30 Hari Iktikaf di Rumah

30 Hari Iktikaf di Rumah
Ilustrasi (antara)

INILAH, Jakarta - Beberapa hari lalu, Sugeng Budiarto, pensiunan salah satu BUMN di Jakarta menyampaikan niatnya pada sang istri dan anaknya untuk memindahkan treadmill yang sedang digunakannya berolahraga ke teras rumahnya.

Keringat deras mengalir di wajahnya. Ucapannya terhenti beberapa kali karena harus menarik napas, sebelum memberi penjelasan lebih lanjut mengapa alat olahraga yang biasa di letakkan di depan televisi di ruang keluarga akan dipindahkannya ke teras.

“Biar di sini (jadi) lebih luas, jadi bisa salat (berjamaah) di sini,” ujar kakek kelahiran Pisangan, Jatinegara itu, merujuk pada ruang keluarga di rumah mungilnya di salah satu kompleks perumahan di Bekasi Selatan.

Kakek berusia 68 tahun itu biasanya memang tidak pernah absen menjalankan salat subuh, salat magrib, salat isya dan tarawih di masjid dekat rumahnya setiap Ramadan. Jika tidak sedang bepergian, sehari-hari pun salat lima waktunya juga dilaksanakan di masjid tersebut.

Namun tampaknya Ramadan tahun ini akan sangat berbeda. Dirinya harus menjalankan semua ibadah wajib dan sunahnya di rumah saja bersama keluarganya, mengikuti anjuran pemerintah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna memutus mata rantai penyebaran virus corona baru yang mematikan itu.

Ia pun memiliki pandangan sendiri soal anjuran beribadah di rumah dan menjaga jarak fisik satu dengan lainnya untuk memutus penyebaran virus oleh pemerintah dan para ulama. Anjuran tersebut diambil berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki para ulama maupun ahli-ahli yang memberi dasar pengambilan keputusan pemerintah.

Sementara ilmu-ilmu pengetahuan tersebut sama halnya dengan ilmu tentang tata surya, ilmu kedokteran, ilmu kesehatan dan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di dunia diyakininya juga bersumber dan merupakan kebesaran Allah Swt yang diberikan pada umat manusia.

Karenanya, menurut dia, mengikuti anjuran para ulama dan ahli untuk melakukan jaga jarak fisik (physical distancing) berarti juga menjalankan ilmu Allah Swt.

Tidak ikut-ikutan ramai berdebat soal beribadah harus ke masjid atau di rumah saja di tengah pandemi, ia lebih memilih berusaha tidak melewatkan sedikitpun pahala berlipat ganda yang dijanjikan di bulan suci Ramadan dengan sudah bersiap-siap menyambut dengan suka cita di tengah keprihatinan dan keterbatasan mobilitas sehari-hari menghadapi pandemi Covid-19.

Bukan saja niat menyiapkan tempat ibadah di rumahnya, insinyur mesin yang gemar bercocok tanaman di pekarangan sempitnya itu pun sudah berencana membeli kurma sukari untuk persediaan berbuka di saat Ramadan nanti.

Madu di saat sahur dan kurma di saat berbuka, itu menjadi pelengkap nutrisi yang biasa ia konsumsi selama berpuasa Ramadan. Sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah saat berbuka puasa, dirinya meyakini mengonsumsi kurma memberikan tenaga lebih sehingga berharap puasanya akan berjalan lancar.

Namun ternyata persiapan menyambut Ramadan 1441 Hijriah bukan hanya beberapa hari terakhir ini saja dilakukannya. Kakek dengan dua cucu ini secara rutin sudah mengaji Al Quran setiap setelah menjalankan salat subuh dan magrib sebulan terakhir. "Biar nanti pas Ramadan bisa khatam Al Quran," ujar dia.

Paling berlimpah berkah

Ramadan adalah bulan ke sembilan dalam kalender Islam. Muslim seluruh dunia diwajibkan menjalankan Rukun Islam ke-4 yakni berpuasa saat Ramadan, dengan tidak makan dan minum di siang hari, mulai sebelum matahari terbit hingga matahari tenggelam, selama bulan tersebut.

Pada bulan tersebut, masjid akan menjadi semakin ramai dengan berbagai aktivitas keagamaan, saur dan buka bersama, selain oleh mereka yang menjalankan salat lima waktu. Namun di masa pandemi seperti saat ini, anjuran untuk tidak meramaikan rumah ibadah telah disampaikan para ulama di berbagai negara, demi menyelamatkan umat dari kemudaratan karena penyakit Covid-19.

Meski demikian pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym baru-baru ini mengatakan saat kondisi wabah penyakit yang merebak membahayakan umat seperti sekarang ini, melaksanakan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menjalankan salat di rumah untuk menghilangkan peluang kemudaratan karena penyebaran penyakit.

Ulama-ulama lebih tahu dan tentu mempunyai ilmunya perihal mana yang patut dilakukan maupun tidak dilakukan demi kemaslahatan umat.

Tarawih berjamaah dapat dilakukan dengan menyiapkan ruang ibadah khusus di sudut rumah sehingga dapat mengobati kerinduan ke masjid. Ia mengatakan Islam itu siap dengan segara kondisi.

Ramadan merupakan bulan berlimpah berkah dari Allah Swt sehingga menjadi bulan yang sangat dirindukan umat Muslim di dunia. Namun saat bulan yang ditunggu-tunggu itu tiba, terkadang manusia justru tetap disibukkan oleh pekerjaan, pendidikan, pertemuan dan hal-hal keduniawian lainnya yang membuat mereka merugi karena melewatkan ibadahnya.

Kali ini, menjadi Ramadan paling berlimpah berkah di tengah wabah Covid-19, karena upaya apapun yang dilakukan mereka untuk memeranginya merupakan ibadah dengan pahala yang lebih berlipat ganda. Dan bagi mereka yang harus bekerja, belajar dan beribadah dari rumah menjadi berkah tersendiri untuk lebih fokus beribadah Ramadan tanpa terpotong oleh kemacetan di jalan atau kegiatan-kegiatan tidak perlu lainnya di luar rumah.

Salah seorang pemimpin masjid di Texas, Amerika Serikat, Ustaz Mohamad Baajour dalam unggahan syiarnya di kanal YouTube baru-baru ini mengatakan Ramadan kali ini akan menjadi yang terbaik yang pernah ada, memang akan banyak tradisi Ramadan kali ini akan tertunda karena kebijakan jaga jarak fisik mengingat adanya pandemi Covid-19.

Namun puasa tetap dapat dilaksanakan, sedekah juga tetap dapat dilaksanakan secara daring, membaca dan mengkaji Al Quran juga tidak akan terdampak. Yang utama paling berbeda tahun ini bahwa tidak dapat ke masjid menjalankan salat wajib lima waktu dan tarawih, itu menjadi bagian ibadah Ramadan.

"(Tapi) Saya bisa membuat Ramadan kali ini menjadi Ramadan terbaik saya," ujar dia.

Ia bercerita ada seorang saudara Muslim yang selalu membuat lainnya iri karena selalu dapat menjalankan iktikaf di setiap 10 hari terakhir bulan Ramadan. Setiap awal tahun Muslim itu akan menginformasikan ke tempatnya bekerja bahwa setiap 10 hari terakhir di bulan Ramadan akan digunakannya sebagai libur tahunan demi mendedikasikan seluruh waktunya untuk ibadah.

Iktikaf dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridaan Allah Swt dan bermuhasabah atau introspeksi atas perbuatan-perbuatannya. "Saudara dan saudari ku, kamu punya 30 hari untuk iktikaf di rumah dan Insya Allah semua itu dapat dilakukan untuk ibadah," ujar dia.

Baajour mengatakan banyak orang berharap memiliki keberuntungan seperti itu dan dapat berada di rumah meninggalkan semua kegiatan untuk dapat berkonsentrasi pada ibadah Ramadannya. Ini saatnya, doa tersebut telah dijawab.

Tahun ini banyak di antara mereka akan berada di rumah selama pandemik. Meski mereka bekerja dari rumah tapi waktu untuk pergi dan pulang bekerja dapat dihemat, sehingga lebih banyak waktu dapat digunakan untuk berdoa pada Allah Swt.

Ia menyarankan agar umat Islam membuat rencana dengan baik saat Ramadan di rumah kali ini agar mendapat manfaat dari semua momen jika mendapat kesempatan menjalankan ibadah di Ramadan tahun ini.

Bangun lebih awal 10 hingga 15 menit sebelum sahur agar dapat menjalankan tahajud dua rakaat dan memperbanyak doa, memperbanyak istigfar sambil menunggu azan dan memperbanyak salat berjamaah di rumah. Pandemi Covid-19 bukan kehendak manusia, Insya Allah, Allah Swt akan memberikan balasan yang sama dengan beribadah di rumah, ujar Baajour. (antara)