yang sudah jalan, belum sepenuhnya bisa menanggulangi banjir.

Persoalan ini harus kita lihat secara jernih. Banjir yang terjadi kali ini, lahir dari peristiwa alam yang lebih hebat. Ada hujan yang terjadi secara terus-menerus, terutama di kawasan hulu. Banjir pun tak terhindarkan.

Tapi, bukan berarti pemerintah tidak berbuat untuk mengatasinya. Pembangunan Curug Jompong sudah dilakukan. Tapi, itu saja belum cukup. Maka, menurutnya, jika pembangunan Sodetan Cisungkay dan danau di Andir sudah selesai, persoalan ini akan lebih bisa teratasi.

Itulah yang seharusnya diberikan pemimpin kepada warganya yang sedang kesusahan. Selain bantuan-bantuan, baik bersifat dana maupun natura, yang tak kalah pentingnya adalah harapan dan rasa.

Kedatangan Emil ke Dayeuhkolot, sedikit banyaknya, memberi harapan bagi warga bahwa suatu ketika, keadaan takkan seburuk ini lagi. Kedatangannya juga bisa merasakan apa sesungguhnya yang dirasakan warganya.

Karena kedatangan itu pula, Emil jadi lebih paham apa yang terjadi. Rapid test yang akan dilakukan terhadap warga, salah satunya. Itu perlu dilakukan mengingat saat ini sedang merebak wabah corona.

Pemimpin, pada hakikatnya, bukanlah pihak yang sedang berada di rumah kaca, bukan yang terbang di awang-awang, apalagi terbuai mimpi. Emil sudah melihat realitas sesungguhnya yang terjadi terhadap rakyatnya dan memberikan solusi sekaligus harapan yang diinginkan warga.

Itu saja sudah cukup. Itulah yang diinginkan warga. (*)