Progres PSBB di Jabar, Seperti Apa?

Progres PSBB di Jabar, Seperti Apa?
Foto: Syamsuddin Nasoetion

NILAH, Bandung- Sejumlah daerah di Jawa Barat telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memuntus rantai penyebaran Covid-19. Dimulai dengan lima daerah di Bodebek kemudian Bandung Raya yang saat ini tengah melewati pekan pertama PSBB. 

Juru Bicara Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jawa Barat Berli Hamdani Gelung Sakit memaparkan perkembangan dan evaluasi pemberlakuan PSBB Bodebek dan Bandung Raya terhadap jumlah kasus Covid-19 di Jabar. 

"Saya sampaikan, kalau kemarin sudah disampaikan ada penurunan kasus terutama di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kota Bogor. Bahkan angkanya itu 38,5 persen," ujar Berli, Sabtu (28/4/2020). 

Bilamana mengacu pada sebaran kasus Covid-19 di Bodebek, dia mengklaim selama sembilan hari melaksanakan PSBB menujukan penurunan. Namun, Berli menambahkan, secara wilayah menujukan perluasan.

"Jadi sebarannya melebar. Demikian juga dari 50 kasus yang tadi ada tambahan beberapa hari ini, itu juga menunjukan dari daerah daerah tersebar. Kemudian juga sebagian sebaran dari PDP, relatif sama tapi jumlah dari PDP sendiri di Bodebek cenderung meningkat terutama di Kabupaten Bogor," paparnya.

Dari lima daerah di Bodebek yang menerapkan PSBB, Berli menyampaikan, Kabupaten Bekasi menjadi daerah yang terbanyak mencatat kesembuhan Covid-19. Di mana pertambahan warga yang sembuh dari virus Corona ini memang cenderung meningkat dalam setiap harinya.

"Secara umum terjadi pertumbuhan kasus positif terutama di Kota Depok dan Kota Bogor," imbuh dia. 

Sedangkan untuk evaluasi PSBB di Bandung Raya, Berli menilai, sejauh ini memang belum menunjukan tanda-tanda perubahan, baik itu dari tambahan maupun sebaran kasus. 

"Kemudian secara total juga masih menunjukan tren meningkat untuk kategori yang sembuh, yang positif dan memerlukan perawatan di RS," ungkap Berli. 

Lebih lanjut, Berli pun mengaku terjadi kasus kematian PDP pada beberapa kota kabupaten di Jabar. Menurut dia, sebagian besar lantaran belum sempat dilakukan pemeriksaan atau hasil pemerikasaan belum keluar.  

Karena itu, pihaknya akan berupaya melakukan tes masif kepada masyarkat di Jabar baik di daerah menjalani PSBB maupun tidak.

"Nah untuk PSBB sendiri  kita sudah menyepakati langsung  pemerikasaan Swab.  Jadi tidak rapid tes untuk di PSBB tapi langsung Swab," katanya. 

Diketahui, pihaknya telah melakukan jemput bola untuk  mengambil reagen polymerase chain reaction (PCR)  di Bandara Soekarno-Hatta, DKI Jakarta, Sabtu (25/4/2020) malam. Diketahui reagen PCR tersebut didatangkan dari Korea Selatan dan Tiongkok yang disalurkan Gugus Tugas Covid-19 Nasional.

Adapun kuota untuk Jawa Barat yaitu 21.000 reagen yang bisa digunakan untuk menambah kapasitas laboratorium kesehatan daerah (Labkesda).

"Kita menerima hampir 21 ribu reagensia kit tapi ternyata itu untuk melalukan ektraksi secara manual, jadi tetap ada kendala kendala, jadi mesinnya belum bisa secara penuh dalam satu hari di atas 1000 pemeriksaan. Ke depan kami berupaya meningkatkan lagi upaya pelayanan yang lebih baik," ungkapnya.

Sementara untuk Rapid Diagnostic Test (RDT), pihaknya telah menyebarkan sebanyak 100 ribu untuk kabupaten kota di Jabar. Dari jumlah tersebut, sekitar 96 ribu telah digunakan. 

"Yang masih tersisa sekitar 4000-an (RDT), dan kita sebenarnya sudah melakukan pemesanan supaya ditambahkan lagi baik dari pemerintah pusat maupun kita upayakan dari sumber lainnya termasuk dari donatur. Sehingga kalau itu bisa terlaksana tentunya target untuk rapid tes kita hampir 300 ribu itu bisa segera terwujud," beber dia. (riantonurdiansyah)