Prof. Obi: Pemerintah Harus Mengambil Langkah Cepat dan Komprehensif

Prof. Obi: Pemerintah Harus Mengambil Langkah Cepat dan Komprehensif
Rektor Universitas Widyatama Prof. H. Obsatar Sinaga. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) dalam waktu dekat ini akan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi.

PSBB sendiri akan diberlakukan selama masa inkubasi terpanjang, yaitu 14 hari. Namun, apabila setelah 14 hari tersebut masih terlihat adanya penyebaran, seperti ditemukannya kasus baru, maka PSBB akan diperpanjang selama 14 hari ke depan sampai kasus terakhir ditemukan.

Pembatasannya yaitu dalam hal aktivitas di sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat/fasilitas umum, kegiatan sosial budaya serta operasional transportasi umum yang mengumpulkan banyak orang.

Melihat kondisi seperti ini, Rektor Universitas Widyatama Prof. H. Obsatar Sinaga mengatakan pihaknya menyambut baik langkah pemerintah tersebut. Persoalannya adalah, jika semua itu diputuskan, maka akan ada ekses ekonomi, kehidupan masyarakat di wilayah yang diberlakukan akan terganggu secara ekonomi, seperti para pelaku transportasi dan pelaku-pelaku ekonomi lainnya.

"Kalau hal itu terganggu maka risikonya akan ada perlambatan ekonomi. Dikhawatirkan ada yang kelaparan (karena tidak bisa memenuhi kebutuhan bahan pokok) dan lain-lain,” ujar Prof. Obi sapaan akrabnya, Senin (13/4/2020).

Dia menuturkan pemerintah harus mengambil langkah cepat dan komprehensif, jangan hanya bisa menghentikan saja. Karena dikhawatirkan bisa menimbulkan kerusuhan serta penjarahan toko atau sumber-sumber ekonomi lainnya.

“Makanya secepatnya bisa memberikan/mendistribusikan bantuan yang diberikan kepada masyarakat miskin dan masyarakat terdampak. Saat ini ngitungnya terlalu lama. Harusnya pendistribusian tersebut mudah tidak dipersulit. Kan, pemerintah punya data jumlah masyarakat miskin. Paling maksimal masyarakat yang terdampak Covid-19, penambahannya sekitar 30% dari jumlah data yang ada,” imbuhnya.

Dia berharap agar semua pihak bersatu untuk secepatnya memutus penyebaran Covid-19. Jangan sampai saling menyalahkan satu sama lain. Di luar pemerintahan menyudutkan pemerintah, pemerintah juga jangan ragu-ragu dalam bertindak.

“Mending semua bersatu bersama-sama menangani ini. Di samping itu jangan menyebarkan isu-isu yang bersifat menakut-nakuti masyarakat. Karena orang kalau ditakut-takuti kondisi badannya malah mengedrop. Apalagi yang bicaranya itu dokter yang tidak pernah turun ke lapangan hanya mengamati dan mengamati negara yang berbeda (bukan Indonesia),” ujarnya.

Dirinya juga mempercayai penaganan pandemi Covid-19 di Indonesia, berbeda dengan negara lainnya. Jadi percayakan kepada pemerintah, karena punya cara yang tepat untuk menanganinya.

“Insya Allah, kita semua bersama-sama kompak dan berdoa kepada Tuhan. Mudah-mudahan Covid-19 segera berakhir,” pungkas Prof. Obi yang juga pakar ekonomi politik global. (okky adiana)