Corona Turut Porak-porandakan Sentra Topi Rahayu

Corona Turut Porak-porandakan Sentra Topi Rahayu

INILAH,Bandung- Sejumah pengusaha topi dan pakaian di Desa Rahayu Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung mengeluhkan hilangnya omzet hingga puluhan miliar rupiah akibat darurat Covid-19. Sejak dua pekan terakhir, 90 persen aktivitas produksi dihentikan karena pesanan banyak yang dibatalkan dan ditangguhkan.

Asep Andian (31) salah seorang pengusaha topi di Desa Rahayu RT 1 RW 5, mengaku banyak menerima pembatalan pesanan dan juga penjadwalan ulang pesanan. Tak hanya itu saja, penutupan dan pembatasan operasional pasar pun berdampak pada pesanan.

Pesaanan topi ke tempatnya itu datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada pelanggan topinya dari di Nigeria. Karena wabah virus corona ini, semua pesanan dan juga penjualan ke pasar umum terhenti.

"Banyak yang dibatalkan atau jadwal ulang, ke pasar umum juga sama barang enggak bisa masuk. Perusahaan jasa pengantaran barang juga berhenti enggak ada yang antar barang. Produksi saya bertenti sampai 90 persen, sisanya yang 10 persen yah cuma pegawai yang beres beres menyelesaikan sisa pekerjaan saja. Pegawai saya jumlahnya lebih dari 200, sebagian besar di rumahkan dulu," kata Asep di Desa Rahayu, Rabu (9/4/2020).

Akibat wabah virus corona ini, kata Asep, ia kehilangan omzet antara Rp 1,5 m hingga Rp 2 m. Jumlah tersebut baru terjadi selama dua pekan terakhir ini. Jika bencana ini masih terus berlanjut, tentunya para pelaku usaha seperti dirinya bakal lebih terpukul. Kata dia, kondisi ini dirasakan oleh para pengusaha yang ada di Desa Rahayu.

"Di Desa Rahayu itu selain sentra produks topi, banyak juga pelaku usaha lainnya, seperti busana Muslim, pedagang kain, jasa printing, bordir dan lainnya. Yah jumlahnya ratusan orang pengusaha dengan potensi kehilangan omzet bisa mencapai puluhan miliar," ujarnya.

Asep melanjutkan, karena produksi terhenti, otomatis semua orang pekerjanya dihentikan sementara. Namun ia tetap harus memikirkan nasib para pegawainya ini. Sehingga ia memberikan pinjaman dana untuk para pegawai yang sejak dua pekan lebih dirumahkan ini.

"Saya kasihan sama pegawai, kalau ada pekerjaan ada upah. Tapi karena kondisi seperti ini mereka enggak bisa kerja. Ada sedikit bantuan dari kami, selain itu kami memberikan pinjaman uang untuk bekal selama di rumah," katanya.

Dampak dari pandemi virus corona ini, kata Asep, sangat terasa berat bagi para pelaku usaha seperti dirinya. Selain pesanan yang dibatalkan dan ditunda, perputaran uang dari usahanya ini pun sangat tertanggu. Karena banyak dari mitra bisnisnya yang meminta penangguhan pencairan cek giro. Padahal, disatu sisi, ia juga harus tetap mengeluarkan biaya operasional.

"Harapan kami pada pemerintah agar dapat segera menuntaskan wabah virus corona ini. Agar roda perekonomian masyarakat bisa kembali berjalan dengan baik. Karena yang paling terdampak adalah masyarakat banyak disemua sektor kehidupan," ujarnya. (rd dani r nugraha).