2021, Pemerintah Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 4,5 hingga 5,5 Persen

2021, Pemerintah Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 4,5 hingga 5,5 Persen
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Antara Foto)

INILAH, Jakarta- Pemerintah menetapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2021 di rentang 4,5 hingga 5,5 persen, dengan optimisme bahwa pemulihan ekonomi domestik dari situasi pandemi COVID-19 sudah bergulir di kuartal III 2020, dan selanjutnya akan terakselerasi di tahun depan.

“Nanti disampaikan ke DPR mengenai outlook 2021. Pertumbuhan ekonomi kita perkirakan antara 4,5 sampai 5,5 persen dengan inflasi dua hingga empat persen,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtual usai sidang kabinet paripurna dari Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Sri Mulyani menjelaskan penetapan target tersebut sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi nasional akan bergulir di kuartal III tahun ini atau selambat-lambatnya pada kuartal IV 2020.

"Kita masih akan melihat (proyeksi itu) karena terus terang hari ini kita masih harus melihat situasi di kuartal kedua, dan kecepatan dalam penanganan COVID-19," tambah Menkeu.

Selama 2020 atau tahun ini, kata Sri Mulyani, tekanan pertumbuhan ekonomi akan terjadi pada kuartal II 2020. Namun tekanan masih berpotensi berlanjut di kuartal III 2020 jika situasi pandemi virus Corona baru atau COVID-19 belum menunjukkan perbaikan.

Pada kuartal II 2020, lanjut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi diprediksi akan mendekati 0,3 persen atau bahkan jika kondisi ekonomi lebih buruk bisa mencapai angka pertumbuhan nol persen atau minus 2,6 persen.

Sedangkan pada kuartal III 2020, Menkeu meyakini akan terjadi perbaikan pada ekonomi nasional dengan pertumbuhan 1,5 hingga 2,8 persen.

"Memang sangat berat, namun ini kita menghadapi kondisi yg luar biasa dan kita coba atasi,” katanya.

Sementara itu, inflasi pada 2021 diproyeksikan sebesar 2–4 persen.

Untuk defisit APBN pada 2021, Menkeu mengharapkan bisa menurun menjadi 3 - 4 persen dari kemungkinan tahun ini di sekitar 5,07 persen.

“Seperti diamanatkan dalam Perppu (Perppu Nomor 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan), dalam tiga tahun sampai 2022 defisit bisa di atas tiga persen. Kita jaga hati-hati. Tahun ini kita jaga di lima persen atau mungkin bisa lebih rendah, kalau kita disiplin. Kalau tahun depan desainnya defisit sekitar tiga sampai empat persen,” jelas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu. (Antara)