Warga Jengah Banjir Cileuncang di Pusat Keramaian Majalaya Tak Diperbaiki

Warga Jengah Banjir Cileuncang di Pusat Keramaian Majalaya Tak Diperbaiki
foto: INILAH/Dani Rahmat Nugraha

INILAH,Bandung- Genangan cileuncang di Jalan Raya Tengah  Majalaya Kabupaten Bandung, membuat jengah warga dan pengguna jalan. Banjir cileuncang di sepanjang jalan pusat keramaian Kota Majalaya itu sudah lebih dari dua tahun tak ada perbaikan.

 

Ade Maksum (55) salah seorang warga Majalaya mengaku sudah jengah dan bosan dengan banjir cileuncang di pusat keramaian kota Kecamatan Majalaya itu. Setiap hujan turun seperti musim hujan sekarang ini, genangan cileuncang setinggi kurang lebih 30 sentimeter mengganggu para pengguna jalan.

 

"Kalau hujannya besar seperti malam kemarin genangan air lebih tinggi hingga diatas 50 sentimeter. Kekesalan kami sebagai warga kok itu enggak segera diperbaiki. Padahal itu bisa dikatakan pusat kotanya Majalaya. Semua perbankan, perkantoran, perniagaan dan super market terbesar di Majalaya adanya yah di jalan itu," kata Ade di Majalaya Senin (6/4/2020).

 

Menurut Ade, genangan cileuncang di sepanjang jalan itu terjadi akibat drainase atau solokan yang ada di kiri kanan jalan tak berfungsi sebagaimana mestinya. Selain pendangkalan akibat tumpukan sampah, aliran air juga tertahan di bagian hilir solokan yang posisinya lebih tinggi.

 

Otomatis ketika hujan datang air langsung menggenangi badan jalan hingga berminggu minggu, bahkan bisa terjadi sepanjang musim hujan belum usai.

 

"Kami sebagai masyarakat juga heran, kok sudah bertahun tahun dibiarkan begitu yah. Padahal itu pusat keramaian atau bisa dikatakan etalasenya kota Majalaya yang cukup legendaris dan disebut Kota Dolar. Tapi kalau lihat fasilitas umumnya, baik itu jalan, drainase, pasar dan lainnya kok memprihatinkan dan bikin sedih yah," ujarnya. 

 

Hal senada dikatakan oleh Asep Jalaludin,  (35) salah seorang pengguna jalan yang setiap hari melintas di Jalan Tengah Majalaya. Kata dia, aktivitas masyarakat disepanjang jalan itu cukup padat. Namun sayangnya tidak imbangi dengan pemeliharaan fasilitas publik dengan baik. Sehingga, pusat keramaian kota itu menjadi kumuh dengan genangan cileuncang dan juga kemacetan arus lalu lintas yang terhambat cileuncang.

 

"Setiap hari lewat jalan ini, yah begini saja enggak ada perubahan. Mulai dari Jalan Tengah Majalaya banjir cileuncang kemudian kekumuhan Pasar Majalaya disambung dengan jalan butut di depan RSUD Majalaya di Ebah," kata Asep. 

 

Asep melanjutkan, banjir cileuncang di wilayah Kecamatan Majalaya dan sekitarnya itu bukanlah hal baru bagi mereka. Karena hampir setiap hujan turun, genangan cileuncang hingga banjir setinggi pinggag orang dewasa biasa terjadi. Seperti ada malam kemarin, hujan deras membuat sejumlah jalan menuju Majalaya tak dibisa dilalui karena genangan banjir. Diantaranya di Jalan Raya Cikancung- Majalaya. Genangan air lebih dari 50 sentimeter memutus arus lalu lintas menuju Majalaya dan sekitarnya. 

 

"Sudah biasa banjir disini mah, dulu yang paling sering banjir itu pertigaan BNI Majalaya, sekarang sudah enggak banjir karena Sungai Citarumnya terus dikeruk. Tapi titik titik lainnya di Majalaya dan sekitarmya masih tetap banjir cileuncang setiap hujan turun," katanya. (rd dani r nugraha).