Ini yang Dirindukan Umuh Muchtar Selama Pandemi Covid-19

Ini yang Dirindukan Umuh Muchtar Selama Pandemi Covid-19
net

INILAH, Bandung - Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Umuh Muchtar turut merasakan kerinduan dengan segala kegiatan yang dilakukan sebelum terjadinya pandemi virus Corona (Covid-19). Satu di antaranya berkumpul dengan anak dan cucunya.

Umuh mengaku sudah cukup lama tidak berkumpul dengan anak dan cucu yang disayanginya ini. Sebab biasanya, perkumpulan ini dilakukan pada hari libur setiap pekannya.

"Yang paling dirindukan adalah ngumpul sama anak, cucu. Setiap Sabtu atau Minggu, semua kumpul di Tanjungsari. Sekarang tidak bisa kumpul karena harus jaga jarak satu sama lain," ungkap Umuh, Rabu (22/4/2020).

Umuh pun melarang anak dan cucunya ini untuk bertemu dengannya lebih dulu. Tak hanya karena mendukung imbauan pemerintah, namun karena ingin menjaga kesehatannya terutama dari Covid-19.

"Biar semua di rumah masing-masing. Menjaga kesehatannya meski saya sangat rindu," katanya.

Selain rindu anak dan cucu, pria yang akrab disapa Pak Haji ini berkeinginan untuk kembali melihat pertandingan sepak bola. Sebab menurutnya sepak bola merupakan hiburan satu-satunya.

"Sangat rindu persepak bolaan mulai lagi. Kalau semua ini (Covid-19) sudah selesai, Persib juga sudah bisa main lagi. Itu yang sangat gembira. Bukan cuma saya, tapi semua orang," katanya.

Umuh akui sangat mencintai olahraga sepak bola terutama Persib Bandung. Sehingga ketika kegiatan sepak bola ditunda, Umuh mengaku tak bisa menerimanya dan bahkan sedih.

"Saya sendiri maniak sepak bola. Mendarah daging dengan Persib," bebernya.

Meski demikian, Umuh terpaksa harus menerima kenyataan bahwa kegiatan sepak bola ditunda. Sebab penyebaran Covid-19 ini sudah meluas di Indonesia.

Terbukti, tak hanya sepak bola, namun seluruh kegiatan lainnya termasuk aktivitas masyarakat memiliki keterbatasan. Tujuannya hanya agar memutus rantai penyebaran Covid-19.

"Tadi juga saat memberi sambutan saya sambil menangis. Setiap hari Jumat tidak henti-hentinya menangis. Terus terang saja saya sedih. Tapi apa boleh buat, karena ini bukan larangan pemerintah saja, tapi demi kepentingan kita bersama," pungkasnya. (Muhammad Ginanjar)