Hari Bumi 2020, SBM ITB Ciptakan Ekosistem Pendidikan Bersinergi dengan Alam

Hari Bumi 2020, SBM ITB Ciptakan Ekosistem Pendidikan Bersinergi dengan Alam
Istimewa

INILAH, Bandung- Mendidik generasi masa depan yang dapat bersinergi dengan sistem alam sebuah keharusan saat ini. Karena itu bertepatan dengan peringatan hari bumi yang jatuh pada 22 April 2020 ini, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) berkomitmen untuk mencapai zero waste pada 2025. 

Diketahui, SBM ITB merupakan kampus yang sudah menerapkan PRME yaitu Principal Responsibility Management Educations yang digulirkan oleh PBB Sejak 2016.  

“Apa yang bumi butuhkan dari dunia pendidikan hari ini? Tidak lain adalah mendidik generasi masa depan kita yang bisa bersinergi dengan sistem alam,” ujar Melia Hariadi, Koordinator PRME SBM ITB melalui siaran pers, Rabu (22/4/2020).

Melia menjelaskan, pandemic Coronavirus Disease (Covid-19), telah membuktikan ketidaksiapan manusia mengantisipasi perubahan lingkungan. Bahkan kini, manusia dihantui berbagai ketakutan yang berimplikasi banyak pada sendi kehidupan.

“Kami mencoba memberikan pencerahan baru dalam sistem pendidikan bahwa bisnis hari ini dan masa depan harus terintegrasi dengan sistem alam,” ungkapnya. 

Untuk mencapai misi tersebut, mahasiswa SBM ITB tidak cukup menerima materi kuliah dari dosen kompeten. Pendidikan juga harus holistik dengan ekosistem sosial yang menjadikan arena kampus sebagai living laboratorium.

“Kami berkomitmen secara bertahap mewujudkan ekosistem pendidikan yang bersinergi dengan alam, baik dalam kebijakan pengelolaan kampus hingga praktek keberlanjutan sebagai kehidupan yang tidak terpisahkan dengan ekosistem sosial kampus,” tuturnya.

Berbagai langkah telah dilakukan SBM ITB untuk mencapai zero waste 2025 dan kampus dengan konsep circular economic. Di antaranya zero plastic waste yang telah diterapkan di kantin SBM ITB, di mana tidak diperkenankan menjual produk-produk berkemasan plastik. Para tenant yang merupakan mahasiswa dan komunitas ini didorong mencari cara-cara kreatif untuk mengganti kemasan plastik. 

“Reduce their waste and educate their consumer to be more environmental friendly,” ungkapnya.

Selain itu waste mapping and management. Untuk bisa menjadi zero waste campus, SBM ITB mencoba mengidentifikasi karakter waste yang ada di sekitar kampus dan mempelajari perilaku civitas SBM ITB dalam menghasilkan atau mengelola sampahnya. Dengan ini, ke depan akan dilakukan pemilahan sampah yang tepat guna dan menemukan stakeholder yang tepat untuk mengelolanya. 

Ada pula Energy Consumption Monitoring, di mana SBM ITB memonitoring konsumsi energinya. Dia berharap, ke depan pihaknya bisa memanfaatkan big data monitoring tersebut sebagai upaya untuk melakukan penghematan energi di lingkungan SBM-ITB.

Termasuk student workshops, yaitu creative with waste and waste become products yang bertujuan agar mahasiswa bisa melihat, pengelolaan sampah merupakan bisnis opportunity yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.

Hal lainnya, yakni Gardening with companion planting approach. Mengingat Bumi membutuhan bantuan manusia untuk membuatkankan oksigen-oksigen baru bagi manusia itu sendiri. Salah satu cara yang dilakukan SBM ITB adalah berkebun. Selain membantu bumi, gardening SBM memiliki fungsi lain. Yakni memperkenalkan kepada civitas SBM ITB manfaat dan kesempatan dari tumbuhan-tumbuhan yang ditaman tersebut.

Dia menyampaikan, kebun adalah titik awal bagi SBM untuk membagun ekosistem pendidikan living lab menuju circular economy.

“Langkah SBM menuju kampus circular economy masih panjang, tapi kini kami sudah menuju kesana. Becoming circular economy living lab campus is our dream,” pungkasnya. (riantonurdiansyah)