Pandemi Virus Corona, Jangan Biarkan Jokowi Terjerumus

Pandemi Virus Corona, Jangan Biarkan Jokowi Terjerumus
Presiden RI Joko Widodo. (Antara Foto)

INILAH, Jakarta - Dalam menghadapi ganasnya wabah virus corona yang berefek domino pada hampir semua sektor kehidupan, khususnya bidang ekonomi, Presiden RI Jokowi sebaiknya dijaga dan dikawal agar kepemimpinannya pada periode kedua ini tidak berakhir 'su'ul khotimah' (buruk di akhir). Tapi harus berakhir 'husnul khotimah' atau happy ending.

Demikian disampaikan peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah kepada pers di Jakarta, Rabu (8/4), menanggapi berbagai isu kontroversial mulai dari penanganan covid 19, pembebasan puluhan ribu narapidana sampai ke soal kontroversi telegram Kapolri untuk menindak tegas orang yang menghina presiden dan pejabat negara.

"Pak Jokowi itu salah satu simbol pemimpin yang dirindukan publik saat awal terpilihnya sebagai presiden pada 2014 dan terpilih kembali pada 2019 dengan berbagai atribut positif seperti peduli, bersih dan merakyat," ujar Toto.

Karena itulah, tegas Toto yang juga Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA ini, kepemimpinan Jokowi pada periode kedua ini jangan dibiarkan hanyut dan terjerumus ke jurang kehancuran, apalagi kejatuhan karena adanya bisikan sesat atau masukan salah dari para pembantunya yang sekedar menyenangkan jangka pendek, tapi berefek buruk dan merusak pada jangka panjang. Terlalu mahal harga demokrasi yang dilewatinya dua periode itu jika Jokowi harus berakhir tragis karena banyaknya para pembisik yang hanya mengambil keuntungan sesaat.

Toto mengingatkan tragedi kejatuhan kepemimpinan sejumlah kepala negara sejak Bung Karno, Soeharto, Habibie, dan Gus Dur. "Hanya SBY yang berhasil melewati dua priode menjabat dengan berakhir relatif mulus. Selebihnya, selalu ditebus dengan jatuhnya banyak korban jiwa dan kerugian material yang tidak kecil. Berkaca dari situlah, Jokowi sendiri harusnya mengambil banyak pelajaran. Dan para pembantunya harus menjaga dan mengawalnya jangan sampai tergelincir," tandasnya.

Lalu, bagaimana cara menjaga dan mengawalnya? Toto mengatakan, salah satunya justru dengan dibukanya ruang keterlibatan semua elemen bangsa, khusus para elit baik politisi, akademisi, tokoh agama dan masyarakat, untuk tak bosan mengingatkan Pak Jokowi agar kepemimpinannya selalu on the track, tidak menyimpang. Bisa lewat kritik, memberi masukan dan saran, sejauh tidak fitnah dan masih dalam koridor hukum yang berlaku.

Dalam kontek inilah, menurut Toto, aneka masukan bahkan kritik dari semua elemen bangsa ini sebaiknya direspon positif semua aparat pemerintah sebagai vitamin yang menyehatkan. Bukan malah dijawab dengan kebijakan represif seperti menangkap dan mempidanakan rakyat yang kritis.

"Alih-alih ingin melindungi nama baik Presiden, tapi sebenarnya justru berpotensi merusak nama baik Presiden. Sangat disayangkan jika atribut pemimpin merakyat yang demokratis, pada ujung kepemimpinannya malah berakhir dengan citra otoriter. Kalau sayang ke Pak Jokowi dan ingin mempertahankan kepemimpinannya sampai selesai, sehingga khusnul khotimah, jangan diberikan ruang buat beliau untuk otoriter. Tegas Yes, Otoriter No," katanya.

Menurut Toto, wabah virus corona ini seharusnya menjadi momentum buat Jokowi untuk membangun mercusuar kemanusiaan. Lupakan dulu aneka mimpi besar membangun legacy yang besifat fisik seperti infrastruktur atau bahkan ibu kota baru. Prioritas saat ini bangun dulu kepercayaan diri publik agar bisa menjaga dan melindungi diri dari ganasnya covid 19. Bikin rakyat Indonesia sehat dulu. Tanamkan dan kampanyekan semangat kebersamaan rakyat dalam menghadapi musibah yang sudah mendunia ini.

Dalam kaitan inilah, Toto menyarankan kepada Jokowi untuk segera mengambil langkah pro aktip dalam melawan Corona ini dengan merangkul semua elemen bangsa, mulai dari para aktivis, Ormas, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi dan politisi. Sebab, corona ini tak bisa dilawan sendirian hanya mengandalkan pemerintah. Butuh kebersamaan semua pihak. Dan sekarang momentum yang tepat buat Jokowi untuk menyatukan semua kekuatan bangsa.

"Teknisnya, tentu bisa macam macam sesuai teknis protokol covid 19, bisa diundang langsung ke Istana, teleconference dan lain-lain. Intinya, dibawah komando Presiden, semua elemen dan kekuatan bangsa siap berada di belakang Pak Jokowi menyelamatkan bangsa dan negara ini. Jangan dibiarkan rakyat, bahkan aparat pemerintah di daerah mengambil langkah sendiri. Apalagi, mempertontonkan kebijakan yang tidak kompak antar lembaga pemerintah. Disinilah ujian buat Pak Jokowi untuk membuktikan kualitas leadership nya," ungkapnya.

Sebagai presiden dua periode, tentu wajar dan sah jika Jokowi punya mimpi ingin membuat legacy yang dikenang dan dicatat sejarah seperti membangun ibukota baru. Tapi, dalam kondisi darurat seperti ini, legacy menyelamatkan ratusan bahkan ribuan nyawa rakyat Indonesia dari virus corona jauh lebih penting, bernilai dan akan dikenang sepanjang hayat bangsa ini. Bahwa di bawah kepemimpinan Jokowi ancaman ganas covid 19 ini bisa diatasi dengan menekan jumlah korban baik yang positip maupun meninggal.

"Jangan sampai terjadi sebaliknya, Pak Jokowi dicatat sejarah sebagai Presiden yang lalai dan lambat menangani virus ini. Apalagi, dikenang sebagai presiden yang awalnya simbol sipil yang membawa angin demokrasi, tapi berujung dengan stempel pemimpin yang merusak demokrasi. Ayo kita sama-sama jaga beliau dari benih munculnya kenangan sejarah buruk. Jokowi Presiden yang berawal baik, harus berakhir baik juga," tegasnya. [Inilahcom]