Harga Kebutuhan Pokok Stabil, Tingkat Penjualan Menurun

Harga Kebutuhan Pokok Stabil, Tingkat Penjualan Menurun
(Antara Foto)

INILAH, Cianjur- Harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di Cianjur, Jawa Barat, masih normal dan stabil meskipun tingkat penjualan menurun sejak satu bulan terakhir. Puluhan pedagang terpaksa berhenti berjualan karena sepinya pembeli.

Kepala UPTD Pasar Cipanas, Heru Haerul Hakim saat dihubungi Kamis, mengatakan hingga saat ini tidak terjadi pembelian besar-besaran dampak dari jaga jarak dan kerja dari rumah, bahkan suasana pasar sejak satu bulan terakhir sepi pengunjung dan pembeli.

"Sampai hari ini harga kebutuhan pokok seperti daging, gula, minyak goreng hingga beras masih normal dan tidak mengalami kenaikan. Termasuk harga rempah-rempah yang banyak dibutuhkan untuk minuman herbal seperti kunyit, jahe dan sejumlah rempah lainnya," kata Heru.

Ia menjelaskan, saat ini beras dengan kualitas premium dijual Rp10.000 per kilogram, gula pasir dijual Rp18.000 per kilogram, minyak goreng Rp13.000 per liter. Termasuk harga daging sapi dijual Rp110.000 per kilogram dan daging ayam dijual Rp32.000 per kilogram.

Sebagian besar harga kebutuhan pokok tersebut tidak mengalami kenaikan, namun penjualan di tingkat pedagang menurun sejak satu bulan terakhir akibat sepinya pembeli yang datang ke pasar tersebut.

Bahkan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga yang datang ke pasar ungkap Heru, pihaknya menyediakan tempat cuci tangan mulai dari pintu masuk sampai ke sejumlah blok yang ada serta pedagang diimbau lebih meningkatkan kebersihan sekitar.

"Kami juga melakukan penyemprotan disinfektan di seluruh area pasar mulai dari parkiran hingga toko pakaian di lantai empat Pasar Cipanas, untuk memutus rantai penularan COVID-19. Kami mengimbau pedagang untuk meningkatkan kebersihan toko, los dan lapaknya masing-masing," katanya.

Sementara tingkat kunjungan ke pasar sejak satu bulan terahir menurun hingga 50 persen dari hari biasa sebelum merebaknya COVID-19, sehingga banyak pedagang yang terpaksa menutup kiosnya karena minim pembeli.

Hal tersebut dibenarkan Ade (64) pedagang sayuran dan rempah-rempah, sejak satu bulan terakhir pendapatan pedagang di pasar tersebut menurun hingga 90 persen. Sehingga banyak pedagang memilih menutup usaha sampai KLB COVID-19 usai.

"Biasanya dalam satu hari, kami bisa mendapat uang sampai Rp3 juta. Tapi sejak satu bulan terakhir dapat uang Rp300 ribu saja sudah untung. Sehingga banyak pedagang memilih tutup untuk mengurangi beban sehari-hari, lebih baik di rumah karena jual beli tidak bisa menutupi operasional," katanya. (Antara)