Kisah Rochma Firdaus, 'Srikandi' Penggagas Gerakan Sedekah Nasi

Kisah Rochma Firdaus, 'Srikandi' Penggagas Gerakan Sedekah Nasi
Dari satu bungkus nasi, bisa menghadirkan kebaikan. Itu lah semangat yang digaungkan oleh Rochma Indrawati Firdaus (kanan). Sosok Srikandi yang mengagas sebuah aksi sosial bernama Gerakan Sedekah Nasi. (Dok Facebook Rochma Indrawati Firdaus)

INILAH, Bandung- Dari satu bungkus nasi, bisa menghadirkan kebaikan. Itu semangat yang digaungkan oleh Rochma Indrawati Firdaus. Sosok Srikandi yang mengagas sebuah aksi sosial bernama Gerakan Sedekah Nasi.

Gerakan Sedekah Nasi yang digagas oleh ibu dua orang anak ini dimulai sekitar empat tahun lalu (sekitar tahun 2016) dan sesuai dengan nama gerakan amal ini, Rochma membagikan nasi bungkus atau nasi kotak gratis kepada warga yang membutuhkan seperti kaum dhuafa, jompo, dan yatim piatu.

Rochma, Selasa, menuturkan tayangan gerakan berbagi nasi disebut televisi nasional menjadi titik awal bagi dirinya menggagas Gerakan Sedekah Nasi.

"Waktu itu ada tayangan tentang berbagi nasi bungkus di Kick Andy dan itu pas hamil anak kedua. Kebetulan sejak masih kuliah saya suka ikut gerakan sosial atau amal. Dan dari sana mulai berpikir, ketika anak umur 14 hari, gimana nih caranya biar saya bisa tetap berbagi dengan sesama walaupun harus tetap di rumah dan mengurus suami dan anak. Akhirnya tercetus lah ide ini," kata dia.

Pada mulanya, Rochma memang hanya sendirian melakukan kegiatan sosial tersebut tapi setelah kegiatannya diunggah ke akun Facebook-nya, ternyata banyak temannya di dunia maya yang mengapresiasi dan tertarik ikut bergabung dalam Gerakan Sedekah Nasi.

"Waktu itu saya pilih hari Jumat untuk membagikan nasi gratis karena amalan dan pahala akan dilipatgandakan di hari Jumat. Saya masih ingat, saat itu saya membuat 20 nasi kotak dan minta dibagikan oleh suami di masjid dekat rumah dan responnya alhamdulillah disambut positif," kata dia.

Seiring berjalannya waktu, banyak warganet dan teman-temannya yang tertarik ikut berdonasi bahan makanan dan uang untuk Gerakan Sedekah Nasi.

Ketika semakin banyak warga yang bergabung dalam gerakan ini, kata dia, maka untuk memudahkan koordinasi Gerakan Sedekah Nasi dibuatkan sebuah grup di Whatsapp dan dipilih koordinator untuk pembagian di setiap daerah.

Gerakan Sedekah Nasi, kata Rochma, saat ini telah ada di 45 daerah di Indonesia mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, bahkan hingga ke Papua.

"Di tahun 2020, saya berniat tidak ingin hanya memberikan nasi gratis saya kepada yang membutuhkan tapi saya ingin mereka (penerima manfaat Gerakan Sedekah Nasi) itu naik level. Makanya Februari lalu saya menggagas Warung Sedekah," kata dia.

Seusai Gerakan Sedekah Nasi berlangsung di berbagai daerah, Rochma rutin mengunggah laporan kegiatan-kegiatan tersebut ke akun Facebook-nya dan semenjak itu semakin banyak pula yang ingin berpartisipasi dan membantu donasi.

"Semakin hari, semakin banyak yang share, semakin dikenal, dan alhamdulillah menular. Dan, lebih banyak lagi yang tertarik bergabung untuk bantu bahan-bahan masakan serta donasi," ujarnya.

Bertahan saat corona

Rochma mengatakan pandemik COVID-19 berdampak pada gerakan sosial yang digagasnya.

Kini, dirinya dan para koordinator Gerakan Sedekah Nasi di 45 daerah lainnya di Indonesia tidak bisa membagi-bagikan nasi bungkus kepada kaum yang membutuhkan karena gerakan tersebut mengundang massa dan hal tersebut bisa menjadi faktor penularan virus corona.

"Tentunya wabah corona ini sangat berdampak buat kita. Kita tidak bisa lagi membuat acara yang mengumpulkan massa seperti pembagian nasi bungkus," kata dia.

Agar bisa tetap melakukan gerakan sosial di saat wabah COVID-19, maka Rochma memilih untuk melakukan "jemput bola" saat
menjalankan aktivitas sosialnya.

"Gerakan di kita tetap berjalan tapi sekarang diubah caranya. Kalau dulu kita ke lapangan tapi saat corona berlangsung kita data siapa saja warga yang membutuhkan lewat koordinator kita di daerah-daerah. Jadi istilahnya jemput bola. Saat ini kami bergerak berdasarkan pengajuan warga yang benar-benar membutuhkan," kata dia.

Meskipun jumlah donatur di Gerakan Sedekah Nasi berkurang selama pandemik COVID-19 berlangsung, dirinya juga bersyukur karena gerakan untuk berbagi kepada sesama di masyarakat semakin banyak.

"Mungkin ini adalah hikmah di balik adanya corona. Saat ini bisa kita lihat banyak sekali saudara-saudara kita yang membuat gerakan atau donasi untuk diberikan kepada warga yang terdampak akibat corona ini," kata dia.

Selain itu, selama pandemik COVID-19, Rochma lewat lembaga sosial yang dibentuknya "Sahabat Langit" membagikan masker dan jamu imunitas gratis kepada warga yang membutuhkan di Bandung. (antara)