Apa Pemicu Anak Melakukan Tindak Kekerasa?

Apa Pemicu Anak Melakukan Tindak Kekerasa?
Ilustrasi/Net

INILAH, Jakarta - Jika dibandingkan orang dewasa, perilaku kekerasan yang dilakukan seorang anak di bawah umur tentu mengejutkan.

Sangat tidak biasa, anak-anak melakukan perilaku keji yang melanggar hukum. Anak-anak umumnya masih polos dan ceria.

Beberapa contoh tindakan kekerasan yang dilakukan anak adalah bullying di sekolah. Cukup banyak kasus perundungan dilakukan anak maupun remaja.

Korbannya tak jarang sampai cedera berat, seperti yang terjadi pada siswa SMP di Malang belum lama ini.

Namun, yang paling mengejutkan mungkin kasus pembunuhan anak balita yang dilakukan seorang siswi sekolah menengah pertama berusia 15 tahun di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Apa pemicu seorang anak bertindak di luar batas seperti ini? Mungkinkah hanya pengaruh tontonan atau film kekerasan?

Memang berdasarkan keterangan polisi, si pelaku melakukan pembunuhan karena terinspirasi film horror favoritnya, Chucky dan Slenderman.

Dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Fransiska Kaligis, Sp.KJ(K), menjelaskan, ada bermacam-macam motif kekerasan bahkan kekejian seperti pembunuhan yang dilakukan anak.

"Diperlukan pemeriksaan komprehensif untuk mencari tahu bagaimana mekanisme seorang anak bisa melakukan kejahatan sadistik dengan sengaja," kata Fransiska Kaligis seperti yang dikutip dari siaran pers dari guesehat, Jakarta, Senin, (06/04/2020).

Karena, masih menurutnya, ada banyak faktor kompleks yang bisa memengaruhi psikologis seorang anak, sehingga memicunya perilaku sadistik.

Aspek pertama, menurut dr. Fransiska, adalah biologis, bisa berupa faktor bawaan atau genetik.

 

"Apakah ada karakter atau sifat-sifat yang berhubungan dengan agresifitas dan masalah psikologis anak tersebut yang sifatnya bawaan," jelas Fransiska.

Selain faktor biologis, ada pula faktor psikologis, yakni meliputi kepribadian, yang dipengaruhi oleh perkembangan emosi seorang anak sejak kecil hingga usia remaja.

Terakhir, faktor lingkungan, yang mencakup pengaruh dari luar, misalnya keluarga, sekolah, atau adanya peristiwa trauma pada sang anak.

Paparan film, video, ataupun bacaan itu juga termasuk ke dalam faktor lingkungan yang berperan cukup besar.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa pembunuhan oleh remaja ataupun anak tidak selalu pasti disebabkan oleh gangguan psikologis atau gangguan perkembangan emosi.

"Belum tentu gangguan psikologis menjadi faktor utama seorang anak melakukan pembunuhan. Perlu pemeriksaan yang hati-hati dan teliti terhadap masalah yang dimiliki anak, faktor risiko, dan faktor pendukung baginya," jelas Psikolog Klinis Theresia Michelle Alessandra, M.Psi kepada GueSehat.

Pengaruh Film dan Tayangan Kekerasan pada Psikologi Anak
Usia remaja identik dengan perkembangan emosi yang berada pada fase pencarian jati diri.

"Jadi, lingkungan yang negatif itu sangat berisiko dalam perkembangan remaja, misalnya tayangan di media yang mengandung pornografi, kekerasan, dan lainnya," jelas dr. Fransiska.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Psikolog Theresia Michelle, yang menegaskan bahwa perilaku bisa muncul berdasarkan pengamatan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, misalnya melalui media (tontonan atau bacaan). Untuk anak-anak yang proses berpikirnya masih sulit untuk membedakan fantasi dan realita, akan lebih rentan dan lebih mudah terpengaruh hal-hal yang ditampilkan di media.

"Namun, remaja dan orang dewasa muda sekalipun yang kemampuan membedakan fantasi dan realitanya sudah berkembang lebih baik juga tetap dapat terpengaruh pada kekerasan yang ditampilkan," ungkap Theresia.

Jadi, untuk menonton tayangan layar, sebaiknya orang tua menetapkan batas dan memberikan bimbingan. Rekomendasi batasannya sekitar dua jam per hari, tetapi harus dipastikan kontennya bukanlah berupa kekerasan.(Inilahcom)