Duh, Petugas Medis Rela Bikin Sendiri Pakaian Pelindung Diri

Duh, Petugas Medis Rela Bikin Sendiri Pakaian Pelindung Diri
ilustrasi

INILAH,Bandung- Para petugas kesehatan Puskesmas di Kabupaten Bandung belum dilindungi dengan Alat Perlindungan Diri (APD) yang memadai. Bahkan, ada sebagian tenaga medis yang merogoh kocek sendiri untuk membuat pakaian APD ke penjahit.

 

Berdasarkan pantauan INILAH di beberapa Puskesmas di Kabupaten Bandung, aktivitas berjalan seperti biasanya. Tapi memang ada pembatasan kerumuman orang disetiap ruangan dibatasi per 10 orang. Semua orang yang akan masuk ke dalam ruang pendaftaran juga harus melalui pemeriksaan suhu tubuh dan diberi cairan antiseptik untuk membersihkan tangan. 

 

Tapi sayangnya, ketatnya pemeriksaan terhadap calon pasien yang hendak masuk ke dalam ruangan Puskesmas itu tidak diimbangi dengan kehati hatian para petugas kesehatan yang tengah bertugas.

 

Petugas yang pemeriksa suhu tubuh dan memberikan meberikan cairan antiseptik itu tidak melindungi diri dengan APD yang sesuai standar keselamatan kesehatan. Para petugas yang hari itu menggunakan pakaian batik, hanya menggunakan masker penutup mulut dan hidung, sarung tangan karet dan ada sebagian yang memakai penutup kepala.

 

Salah seorang petugas medis yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, selama bertugas mereka belum menggunakan pakaian APD yang memenuhi standar keselamatan dan kesehatan. Adapun ADP yang digunakan hanya masker penutup mulut, penutup kepala dan sarung tangan karet. Untuk melindungi diri, sebagian diantaranya menggunakan jas hujan dan ada juga yang menjahit sendiri pakaian ADP berbahan kain ke tukang jahit.

 

"ADP yang standar itu katanya untuk fasilitas kesehatan (faskes) dua atau rumah sakit saja. Tapi kemarin ada dikirim lima selain jumlahnya enggak cukup juga  cuma enggak standar. Sehingga kami petugas medis yang langsung berhubungan dengan pasien akhirnya  bikin sendiri ke tukang jahit seharga Rp 130 ribu. Kalau yang bagian pendaftaran atau administrasi enggak pakai, tapi  kemarin mereka pakai jas hujan, masker dan sarung tangan saja," katanya Kamis (2/4/2020).

 

Karena tak dilengkapi APD standar saat melaksanakan tugas sehari hari, kata dia, para petugas kesehatan itu biasanya membawa pakaian ganti. Karena jika pulang ke rumah dengan pakaian yang telah dipakai selama bertugas sangat beresiko.

 

"Yah sebenarnya takut juga sih, karena kami langsung berhadapan dengan banyak orang pada tahap pertama. Kan bisa saja ada pasien yang positif datang untuk berobat ke Puskesmas dulu sebelum ke rumah sakit. Tapi walaupun dengan sekali keterbatasan ini, kami tetap ikhlas melaksanakan kewajiban kami sebagai petugas kesehatan untuk melayani masyarkat," ujarnya.

 

Anggota Satgas Covid 19 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Edi Kusno mengakui jika selama ini ADP yang digunakan di tingkat Puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama, masih banyak yang belum memenuhi standar kesehatan. Kata dia, memang saat ini sangat sulit untuk membeli APD standar kesehatan di pasaran. Meski begitu, peralatan APD yang saat ini dipergunakan oleh para petugas Puskesmas sebenarnya sudah memenuhi standar minimal. Karena yang penting APD yang digunakan bisa menahan atau mencegah seseorang terpapar cipratan (droplet) dari orang lainnya.

 

"Sebenarnya kami sudah berupaya untuk mendapatkan dan memberikan yang standar. Tap karena keadaan yah terpaksa yang minimalis dulu. Apalagi kalau di Puskesmas itu kan yang dihadapi hanya orang dalam pantauan (ODP) saja bukan pasien dalam pantauan (PDP). Tapi kalau di rumah sakit  APD nya sudah lengkap, seperti pakai masker N95 dan lain sebagainya. Jadi karena terbatas, dari jumlah Puskesmas 62 itu baru sebagian yang diberi APD standar itu," kata Edi melalui ponselnya.

 

Selain itu, lanjut Edi, penggunan APD yang lengkap lebih diprioritaskan untuk para petugas medis yang beresiko tinggi. Justru kata dia, jika semua fasilitas kesehatan menerapkan standar APD secara lengkap justu dikhawatirkan menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di  masyarakat.

 

"Yang didahulukan prioritas dulu, justru kalau dipakai semua malah menimbulkam stigma di masyarakat kalau kita pakai lengkap semuanya malah menakutkan masyarakat," katanya.

 

Mengenai pencegahan, lanjut Edi, sebenarnya untuk ditingkat masyarakat sudah cukup dengan melakukan cuci tangan pakai sabun. Kemudian harus displin menghindari kerumunan orang banyak atau psikal distancing.(rd dani r nugraha).