#DiRumahSaja Perkuat Esensi Ramadan

#DiRumahSaja Perkuat Esensi Ramadan
Ilustrasi (antara)

INILAH, Denpasar - Imbauan "#DiRumahSaja" untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 bukanlah hal mudah bagi siapapun yang selama ini banyak bekerja di luar rumah, karena kejenuhan pasti akan datang juga.

Apalagi, imbauan itu diperpanjang terus hingga lebih dari satu bulan. Coba bayangkan, Apa tidak jenuh ya?!.

Yang menarik, imbauan itu ternyata tidak jauh dari bulan suci Ramadan yang di dalamnya penuh dengan serangkaian ibadah mulai dari puasa, Salat Tarawih, tadarus Al-Quran, dan Zakat Fitrah. Tentu, serangkaian ibadah itu akan terasa mudah bila dilaksanakan dengan #DiRumahSaja, apalagi bila cuaca di luar cukup panas.

Dari serangkaian ibadah itu, Ramadan boleh dianggap sebagai Bulan Al-Quran. Artinya, manfaatkan waktu #DiRumahSaja dengan memperbanyak membaca Al-Quran sebagai rasa syukur atas segala nikmat-Nya, sebab sesungguhnya nikmat-Nya itu lebih banyak daripada musibah atau ujian-Nya yang diberikan kepada kita..

Rasulullah bersabda "Afdholu ibadati ummati qiroatul Quran" (Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Quran). Beliau juga bersabda "Barangsiapa membaca Al-Quran, ia benar-benar melangkah naik menuju derajat kenabian di kedua sisinya, hanya saja tidak diberikan wahyu kepadanya".

Sabda yang lain adalah "Sesungguhnya Allah Swt mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, Siapakah mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab, Para ahli Al-Quran. Merekalah keluarga Allah dan hamba khusus-Nya". Itulah beberapa sabda Rasulullah tentang keutamaan membaca Al-Quran bagi umat Islam.

Keutamaan membaca Al-Quran akan semakin besar lagi di bulan Ramadan. Imam An-Nakho'i mengatakan "Puasa satu hari di bulan Ramadan itu lebih utama daripada puasa 1.000 hari di selain bulan Ramadan, membaca Tasbih satu kali di bulan Ramadan lebih baik daripada membaca Tasbih 1.000 kali di selain bulan Ramadan, satu rakaat di bulan Ramadan lebih utama daripada 1.000 rakaat di selain bulan Ramadan, berinfaq shadaqah di bulan Ramadan, maka pahalanya akan dilipatgandakan sebagaimana berinfaq shadaqah fisabilillah".

Bahkan, Imam Ahmad ibnu Hanbal dalam kitab "Hasiyyah Al-Baijuri 'Ala Jauharah At-Tauhid" bercerita bahwa beliau melihat Allah dalam mimpinya sebanyak 99 kali, maka ketika menjelang malam yang ke-100 pun berniat, seandainya aku bermimpi lagi, maka aku akan mengajukan sebuah pertanyaan kepada-Nya.

Akhirnya benarlah, beliau pun melihat-Nya lagi. Dalam mimpi tersebut, Imam Ahmad bertanya kepada Allah bahwa 'Wahai Tuhanku! Amalan apa yang paling cepat mengantarkan para muqorrobin memperoleh kedekatan dengan-Mu ?' Allah menjawab 'Tilawatu kalami (membaca kalam-Ku/Al-Quran), lalu Imam Ahamad pun bertanya lagi 'Bifahmin au bighoiri fahmin (dengan memahami maknanya atau dengan tanpa memahami maknanya)? Maka, Allah menjawab, 'Bifahmin au bighoiri fahmin (dengan memahami maknanya ataupun tidak)".

Dalam Hadits lain disebutkan "Puasa dan Al-Quran, keduanya akan memberi syafaat kelak di hari kiamat" (HR. Ahmad, Thabrani, Al Hakim/Shahih).

Hadits lain menjelaskan syafaat Al-Quran itu setidaknya ada tiga bentuk yakni Al-Quran akan menjadi penerang/lampu selama di alam barzah (alam kubur yang gelap), Al-Quran akan menjadi pendamping saat manusia takut menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, dan Al-Quran akan menjadi teman selama jutaan tahun di alam barzah hingga kiamat. Bahkan, syafaat Al-Quran juga akan menjadi saksi pada saat hisab-Nya.

Kalau dibandingkan dengan para ulama yang bisa khatam Al-Quran berkali-kali dalam satu bulan, maka masyarakat awam pun bisa khatam Al-Quran minimal satu kali setahun dengan cara yang sangat mudah yakni Al-Quran itu 600-an halaman, sedangkan setahun itu ada 365 hari (=300 hari). Artinya, sehari cukup membaca dua lembar (=600 lembar), maka setahun khatam (=600/300 hari) dengan diskon 65 hari (dua bulan) bila berhalangan. Mudah, bukan?!.

Apalagi, dalam situasi #DiRumahSaja yang mungkin banyak waktu luang, bahkan khatam Al-Quran dalam masa #DiRumahSaja itu justru memperkuat esensi Ramadan, karena Ramadan biasanya melakukan tadarus di musala  atau di masjid dengan pengeras suara, tapi Ramadan yang bersamaan dengan anjuran #DiRumahSaja akan membuat siapapun bisa khatam Al-Quran yang benar-benar hanya untuk Allah, khatam tanpa diketahui banyak orang.

Ya, Ramadan dalam masa wabah Covid-19 (#DiRumahSaja) akan meruntuhkan praktik keagamaan yang simbolik selama ini menjadi benar-benar esensial yakni hanya untuk Allah (lillahi Ta'ala). Salat Tarawih yang dilakukan berjamaah di musala diganti dengan berjamaah di rumah, maka DiRumahSaja (Covid-19) meruntuhkan simbol tarawih di tengah banyak orang di musala/masjid.

Puasa yang dilakukan dengan buka bersama (bukber) dengan teman, maka #DiRumahSaja (Covid-19) meruntuhkan simbol puasa di tengah banyak orang diganti dengan puasa di rumah dengan keluarga inti. Demikian pula dengan Salah Tarawih di masjid atau musala, serta Salah Id dengan mukenah dan baju baru. Khatam Al-Quran juga demikian. Ibadah haji/umrah juga demikian. Dan, simbol-simbol keagamaan lainnya. Mari menjalani berbagai ibadah tersebut di rumah saja, dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap rida Allah Swt. (antara)