Sopir Angkot Ngeluh di tengah Pendemi Covid-19, Begini Katanya

Sopir Angkot Ngeluh di tengah Pendemi Covid-19,  Begini Katanya
istimewa

INILAH, Bandung - Nasib menyedihkan harus diderita para sopir angkutan kota (angkot) selama pandemi virus corona atau Covid-19. Pasalnya, pendapatan mereka menurun drastis dikarenakan turunnya angka penumpang.

Satu diantara sopir angkot jurusan Cicadas - Cibiru, Budiman (44), mengungkapkan, pendapatan dirinya menurun tajam sejak tanggal (16/3). Penerapan sosial distancing membuat jumlah penumpang sangat minim.

Bahkan, lanjut Budiman, uang pendapatannya untuk operasional angkotnya seperti bensin saja tidak mencukupi. Padahal setoran dari pemilik angkot telah diturunkan.

"Wah drastis pisan boro-boro buat makan, buat bensin aja ga ketutup. Setoran 50 ribu, itu pun ga full awalnya 120 ribu," ucap Budiman saat ditemui di kawasan Bundaran Cibiru, Kota Bandung, Rabu (22/4/2020).

"Sejak tanggal 16 maret disitu (sosial distancing) mulai kelabakan, karena kebanyakan penumpangnya itu pelajar dan mahasiswa," lanjut Budiman.

Lebih miris lagi, Budiman menceritakan, dirinya pernah hanya mendapatkan uang sebesar 15 ribu satu kali pulang pergi. Hal itu terjadi semenjak pandemi virus corona atau Covid-19.

"Pernah sekali narik cuma sampai 15.000 rupiah, paling gede pulang pergi 25 sampai 30 ribu, itu udah paling bagus," ujar Budiman.

Padahal, sambung Budiman, sebelum adanya pandemi virus corona atau Covid-19, dirinya bisa mendapatkan uang lebih dari 100.000 rupiah. Akhirnya, Budiman pun lebih memilih menepikan angkotnya dan mengurangi operasional angkotnya.

"Kita juga jadi bingung untuk pergi, karena sepi. Kalau sebelum corona cukup lah buat makan," ungkap Budiman.

Ditemui ditempat yang sama, Satu diantara sopit angkot lainnya Jay (50) mengeluhkan, minimnya bantuan sosial yang diterima para sopir angkot. Pasalnya, selama ini bantuan sosial kebanyakan diterima oleh para pengemudi ojek online.

Padahal, sambung Jay, para sopir angkot juga memiliki keluhan yang sama seperti para ojek online.

"Kalau bantuan kebanyakan dikasih ke ojol, anglot jarang dikasih kalau ojol saya lihat tiap hari itu (ojol) dapat bantuan," tutur Jay.

"Semua yang ngasih bantuan kebanyakan nyari pangkalan ojol (ojek online), sementara kami harus mengemis dulu (mendekati tempat bantuan sosial)," pungkas Jay. (Ridwan Abdul Malik)