Roda Ekonomi UMKM Kuliner Ini Tetap Berputar di Tengah Pembatasan Sosial

Roda Ekonomi UMKM Kuliner Ini Tetap Berputar di Tengah Pembatasan Sosial
istimewa

INILAH, Bandung - Pandemi Covid-19 di Indonesia telah menghantam berbagai sektor
usaha. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terutama sektor kuliner kebijakan pembatasan sosial yang diterapkan secara massif mengubah pola usaha dan
perilaku pelanggan.

Pelanggan tak lagi bisa menikmati hidangan di tempat seperti biasa, bahkan beberapa usaha kuliner harus membatasi jumlah pengunjung dan mengurangi jam operasional.
Untuk dapat bertahan dalam masa penuh tantangan ini, pelaku usaha harus beradaptasi
dengan segala perubahan yang terjadi melalui strategi baru, terutama para UMKM sebagai
garda terdepan perekonomian nasional.

Salah satunya adalah dengan mengandalkan teknologi untuk menjangkau pelanggan dalam situasi pembatasan sosial. Strategi tersebut, seperti yang dilakukan oleh para mitra merchant GrabFood di Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan yang hingga kini masih bertahan dan terus menggerakkan perekonomian kotanya.

Muhammad Muhlis, Manager Pemasaran Wingz O Wingz, salah satu yang menjual kreasi
menu daging ayam di Bandung menceritakan betapa dia dan usaha yang dikelolanya
berjuang mempertahankan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19.

“Dampak yang paling terasa adalah pada transaksi makan di tempat yang sekarang hanya tinggal 5 persen saja. Sesuai imbauan pemerintah kami juga membatasi kunjungan pelanggan untuk makan di tempat dengan mengutamakan layanan take away atau order memakai aplikasi,” kisah Muhlis, Jumat (10/4/2020).

Lain lagi dengan Surabaya. Salah satu mitra GrabFood di Kota Pahlawan ini adalah Ayam
Bakar Primarasa yang legendaris. Restoran ayam bakar yang sudah dirintis sejak 1993 silam. Edwin Sugiaurto (29), generasi kedua pengelola Ayam Bakar Primarasa, menceritakan tantangan terbesar banyak pengusaha kuliner akibat pandemi Covid-19 adalah berhadapan dengan sejumlah keputusan sulit.

“Pilihannya banyak, misalnya menutup layanan makan di tempat; atau tutup total tanpa
layanan makan di tempat dan take away, atau tetap beroperasi. Kita hanya bisa mengambil satu. Kami pun memilih untuk beroperasi seperti biasa supaya karyawan tetap
memperoleh gaji utuh setiap bulan, dengan meningkatkan standar kebersihan dan
melakukan prosedur pengecekan kesehatan. Total kami punya sekitar 100 karyawan yang
tersebar di tujuh cabang,” tutur Edwin.

Sementara itu, UMKM kuliner mitra GrabFood di Makassar, MasterCheese, harus mengubah
jam operasionalnya menjadi lebih singkat. Usaha yang dirintis oleh Yulianti (32) sejak 2018 ini masih buka untuk mempertahankan omzet. Untungnya walau jumlah pengunjung yang makan di tempat semakin sedikit, jumlah pemesanan online terus meningkat.

Hal ini juga didorong oleh dukungan GrabFood kepada mitra merchant untuk dapat mengikuti perkembangan tren kuliner terkini melalui data-data yang dimiliki GrabFood sehingga mereka dapat mengadaptasi tren-tren tersebut ke menu mereka untuk meningkatkan penjualan.

“Memang lewat pesanan online, terutama Grab itu tetap banyak. Dulu saja sebelum wabah corona, 50 persen pesanannya dari Grab, sekarang pesanan online dari Grab naik sampai 80 persen. Bersyukur karena ada teknologi yang membuat kami mampu bertahan di situasi sulit ini,” kisahnya.

Lain lagi dengan Erwin Susanto (38), yang mengelola UMKM kuliner Martabak Mekar di
Medan. Dia bercerita bahwa kondisi pandemi Covid-19 memang mulai terasa di Tanah Deli,
namun belum sampai di tahap membuat usahanya yang berlokasi di pusat kota menjadi sepi
pembeli. Terutama karena memang kebanyakan pembelinya memesan dari aplikasi
GrabFood.

Muhlis, Edwin, Julia, dan Erwin adalah empat orang pelaku UMKM yang kini tengah berjuang untuk mempertahankan bisnisnya di tengah pandemi COVID-19 di Indonesia. Tantangan yang dihadapi berbeda-beda tapi sama-sama dihadapkan pada situasi yang mengancam kelangsungan bisnis mereka.

Selain mengatur strategi bisnis untuk tetap dapat melayani pelanggan di tengah aturan pembatasan sosial, keempat pelaku usaha ini juga mengimplementasikan standar kebersihan tinggi, sesuai dengan anjuran pemerintah serta Standar Keamanan Terpadu untuk Layanan Pesan-antar Makanan yang diterapkan GrabFood. Mereka dapat memperoleh beragam materi edukasi yang relevan seperti langkah-langkah untuk menjaga kebersihan dan standar keamanan makanan dengan mudah, cukup mengaksesnya melalui aplikasi merchant GrabFood yang mereka gunakan sehari-hari. (*)