Saban Hari Ruangan Pengungsi di Gedung Inkanas Baleendah Didisinfeksi

Saban Hari Ruangan Pengungsi di Gedung Inkanas Baleendah Didisinfeksi
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Sudah sekitar tiga pekan warga Kampung Cigosol dan Sindang Reret Kelurahan/Kecamatan Baleendah berada di pengungsian di Gedung Inkanas. Berada di pengungsian disaat keadaan darurat wabah virus corona (covid-19), tak membuat mereka khawatir berlebihan. 

Ivan (40) salah seorang warga Kampung Cigosol RT 3 RW 9 Kelurahan Baleendah, mengatakan, saat ini dipengungsian Gedung Inkanas terdapat sekitar 300 an orang pengungsi. Mengungsi disaat terjadi wabah virus corona, tak jauh berbeda dalam keadaan normal. Bedanya, tempat tidur mereka diberi jarak, kemudian semua orang diberi masker untuk dipakai sehari hari. Tak hanya itu saja, ruangan pengungsian di lantai satu dan dua, setiap hari dilakukan penyemprotan dengan cairan disinspektan.

"Yah enggak ada perbedaan yang terlalu besar. Cuma jaga jarak saja, tapi yah karena ada jarak setiap tempat tidur mungkin daya tampung gedung ini yang berkurang. Kalau biasanya kan bisa menampung sampai seribu orang, kalau sekarang paling sekitar 700 an orang saja," kata Ivan di lokasi pengungsian, Senin (6/4/2020).

Dikakatan Ivan, pembatasan jarak sesama pengungsi, rasanya tidak terlalu menjadi masalah. Karena bagi mereka masalah sebenarnya yang tak kunjung enyah dari kehidupan mereka. Apalagi, musim banjir tahun ini sulit diperkiranan. Banjir datang dan cepat surut, kemudian tak lama berselang datang kembali. Keadaan inilah yang membuat repot warga.

"Banjir sekarang itu bikin capek, soalnya cepat surut tapi cepat datang. Jadi kami itu harus mondar mandir dari pengungsian ke rumah dalam waktu yang dekat. Kalau biasanya kan banjir itu surutnya lama bisa sampai tiga bulan baru surut. Mungkin ini dampak dari mulai dioperasikannya Curug Jompong di Kecamatan Margaasih yah," ujarnya.

Ivan melanjutkan, saat ini genangan air di Kampung Cigosol antara 2 meter hingga 4 meter. Sejak empat hari ini air tak kunjung surut, tapi justru semakin besar seiring dengan hujan deras yang terus turun. Karena air yang cepat datang tapi cepat surut, banyak pengungsi yang memilih diam dipengungsian sejak sekitar tiga pekan lamanya.

"Sejak kemarin air besar, saya juga sudah seminggu lebih enggak lihat rumah. Soalnya bosan juga kita sudah pulang ke rumah eh banjirnya datang lagi. Nah kalau sekarang air di rumah saya sudah sampai atap rumah," ujarnya.

Hal senada dikatakan Mardiah (65) warga Kampung Cigosol RT 4 RW 9, ia dan seorang anaknya sudah tiga pekan lamanya tinggal di pengungsian tersebut. Soal pembatasan jarak, tak membuat ia dan para pengungsi lainnya terganggu. Karena memang tak terlalu berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Sebagai seorang manula, ia dan beberapa orang tua lainnya di pengungsian itu semula diberikan tempat khusus. Namun sekarang digabung kembali dengan pengungsi lainnya.

"Awalnya khawatir juga sama wabah corona. Tapi karena enggak ada lagi tempat untuk mengungsi yah saya sama anak tetap ngungsi kesini. Tapi setelah disini yah biasa saja, apalagi setiap hari ruangannya disemprot. Harapannya sih banjir pengen segera selesai, terus virus corona juga cepat selesai juga," katanya. (Dani R Nugraha)