Sikap Kami: Rindu Orde Baru

Sikap Kami: Rindu Orde Baru

ANDA pernah hidup di era Orde Baru dan sesekali merindukan suasananya? Mungkin, hari-hari ini, setelah hampir 22 tahun era reformasi, Anda mencium rasanya kembali.

Sebagian sebenarnya sudah kita rasakan selama ini. Korupsi dan kolusi yang menjadi musuh kita terhadap Orde Baru, tak terputus sejak era Presiden Soeharto itu tumbang. Kini bahkan kian merajalela. Merembet kemana-mana. Dari kelompok penyelenggara manapun, kecuali presiden.

Yang terbaru adalah munculnya kembali bau-bau nepotisme dalam sejumlah keputusan dan kebijakan pemerintah, termasuk sebagian orang yang berada di lingkar Istana. Mulai tercium sejak apa yang dilakukan dan terjadi pada staf-staf khusus milenial merebak.

Ada pada ulah stafsus milenial yang berkirim surat kepada camat mendukung program yang melibatkan perusahannya. Ada pula program darurat dalam format Kartu Prakerja yang menunjuk salah satu perusahaan stafsus milenial lainnya sebagai penyelenggara. Belakangan juga mencuat kerja sama nonformal sebuah kementerian dengan putra petinggi negara.

Hal-hal semacam itu terjadi di era Orde Baru. Korupsi, kolusi, nepotisme, melibatkan orang-orang dekat kekuasaan. Itu pula yang kita lawan dan membuat runtuhnya sebuah rezim.

Kita, sejatinya, bisa menjaga ruang tanpa nepotisme itu sejak awal keruntuhan Orde Baru. Sampai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sampai pada Presiden Joko Widodo periode pertama. Tapi, akhir-akhir ini bau itu menyengat kembali.

Lucu, tepatnya ironis, jika hal-hal semacam itu kita ulang kembali, apapun alasannya. Sebab, nepotisme mengundang peluang kolusi. Kolusi membuka ruang untuk korupsi. Kalau itu yang terjadi, apa bedanya kita kini dengan era yang pernah kita musuhi karena tiga persoalan tersebut?

Kita paham, KKN adalah musuh bersama sejak dulu. Itulah yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan kita, termasuk ekonomi. Kita tak ingin itu terjadi.

Kita harus belajar dari pengalaman pahit Orde Baru. Betapapun kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif sangat kuat --hal yang serupa juga terjadi saat ini, nyaris tanpa oposisi yang kuat-- hal serupa bisa jadi bumerang jika mayoritas rakyat berbalik menjadi oposisi.

Tak ingin kita seperti itu. Kecuali, kalau kita begitu merindukan Orde Baru. Tak hanya sekadar mencium baunya, tapi juga kembali seutuh –jiwanya. (*)