Netty Minta Pemerintah Perhatikan Mekanisme Realokasi APBN

Netty Minta Pemerintah Perhatikan Mekanisme Realokasi APBN

 

INILAH, Bandung,- Pemerintah  menetapkan keadaan darurat kesehatan masyarakat akibat covid-19 dengan mengeluarkan Kepres nomor 11 tahun 2020. Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Netty Prasetiyani meminta pemerintah perhatikan mekanisme realokasi APBN.

 

Sebagaimana diketahui, keputusan  ini dibarengi dengan kesiapan Pemerintah menggelontorkan anggaran sebesar Rp. 405,1 Triliun dengan alokasi pemulihan ekonomi nasional Rp. 150 T,  stimulus perpajakan dan kredit usaha rakyat  Rp. 70,1 T,  jaring pengaman sosial sebesar Rp 110 T sementara   porsi anggaran kesehatan Rp. 75 Triliun atau sekitar 18,5 persen dari total anggaran.

"Rakyat sudah lama menanti pemerintah ambil langkah sigap, cepat, dan tidak ragu-ragu melakukan antisipasi. Kenapa harus menunggu desakan baru ditetapkan,?" tanya Netti dalam rilis yang diterima redaksi.

 

Netty mempertanyakan persentasi alokasi anggaran yang dianggap tidak tepat. "Alokasi untuk kesehatan seharusnya mendapat porsi  lebih besar. Apakah  dengan  angka Rp75 triliun ini, pemerintah sudah menghitung dengan benar kebutuhan lapangan? Bukankah kita tahu banyak rumah sakit dan tenaga kesehatan mengeluhkan kurang dan langkanya APD, masker, serta alat dan bahan lainnya? Belum lagi soal minimnya ruang isolasi di rumah sakit  dan dukungan moril yang harus diberikan  pada para tenaga kesehatan,"paparnya.

 

Menurut Netty, pemerintah perlu memerhatikan bahwa   per  5 April, penduduk yang  positif corona ada 2.273 kasus, 164 sembuh, 198 meninggal dunia. Dari jumlah itu, tercatat 19 dokter dan 5 dokter gigi meninggal dunia, belum tenaga kesehatan lainnya. Dan berdasarkan prediksi Badan Intelejen Negara (BIN), jumlah ini akan terus meningkat.  "Mengapa sektor ekonomi yang diprioritaskan,  ada apa ini? Saya pikir sekarang fokus dulu pada  penanganan krisis di bidang kesehatan.  Kita bangun pemulihan ekonomi dengan prinsip gotong royong dan berpihak pada ekonomi kerakyatan setelah badai berlalu,"ujarnya.

 

Legislator anggota Komisi IX DPR RI ini juga mengingatkan   pemerintah agar tetap memerhatikan mekanisme pembahasan realokasi APBN.

 

" Meski sudah ada Perppu sebagai dasar pengalokasian anggaran, tetap saja ada  kewenangan DPR yang kurang diindahkan pemerintah,  seperti pembahasan besaran perubahan APBN, penentuan besaran anggaran, penentuan program dan lain-lain. Jangan sampai alasan kedaruratan  menghilangkan mekanisme check and balances DPR terhadap kebijakan pemerintah. Ini krusial," sesal Netty.

 

Terkait permasalahan tersebut, Netty menggarisbawahi tentang pentingnya  pengawasan implementasi program dan anggaran. "Tetiba ada realokasi  anggaran negara dengan jumlah fantastis. Harus ada mekanisme  pengawasan  ekstra yang terstruktur  melibatkan DPR, BPK, KPK, OJK, profesi dan masyarakat. Kita tidak mau  ada penyimpangan dan penyelewengan.  Jangan ada celah oknum mengambil kesempatan di tengah kesulitan," ujarnya.

 

Netty juga mengusulkan, “Pemerintah harus selalu mengupdate laporan penanganan Covid-19, termasuk laporan keuangan  melalui kanal resmi yang dapat diakses publik. Mari kita bangun kepercayaan rakyat dengan sikap transparan dan akuntabel," tandas Netty.