Biayai Operasi sang Suami, Endang Tertolong JKN-KIS

Biayai Operasi sang Suami, Endang Tertolong JKN-KIS
Endang Sri Kawuryani (54) dan suami. (istimewa)

INILAH, Bandung - Sebagai bentuk dukungan terhadap Program JKN-KIS, Endang Sri Kawuryani (54) dan keluarga telah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS sejak lama. Membayar iuran rutin setiap bulan merupakan niat tulus Endang, sapaannya, untuk membantu peserta JKN-KIS lainnya dan menjiwai semangat gotong royong yang diusung Program JKN-KIS.

Selama terdaftar menjadi peserta JKN-KIS, Endang mengaku tidak pernah memanfaatkan kartu kepesertaan JKN-KIS nya itu dan berharap tidak akan pernah menggunakannya.

Namun, Endang masih ingat tepatnya pada Agustus 2018 lalu, tiba-tiba sang suami, Yudi Halyanto (54), mendadak mengalami sesak. Keadaan tersebut membuat Endang sekeluarga sangat khawatir, mengingat suaminya jarang sekali mengalami sakit. Endang pun membawa suaminya menjalani pengobatan sesuai dengan alur dan prosedur pelayanan JKN.

“Sakitnya mendadak sekali, padahal tidak ada gejala. Akhirnya kami bawa berobat, dari mulai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pratama (FKTP), hingga dirujuk beberapa kali. Ternyata itu bukan sesak biasa, suami saya mengalami masalah dengan jantungnya,” cerita Endang, dikutip dari laman resmi BPJS Kesehatan Kota Bandung.

Saat menjalani perawatan di RSUP Hasan Sadikin sebagai peserta JKN-KIS, dokter menyampaikan bahwa suami Endang harus menjalani operasi jantung. Adapun operasi tersebut akan dilaksankan di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK).

Endang sangat terkejut, beberapa kali ia telah mendengar bahwa operasi jantung tidaklah murah, bahkan menelan biaya yang sangat mahal. Saat dilanda kekhawatiran, Endang baru merasa tenang saat tahu bahwa suaminya akan dirujuk dengan memanfaatkan JKN-KIS.

Saat harus dirujuk ke RS Harapan Kita, saya paham bahwa penyakit suami saya bukan main-main. Dokter bahkan bilang, ini penyakit yang jarang terjadi. Katup jantungnya rusak dan pembuluh darah besar sudah membengkak.

“Sejak Februari 2019, tidak kurang dari 50 hari suami saya dirawat inap di rumah sakit Pusat Rujukan Nasional tersebut, dari mulai masuk ICU, pemeriksaan dan observasi ulang, tindakan operasi dan pasca operasi, tidak terhitung biayanya sebanyak apa. Kalau ditotal bisa sampai 200an juta, tanpa JKN itu bukan hanya angka,” ungkapnya.

Sejak operasi tersebut, Yudi harus menjalani kontrol rutin. Setiap hari ia harus minum obat. Mengenang pengalaman tersebut, Endang sangat menyadari pertolongan JKN-KIS. Awalnya untuk membantu sesama, siapa sangka Endang justru dibantu oleh peserta lainnya.

“Saya tutup mata untuk biaya pengobatan suami saya, membayangkannya saja tidak sanggup. Kalau pakai uang sendiri pasti segala sudah habis. Saya sangat beruntung ada Program JKN-KIS, walau dulu sempat turun kelas karena ada penyesuaian iuran pada April 2016. Tetapi prinsip saya semua kelas sama saja. Lebih baik turun kelas, asal punya JKN-KIS, daripada menunggak atau tidak daftar sama sekali,” tutur Endang.

Di akhir ceritanya, Endang sangat bersyukur dengan pertolongan Program JKN-KIS. Ia yakin, ada ratusan bahkan ribuan orang di luar sana yang memiliki pengalaman sepertinya. Ucap syukur juga ia hanturkan karena kondisi suaminya semakin membaik, bahkan sekarang sudah gowes. (sur)