Perajin Sarung dan Peci Kabupaten Bandung Tak Berdaya Diterjang Pandemi Virus Corona

Perajin  Sarung dan Peci Kabupaten Bandung Tak Berdaya Diterjang Pandemi Virus Corona
net

INILAH, Bandung - Pandemi virus corona meluluhlantakkan beberapa sektor usaha diantaranya usaha tektil sarung Majalaya. Gara-gara virus penyebab Covid-19 itu, ribuan kodi sarung yang seharusnya "marema" saat bulan Ramadan dan hari Raya Idul Fitri menumpuk di gudang tak bisa diserap pasar.

Ketua Paguyuban Perajin Tektil Sarung Majalaya Aef Hendar Cahyad mengatakan, sejak sebulan terakhir ini usaha pembuatan sarung Majalaya rata rata berhenti beroperasi. Stok sarung yang diproduksi selama setahun tak dapat diserap pasar karena toko-toko dan pasar tutup. Di Majalaya saja ada sekitar 100an lebih perajin sarung nasibnya terpuruk terkena imbas virus corona.

"Kalau sarung kan setiap hari produksi dan setiap bulan itu keluar sekitar 20 persennya saja. Nah "marema"-nya itu sekarang, stok selama setahun itu biasanya habis dijual selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Tapi gara-gara wabah virus corona ini, stok di gudang enggak terjual, ada lah sekitar 5.000 kodi mah. Pengusaha sarung Majalaya lainnya juga sama kondisinya seperti saya, ini mah bukan tiarap lagi tapi sudah "nangkuban" (tengkurap) dan enggak bisa apa apa lagi," kata Aef yang dihubungi melalui ponselnya, Selasa (28/4/2020).

Menurut Aef, produksi sarung di tempatnya terpaksa dihentikan sejak sebulan lalu. Sebanyak 90an orang pegawainya pun harus dirumahkan. Kondisi ini memang cukup berat bagi para pelaku usaha. Sebab, meskipun usaha berhenti namun beberapa kewajiban harus tetap dilaksanakan. Seperti upah pegawai dan operasional pabrik harus tetap dibayarkan. Kemudian, angsuran  pembayaran ke bank pun harus tetap dibayar.

Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, Aef berharap adanya campur tangan pemerintah. Salah satunya yakni soal kebijakan relaksasi utang perbankan. Karena meskipun sudah ada pernyataan Presiden Joko Widodo agar perbankkan melakukan relaksasi. Namun kenyataan dilapangan tetap saja nasabah harus membayar kewajibannya tanpa ada pengecualian. Padahal disatu sisi, usaha mereka sedang dalam keadan tidak berdaya.

"Saat ini, kondisi dagang pun tidak bisa karena hampir seluruh toko-toko tutup. Otomatis usaha enggak jalan, tapi kami tetap harus bayar beberapa kewajiban. Bayar upah pegawai dan cicilan ke bank. Karena bank itu enggak mau tahu usaha kita jalan atau enggak. Kami harap pemerintah itu kalau mengeluarkan kebijakan itu yah harus sama dengan di lapangan dong, kalau sekarang kan bank mah tetap saja enggak mengikuti perintah presiden untuk relaksasi," ujarnya.

Hal senada dikeluhkan para perajin kopiah atau peci hitam di Kampung/Desa Langonsari Kecamatan Pameungpeuk. Gamal Azhar, salah seorang perajin kopiah atau peci di Kampung Lagonsari mengatakan, dampak dari wabah virus corona ini dia kehilangan ratusan kodi pesanan peci. Padahal, biasanya saat bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri saatnya "marema" bagi para perajin peci seperti dirinya. Namun saat ini, sepuluh orang pekerjanya pun sebagian diantaranya terpaksa dirumahkan.

"Biasanya kalau bulan puasa sampai Idul Fitri itu pesanan lebih dari 200 kodi. Bahkan banyak pesanan yang enggak bisa saya layani. Kalau sekarang cuma ada sekitar 20 pesanan saja. Di kampung ini ada empat perajin peci dan kondisinya sama seperti saya, sepi pesanan," kata Gamal yang juga pemilik merek dagang peci HM Toha Manis itu.

Menurut Gamal, jika dalam keadaan normal sebelum Ramadan itu biasanya pesanan sudah ramai datang kepada para perajin. Pesanan ini bukan cuma dari daerah Bandung saja, melainkan datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darusallam.  Namun sayangnya,  pandemi virus corona yang terjadi sejak dua bulan terakhir ini telah menggerus usaha yang sudah mereka lakoni puluhan tahun lalu itu.

"Kalau sekarang saya cuma ada pesanan beberapa kodi saja  ke Tangerang dan beberapa pesanan dari lokal sekitar Bandung saja. Biasanya kalau mau lebaran itu pesanan bisa sampai ke luar Pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Sekarang mah masih ada pesanan sedikit juga masih untung," ujarnya.

Gamal melanjutkan, sentra pembuatan peci di Kampung Langonsari itu telah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Ayahnya adalah perintis usaha pembuatan peci hitam di kampung itu. Berkat ayahnya juga lah kampung itu hingga kini dikenal sebagai sentra pembuatan peci di Jawa Barat. Sepanjang perjalanan usahanya, ia mengaku baru kali ini mengalami kesulitan usaha yang cukup hebat.

"Disini sentra pembuatan peci sejak puluhan tahun lalu. Tapi gara gara serangan virus corona yang tiba tiba, kami tidak sempat melakukan alih produksi untuk membuat produk selain peci yang mungkin masih bisa diterima oleh pasar dalam situasi seperti ini. Sekarang  kami enggak bisa produksi banyak, pekerja cuma setengahnya yang masih kerja menyelesaikan pesanan," ujarnya.

Di kampung ini tercatat ada lima perajin peci hitam yang cukup ternama, yakni HM Toha Manis, Harmonis, Melati, Tiga Negeri dan Mutiara. Produksi peci dari kelima produsen ini bisa mecapai 60 ribuan potong peci yang dijual ke semua pulau di Indonesia bahkan hingga ke luar negeri. (Dani R Nugraha)