Erick: Indonesia Harus Punya Blueprint Strategi Ketahanan Kesehatan

Erick: Indonesia Harus Punya Blueprint Strategi Ketahanan Kesehatan
Menteri BUMN Erick Thohir. (antara)

INILAH, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan sudah seharusnya Indonesia sebagai negara besar memiliki blueprint atau cetak biru strategi untuk ketahanan kesehatan.

"Kita di Kementerian BUMN sejak September waktu itu kita sudah merapatkan dan mencoba membuat blueprint bahwa negara sebesar Indonesia ini sudah seyogyanya memiliki strategi yang namanya energi security, food security, dan tentu yang hari ini bisa kita lihat health security," kata Erick Thohir di Jakarta, Kamis.

Langkah-langkah yang diambil untuk mewujudkan health security oleh Erick Thohir dengan menggabungkan rumah sakit yang ada di BUMN yang totalnya berjumlah 70 rumah sakit.

"Dan tidak di situ saja dari BUMN-BUMN farmasi kita juga gabungkan dan yang sedang kita review sekali lagi bagaimana ini bisa menjadi supply chain juga rumah sakit ke depannya," kata Menteri BUMN itu.

Erick Thohir mengaku sedih dan prihatin mengingat mayoritas bahan baku obat untuk industri farmasi nasional dan alat-alat kesehatan di Indonesia diimpor dari luar negeri. "Mohon maaf bapak-bapak kalau saya bicara ini sangat menyedihkan jika negara sebesar Indonesia ini 90 persen bahan bakunya dari luar negeri untuk industri obat," ujar Erick Thohir.

Menurut dia, hal tersebut juga terjadi pada alat-alat kesehatan di Indonesia yang mayoritas masih diimpor dari luar negeri.

Sebelumnya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan pihaknya siap membeli alat bantu pernapasan atau ventilator hingga Alat Pelindung Diri (APD) produksi lokal untuk kebutuhan rumah sakit BUMN yang menangani penyakit Covid-19.

Saat rapat dengan Presiden Joko Widodo, menurut dia, Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan terdapat alternatif pembuatan ventilator lokal dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketersediaan ventilator, kata Erick, menjadi peranti penting selama penanganan corona di rumah sakit dan jumlahnya pun terbatas. (antara)