Kamerun Tangkap Tentara karena Bunuh Warga Sipil

Kamerun Tangkap Tentara karena Bunuh Warga Sipil
Presiden Kamerun Paul Biya. (antara)

INILAH, Yaounde - Otoritas di Kamerun mengumumkan pihaknya telah menangkap tiga tentara yang diduga terlibat penyerangan terhadap warga sipil di sebuah desa yang jadi lokasi pertempuran antara militer dan kelompok pemberontak.

Sejumlah tentara diduga telah membunuh tiga perempuan dan 10 anak-anak di Desa Ngarbuh, wilayah barat daya Kamerun, pada Februari. Para pelaku berusaha menutupi perbuatannya dengan membakar beberapa tempat di desa, kata pemerintah lewat pernyataan tertulis, Selasa (21/4).

"Setelah baku tembak, pasukan detasemen menemukan tiga perempuan dan 10 anak-anak tewas akibat perbuatan tersebut. Panik, tiga tentara berusaha menutupi perbuatan mereka dengan membakar desa," demikian pernyataan Pemerintah Kamerun.

Sesaat setelah pertempuran itu berakhir, pemerintah mengatakan tentaranya itu menjalani misi pengintaian di Desa Ngarbuh sebelum menerima serangan. Pertempuran antara dua pihak pun terjadi sehingga menyebabkan sejumlah kontainer minyak meledak dan menewaskan lima warga sipil, terang pemerintah.

Namun, di tengah tekanan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pegiat hak asasi manusia, pemerintah mengumumkan temuan terbaru dari hasil penyelidikan insiden tersebut. PBB pada Februari menyebut 22 orang tewas, 14 di antaranya anak-anak.

Informasi itu dihimpun PBB dari wawancara para penyintas, demikian kata James Nunan, seorang pejabat Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN OCHA). Akibat insiden itu, 600 orang melarikan diri dari desa itu.

Sementara itu, organisasi pegiat HAM, Human Rights Watch menyebut 21 orang tewas dan menerangkan tentara sengaja membunuh warga sipil dan membakar rumah mereka.

Kelompok pemberontak Anglophone yang bergerilya di wilayah barat daya dan barat laut Kamerun meminta pisah dari Kamerun dalam beberapa dasawarsa terakhir. Pertempuran antara pemberontak dan angkatan bersenjata Kamerun memuncak pada 2017 saat dukungan untuk memisahkan diri datang dari beberapa kelompok bersenjata.

Sejumlah saksi pertempuran pada masa lalu sempat memberi testimoni mengenai pelanggaran HAM yang mereka terima, tetapi pihak militer menyangkal pernyataan itu.

Bentrok antara militer dan pemberontak seringkali berlangsung di desa-desa terpencil yang dikelilingi oleh kebun kakao dan hutan. Pemberontak merupakan salah satu ancaman terbesar bagi pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Paul Biya yang telah berkuasa selama hampir 40 tahun.

Konflik antara militer Kamerun dan kelompok bersenjata berbahasa Inggris itu mulai setelah pemerintah menindak keras aksi unjuk rasa damai yang dilakukan sejumlah pengacara dan tentara pada 2016. Para demonstran mengeluhkan posisi mereka yang terpinggirkan di negara yang mayoritas penduduknya berbahasa Prancis. (antara)