Diskominfo Jabar Terus Optimalkan Integrasi Pendataan

Diskominfo Jabar Terus Optimalkan Integrasi Pendataan

INILAH, Bandung- Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jawa Barat berupaya penuh mengoptimalkan integrasi pendataan dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Salah satunya, mendata keluarga rawan warga miskin baru dan warga yang masuk dalam kategori B untuk melakukan rapid tes.

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar berencana memberikan bantuan pangan dan keuangan senilai Rp500 ribu untuk keluarga rawan warga miskin baru yang terkena imbas pandemic virus Corona. Di mana bantuan yang diberikan selama dua bulan dan maksimal empat bulan itu, satu pertiganya berupa uang tunai dan sisanya berupa bantuan dalam bentuk pangan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Jawa Barat Setiaji mengatakan, integrasi pendataan ini merupakan salah satu fungsi dari tiga sub divisi Diskominfo Jabar dalam Gugus Tugas Covid-19. 

"Kita sedang mengejar pendataan untuk warga yang diberikan bantuan pangan dan keuangan Rp500 total," ujar Setiaji, Selasa (7/4/2020).

Setiaji menyampaikan, pihaknya menargetkan bantuan bisa segera disalurkan kepada warga yang membutuhkan. Adapun penyalurannya, Pemprov Jabar akan menggandeng Ojek Online dan PT Pos sehingga bantuan akan diantarkan ke rumah masing-masing warga yang berhak menerima. 

"Diharapkan minggu ini selesai sehingga pertengahan April bisa disalurkan," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sedang mempersiapkan tes masif Covid-19 untuk kategori B  alias masyarakat yang memiliki kecenderungan berinteraksi dengan orang banyak. Misalnya, tenaga kesehatan di fasilitas umum seperti puskemas dan klinik. Kemudian para pekerja di mana profesi mereka mengharuskan untuk bertemu banyak orang atau melakukan interaksi sosial dengan siapa pun. Atau Babinsa, Babinkamtimbas, pedagang pasar tradisional, para ulama, pejabat publik, petugas bandara, hingga petugas imigrasi.

"Itu  untuk orang-orang yang sering berinteraksi dengan orang banyak seperti dosen, pelayan masyarakat. Itu sekarang yang lagi disiapkan datanya sudah masuk," ungkapnya. 

Sejauh ini pun, Setiaji mengatakan, pihaknya juga terus mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan Covid-19, termasuk data-data orang dalam pengawasan (ODP) hingga pasien dalam pengawasan (PDP). Namun memang, dia tak menampik, masih ada kendala yang dihadapi untuk melakukan percepatan pengumpulan data ini. 

"Ada beberapa kendala ketika kecepatan pengupulan data. Karena datanya ngambil dari sistem, dari kota kabupaten. Masalahnya yang kita miliki belum banyak, masih kurang data. Kita kan butuh NIK (nomor induk kependudukan), butuh nomer telepon atau kelengkapan data lainnya," paparnya. 

Dalam hal ini, pihaknya dibantu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga relawan untuk memastikan kelengkapan data yang diperoleh. Adapun hingga Selasa (7/4/2020) malam, tercatat 268 orang di Jabar yang positif terjangkit virus Corona. Sementara 13 orang dinyatakan sembuh dan 29 orang meninggal dunia. 

Data tersebut berasal dari Pusat Informasi Dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar). Adapun Pikobar sendiri berisi peta penyebaran Covid-19 di wilayah Jabar yang terus diupdate. 

"Kami ini bersama dengan anggota pusat melalui BNPB akan membatu berkaitan pengalolaan data tadi," katanya.

Lebih lanjut, sejak pekan lalu pihaknya pun membuka kesempatan kepada warga yang hendak membantu penanganan virus Corona untuk menjadi tim relawan penangulangan Covid-19. Para relawan tersebut terbagi dari relawan medis dan non-medis di mana dapat mendaftar melalui aplikasi Pikobar.

Setiaji mengatakan, selama sepekan membuka pendaftaran tercatat ada 2018 warga yang mendaftar untuk menjadi relawan dan didominasi oleh non-medis. Bahkan sekitar 14 di antaranya sudah dilibatkan dalam menyikapi virus Corona di Jabar. 

"Kemarin yang 14 (relawan) ini diperbantukan untuk proses rapid tes. Mereka membantu dari mulai pendaftaran dan  pencocokan yang datang untuk mengikuti tes," pungkasnya. (riantonurdiansyah)