Pemkab Bandung Takan Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir

Pemkab Bandung Takan Perpanjang Status Tanggap Darurat Banjir

INILAH,Bandung,- Pemkab Bandung memastikan tidak akan memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir, kendati masih mengepung ribuan rumah warga di Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang dan beberapa kecamatan lainnya. Hal itu seiring dengan akan diberlakukannya status darurat bencana non alam wabah virus corona atau covid-19.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Ahmad Djohara mengatakan, pasca terjadinya banjir di wilayahnya, pihaknya telah menentapkan status tanggap darurat bencana banjir. Status tanggap darurat banjir dimulai 1Maret dan berakhir 7 Maret. Status tersebut tidak akan perpanjang, karena saat ini bertepatan dengan bencana wabah virus corona.

"Ada tanggap darurat virus corona. Nanti penanganannya (banjir) bisa bersamaan. Jadi tidak harus ada dua SK tanggap darurat. Satu SK saja cukup," kata Ahmad, Senin (6/4/2020).

Menurut Ahmad, saat ini sebanyak 9 kecamatan tergenang banjir, terparah berada di kecamatan Dayeuhkolot, Bojongsoang dan Baleendah. Bahkan 3.500 orang masih menempati pengungsian. Meski begitu,  BPBD tetap tidak berencana mengajukan perpanjangan masa tanggap darurat bencana banjir yang akan berakhir besok. "Sepertinya tidak akan diperpanjang tanggap daruratnya. Berat dengan covid-19," ujarnya.

Pemkab Bandung berencana menetapkan tanggap darurat bencana covid-19. Saat ini, penanganan pandemik corona sedang dalam tahap persiapan. Meskipun demikian, masyarakat korban banjir tetap akan mendapat penanganan dari pemerintah.

Diberitakan sebelummya, sudah sekitar tiga pekan warga Kampung Cigosol dan Sindang Reret Kelurahan/Kecamatan Baleendah berada di pengungsian di Gedung Inkanas. Berada di pengungsian disaat keadaan darurat wabah virus corona (covid-19), tak membuat mereka khawatir berlebihan.

Ivan (40) salah seorang warga Kampung Cigosol RT 3 RW 9 Kelurahan Baleendah, mengatakan, saat ini dipengungsian Gedung Inkanas terdapat sekitar 300 an orang pengungsi. Mengungsi disaat terjadi wabah virus corona, tak jauh berbeda dalam keadaan normal. Bedanya, tempat tidur mereka diberi jarak, kemudian semua orang diberi masker untuk dipakai sehari hari. Tak hanya itu saja, ruangan pengungsian di lantai satu dan dua, setiap hari dilakukan penyemprotan dengan cairan disinspektan.

"Yah enggak ada perbedaan yang terlalu besar. Cuma jaga jarak saja, tapi yah karena ada jarak setiap tempat tidur mungkin daya tampung gedung ini yang berkurang. Kalau biasanya kan bisa menampung sampai seribu orang, kalau sekarang paling sekitar 700 an orang saja," kata Ivan di lokasi pengunsian, Senin (6/4/2020).

Dikakatan Ivan, pembatasan jarak sesama pengungsi, rasanya tidak terlalu menjadi masalah. Karena bagi mereka masalah sebenarnya yang tak kunjung enyah dari kehidupan mereka. Apalagi, musim banjir tahun ini sulit diperkiranan. Banjir datang dan cepat surut, kemudian tak lama berselang datang kembali. Keadaan inilah yang membuat repot warga.

"Banjir sekarang itu bikin capek, soalnya cepat surut tapi cepat datang. Jadi kami itu harus mondar mandir dari pengungsian ke rumah dalam waktu yang dekat. Kalau biasanya kan banjir itu surutnya lama bisa sampai tiga bulan baru surut. Mungkin ini dampak dari mulai dioperasikannya Curug Jompong di Kecamatan Margaasih yah," ujarnya. (rd dani r nugraha).