Anak yang Kurang Berbakti

Anak yang Kurang Berbakti
Ilustrasi/Net

PERNAH dalam sebuah pengajian di Trans Studio Bandung, ada seorang ibu bertanya kepada Aa, “Bagaimana cara menyikapi anak yang semakin besar tapi semakin kurang memperhatikan orangtuanya?” Jawaban Aa sederhana, yaitu tidak usah dipusingkan.

 

Saudaraku. Untuk mengurus anak, hal paling mendasar adalah ketika mata kita melihat kepada anak, hati kita harus ingat kepada Allah SWT. Sadari anak sepenuhnya ciptaan, karunia dan amanah dari Allah. Kita, orangtua, membikin sehelai bulu tangan saja tidak mampu. Kita juga tahu kalau tidak semua suami-istri setelah menikah pasti segera memiliki anak. Sebagiannya harus menunggu sekian tahun dan baru diberi anak oleh Allah. Bahkan, ada sebagian yang memang diberi ujian dengan tidak memiliki keturunan. Karena itu, semakin seringlah ingat kepada-Nya.

 

Misalkan anak kita rupawan. Maka perkuat zikir kita, dan jadilah tawadhu’. Jangan sampai saat ada yang berkata, “Anaknya cakep sekali,” malah dijawab, “Yah, sebagaimana orangtuanya.” Padahal justru karena orang melihat orangtuanya kurang rupawan, maka anak itu disanjung “cakep sekali.” Tapi setelah ini saudara jangan tersinggung kalau ada yang menyanjung anak saudara “rupawan sekali.” Tetap kuatkan zikir supaya makin sabar.

 

Demikian, bila seorang anak dianggap ada kekurangan. Apa pun wujud kekurangannya, anak itu tetap ciptaan Allah SWT. Kurang atau cacat itu hanya versi kita (manusia). Kalau berdasar versi kita, setiap anak yang lahir bisa dinilai kurang. Dari cacat secara fisik atau mental, hingga kurang mancung hidungnya dan kurang kuning kulitnya. Tetapi ciptaan Allah tidak ada yang kurang. Seluruhnya sempurna menurut ilmu dan perhitungan-Nya. Mau tidak ada kakinya, tidak ada matanya, dan lain-lain, setiap anak itu pasti sempurna. Tidak ada yang menciptakannya kecuali Kemahasempurnaan Allah. Ia punya rencana sendiri bagi setiap ciptaan-Nya.

 

Nah, kembali pada pertanyaan sang ibu di awal tulisan tadi, ada tiga hal yang bisa diupayakan kalau misalnya anak kita kurang berbakti.

 

Satu, sebagai orangtuanya kita yang bertobat. Boleh jadi anak yang kurang berbakti adalah buah dari dosa kita yang salah mendidik. Misal, melalaikan didikan atau teladan tauhidnya. Bisa jadi juga disebabkan dosa kita selama hamil, melahirkan, maupun membesarkannya sehingga anak yang kurang berbakti itu merupakan teguran dari Allah. Allah pasti tahu kelakuan asli orangtuanya, yang tidak diketahui oleh anak dan istri/suami.

 

Atau, misalkan ketika anak agak nakal, kita bertafakur, “Astaghfirullah, ya Allah, ini persis kelakuan saya waktu dulu, sedih dan malu yang saya rasakan saat ini mungkin dirasakan pula oleh orangtua saya dulu.” Kita ingat kepada orangtua kita sendiri. Atau jangan-jangan bukan hanya sewaktu dulu saja kita pernah membuat mereka sedih atau malu, tapi mungkin sekarang pun semakin mereka sepuh, semakin kita hindari.

 

Banyak hikmahnya kalau anak kurang berbakti, asal kita sebagai orangtuanya yang bertobat. Termasuk misalnya terhadap anak yang masih kecil, lalu tengah malam bangun dan menangis. Dengan rasa lelah mengurusnya itu kita memohon, “Ya Allah, tolong jadikan ini sebagai penggugur dosa saya.”

 

Dua, sebagai orangtuanya kita yang harus memperbaiki diri. Anak yang kurang berbakti bukan tidak harus dinasihati. Namun, bagaimana bisa kita menasehatinya kalau nasihat itu justru lebih sering tidak cocok dengan kelakuan kita sendiri? Allah pasti mengetahui. Misalnya kita berkata kepada anak, “Kamu kalau bicara yang lembut!!” Padahal kita sendiri berteriak. Atau, “Kamu jangan suka marah!!” tapi sambil marah-marah.

 

Sebagaimana dalam menerima karunia seorang anak dari Allah, kita harus bersyukur dengan mendidiknya. Al-Quran menjelaskan kepada kita,“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqmân [31]: 13)

 

Mendidik anak merupakan tugas dan wujud rasa syukur orangtua, dan pelajaran mendasar yang harus kita ajarkan adalah bertauhid kepada Allah SWT. Persoalannya, bagaimana ceritanya kita mendidik anak untuk mengenal Allah, sedang kita sendiri belum mengenal-Nya?

 

Jadi, kita mendidik anak dengan mencontohkan. Karena itu kalau kita mendapati anak kurang berbakti, maka perbaiki diri kita saja sebagai orangtuanya. Jangan sampai kita menuntut anak untuk sopan, tapi kita sendiri tidak sopan. Atau menuntut anak untuk jujur, tapi malah kita sering kali meminta bantuannya untuk berbohong saat datang tetangga menagih panci yang dipinjam setahun lalu. Periksa dan perbaikilah diri kita. Kita menghendaki anak sopan, jujur, dan tidak berbuat maksiat, tapi apa kita sendiri juga sudah sopan, jujur, dan bukan ahli maksiat dalam pandangan Allah?

 

Demikian pula kalau kita merasa kurang diperhatikan oleh anak ketika dia sudah besar dan sibuk dengan kehidupannya. Maka periksa dan perbaiki diri kita. Misalnya, kapan terakhir kali kita bercengkerama hangat dengan kakek dan neneknya (orangtua kita)? Jika orangtua kita sudah meninggal, maka pernahkah kita menziarahi kuburan beliau, atau kapan terakhir kali kita mendoakan keduanya? Allah pasti menyaksikan semua itu.

 

Tiga, atau yang terakhir adalah doakanlah yang bagus untuk anak. Sekarang ini ada bermacam ilmu mengurus anak, seperti ilmu Psikologi Anak, dan sebagainya. Tetapi kalau kita coba ingat zaman dulu, para ibu di kampung-kampung itu lugu-lugu. Mereka mengurus anak tidak pakai ilmu yang macam-macam, melainkan pakai hati. Karena itu berdoa dan minta tolonglah kepada Allah. Misalnya, “Ya Allah, saya hanya orang bodoh yang tidak mengerti ilmu mendidik anak. Ampun, ya Allah.”

 

Orangtua yang berdoa begitu lebih disukai oleh Allah daripada orangtua yang merasa bisa menyalehkan anaknya. Seperti, “Anak yang kurang berbakti itu menurut sistem tatanan neuron, berarti di otaknya sedang terjadi fluktuasi yang berintegritas akibat inflasi milyaran sel serta revolusi hormon-hormon dan elektron.” Akhirnya yang bicara saja pusing sendiri.Tentu saja ini bukan berarti kita tidak boleh belajar ilmu yang rumit-rumit. Tetapi yang harus kita ingat adalah tidak ada yang bisa mengubah sesuatu tanpa izin Allah, dan hanya Dia yang bisa membolak-balik hati.

 

Berdoalah, “Ya Allah, ampunilah saya yang baru berupaya memperbaiki diri. Selama ini saya belum bisa menjadi teladan yang baik untuk anak, kurang bersyukur atas karunia anak yang Engkau berikan, dan sering melalaikan amanah-Mu ini. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati anak selain Engkau, ya Allah. Saya sama sekali tidak kuasa terhadapnya. Ampuni dan tolonglah saya, wahai Yang Maha Menciptakan, Maha Menggenggam lagi Maha Mengetahui.” Di samping kita juga meminta maaf kepada anak karena belum bisa mendidiknya dengan baik.

 

Nah, saudaraku. Ingatlah selalu kepada Allah, Pencipta, Pemilik dan Penguasa segala-galanya. Kalau kita kurang zikir, sudah pasti lelah dan pusing mengurus anak. Misalkan anak sekolah dan tinggal di sebuah kota yang jauh, kalau kurang zikir kita bakal pusing memikirkan kesehatan sampai pergaulannya. Atau, kalau kita kurang ingat bahwa anak adalah ciptaan Allah, sehingga merasa kitalah yang memberinya makan maupun satu-satunya jalan rezeki baginya, maka kita pun pusing membayangkan bagaimana nasib anak seandainya tiba-tiba kita meninggal.

Jadi, perbanyaklah tobat dalam mendidik anak, perbaiki diri kita sebagai orangtua, dan mohonkanlah doa yang bagus untuknya. Akui kekotoran, kesalahan, ketidakberdayaan, dan kebodohan kita sebagai orangtua kepada Allah. Lalu kita berupaya mati-matian menjadi orangtua yang disukai Allah. Yang begitu jauh lebih berharga daripada beragam teori yang membuat kita ujub dan melupakan Allah. Mudah-mudahan setiap kita, para orangtua, diberi hadiah dan titipan anak yang saleh. Amiin.