Mantap, Masyarakat Jabar Diberdayakan untuk Produksi APD Sendiri

Mantap, Masyarakat Jabar Diberdayakan untuk Produksi APD Sendiri
(Antara Foto)

INILAH, Bandung – Minimnya ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan, masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Padahal APD adalah salah satu senjata bagi mereka, sebagai garda terdepan dalam penanganan corona virus disease 19 (covid-19).

Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dadang Kurniawan mengakui, ketersediaan APD saat ini jauh dari kata cukup, di tengah semakin bertambahnya korban yang positif terjangkit pandemik corona. Kendati demikian, pihaknya akan terus berupaya untuk menjamin ketersediaan alat tersebut.

Dia mengatakan, saat ini pihaknya tengah berupaya memberdayakan masyarakat untuk memproduksi APD, khususnya masker demi memenuhi kebutuhan rumah sakit dan puskesmas dalam pencegahan penyebaran covid-19.

“Saya merasakan, memang saat ini terkait masalah APD, masih jauh dikatakan cukup. Kita masih sangat kekurangan. Tetapi seiring berjalannya waktu, kita terus berusaha bagaimana untuk mengatasinya. Salah satunya saat ini, kita sedang mengusahakan memberdayakan masyarakat seperti buruh yang terdampak corona, untuk memproduksi masker sesuai standar. Dimana nantinya, akan dimanfaatkan bagi para petugas medis sebagai langkah pencegahan,” ujar Dadang kepada INILAH, Selasa (14/4/2020).

 Dadang melanjutkan, saat ini pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dalam produksi pengadaan masker, seperti di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung. Dia berharap, upaya ini dapat membantu pemerintah dalam menjamin ketersediaan APD selama penanganan corona berlangsung.

“Kami sudah koordinasikan dengan pihak terkait di kota dan kabupaten, untuk produksi itu (masker). Beberapa daerah seperti Tasik dan Kabupaten Bandung sudah melakukannya. Pelakunya para buruh yang terdampak. Dirumahkan dan kita coba optimalkan, supaya mereka juga ada aktivitas. Mudah-mudahan untuk ketersediaan masker, kita bisa usahakan aman. Soalnya sekarang kalau kita beli, juga khawatir karena tidak semua barang yang ada, sesuai standar kesehatan. Makanya kita coba untuk buat. Saya harap, kelemahan kita dalam pendistribusian bisa teratasi,” harapnya. (Yuliantono)