Sikap Kami: Untuk Apa Mudik?

Sikap Kami: Untuk Apa Mudik?

MESTINYA hanya ada satu reaksi atas kebijakan pemerintah melarang mudik. Satu-satunya itu yakni: kenapa baru sekarang keputusan ini diluncurkan.

Wacana larangan mudik ini sebenarnya sudah muncul hampir sebulan lalu. Presiden Joko Widodo bahkan secara informal menyatakan kesetujuannya. Tapi, seorang menteri menyatakan mudik tak dilarang, hanya tak dianjurkan.

Mestinya larangan ini saat itu sudah mulai diberlakukan. Atau, setidaknya, saat DKI Jakarta mulai menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jakarta, kecuali kepadatan tinggi, penduduk siangnya yang luar biasa, juga gerbang utama negeri ini. Maklum jika jadi kawasan sasaran awal virus corona.

Daerah-daerah yang warganya banyak mencari penghidupan di Jakarta, termasuk Jawa Barat, sudah sejak awal berteriak agar mudik dilarang. Agar warga mereka tak pulang kampung sambil berpeluang menjadi carrier virus corona.

Sudahlah. Meski sudah terlambat, keputusan ini harus kita dukung. Agar virus corona tak mudah menyerang ke kampung-kampung. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Sumatera dan perkampungan lain.

Sulitkah untuk tidak mudik? Sebenarnya, dalam kondisi wabah seperti sekarang, apa yang tidak sulit? Maka, larangan mudik ini, bagaimanapun, harus kita jalankan bersama-sama. Jika kita masih cinta kampung halaman dan warga kampung.

Lagi pula, kondisinya memang tidak baik untuk mudik. Selain karena ancaman pembawa virus, mudik pada saat lebaran pun membutuhkan dana tak sedikit. Dari mana mencari anggarannya pada saat seperti sekarang? Menguras simpanan?

Saat-saat seperti sekarang, bisa bertahan dalam kehidupan ekonomi yang normal saja sudah sulit. Hampir semua orang ekonominya terpapar corona. Lalu, untuk apa juga memaksakan mudik. Hanya akan membuat finansial yang sudah sulit akan semakin berat.

Tunjangan hari raya (THR) yang biasa digunakan untuk mudik, mungkin tak semua orang lagi mendapatkan. Alih-alih THR, sebagian saudara-saudara kita bahkan sudah mengalami PHK, sangat banyak pula jumlahnya yang dirumahkan.

Maka, jika pun memaksakan mudik –sesuatu yang juga dilarang pemerintah—risikonya hanya dua: bisa menjadi pembawa virus, bisa pula menyusahkan sanak famili di kampung halaman. Lalu, untuk apa mudik?