Ini Kriteria Negara Cepat Bangkit Setelah Dihantam Pandemi Corona

Ini Kriteria Negara Cepat Bangkit Setelah Dihantam Pandemi Corona
(Antara Foto)

INILAH, Jakarta- Ekonom dari lembaga kajian Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Denley Adi Purwanto menilai negara yang mampu menanggulangi wabah COVID-19 secara cepat, berpeluang bisa segera bangkit dan memulihkan kondisi perekonomian dari krisis akibat pandemi tersebut.

"Negara mana yang akan pulih lebih awal dari krisis ini, sebetulnya kembali pada apakah negara dengan dana yang cukup besar atau dengan perekonomian yang cukup bagus bisa pulih duluan? Belum tentu, tetapi negara mana yang bisa lebih dulu meredam atau tuntas menanggulangi pandemi COVID-19 sekaligus telah siap untuk mengantisipasi gelombang-gelombang pandemi COVID-19 berikutnya merupakan negara yang secara otomatis akan pulih lebih dulu," ujar Denley Purwanto dalam seminar daring bertajuk "Kebijakan Penanganan Covid-19: dari Jerman dan Amerika Serikat" di Jakarta, Kamis malam.

Menurut dia, berbagai lembaga internasional maupun masing-masing negara sudah memberlakukan koreksi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2020. Dengan demikian peluang akan terjadi krisis global akibat pandemi COVID-19 cukup besar.

Ia menilai keselamatan nyawa manusia harus menjadi prioritas paling utama. Kemudian penyelamatan ekonomi menjadi prioritas selanjutnya. "Save people first then save the economy later."

"Kalau pemerintah negara itu sanggup menekan dan menanggulangi pandemi COVID-19 secara baik maka akan lebih cepat untuk pulih serta bangkit perekonomiannya," kata Denley Purwanto.

Pendapat senada diungkapkan ekonom Indef lainnya, Eisha Maghfiruha yang menyampaikan bahwa negara mana yang bisa cepat pulih dan bangkit duluan adalah negara yang paling agresif dan intervensinya lebih cepat dalam menangani pandemi COVID-19.

"Secara teori ketika negara-negara bisa menyelesaikan krisis kesehatannya dengan cepat maka stabilitas perekonomiannya bisa kembali pulih, dan tentunya negara itu juga harus mampu mengantisipasi dan melihat risiko ancaman gelombang pandemi kedua, ketiga dan seterusnya," kata Eisha.

Menurut dia, untuk resesi atau krisis ekonomi global akibat pandemi COVID-19 sudah pasti dunia sedang menuju ke arah sana, karena tidak ada negara yang tidak terkena pandemi tersebut, bahkan negara maju pun sudah kena.

Ketika negara-negara maju ini mengalami pelemahan pastinya akan berdampak ke negara-negara berkembang secara ekonomi.

"Dengan semakin cepatnya pandemi ini berakhir maka kondisi normal bisa kembali pulih dan perekonomian pun bisa tumbuh," ujar Eisha. (Antara)