Peluang Sektor Pertanian Dibalik Pandemik Covid-19

Peluang Sektor Pertanian Dibalik  Pandemik Covid-19
Foto : Dr. Sri Ayu Andayani ( Dosen Fakultas Pertanian Universitas Majalengka )

Oleh :   Dr. Sri Ayu Andayani   ( Dosen Fakultas Pertanian Universitas Majalengka ) 

Covid-19 terus mewabah mulai dari Januari 2020 di berbagai Negara tak terkecuali juga di Negara kita tercinta yang semakin marak di bulan Maret 2020 dan sekarang sudah menjadi pandemic. Coronavirus Disease  2019 merupakan jenis baru virus corona yang sebelumnya  belum diidentifikasi pada manusia dan penyebab dari virus ini adalah sindrom pernapasan akut parah corona virus 2 (SARS-Cov-2). Wabah virus ini dimulai dari kota Wuhan Provinsi Hubei yang begitu cepat penyebarannya dan terus mempengaruhi kota-kota lainnya di China begitu pula dengan cepatnya menyebar ke Negara-negara lainnya. Di setiap benua terdapat beberapa Negara yang terjangkit virus ini diantaranya yaitu Amerika, Afrika, Asia, Australia, Eropa.

    Begitu pula mewabahnya virus ini sangat cepat di Negara kita yang diawali di Daerah khusus Ibukota Jakarta terhitung tanggal 21 Maret 2020 sebanyak 267 orang yang terpapar positif dan sebanyak 23 orang yang meninggal akibat virus ini. Tak lama kemudian hanya hitungan hari orang yang terpapar virus ini segera menyebar ke berbagai kota di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Bali, Banten, Jogjakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Lampung, dan Riau serta beberapa kota yang masih dalam proses investigasi. Bulan April ini masyarakat yang terpapar positif covid-19 semakin meningkat di berbagai wilayah walaupun ada beberapa orang pasien yang terpapar sudah dinyatakan sembuh tetapi banyak pula masyarakat yang potensi positif virus ini. namun secara umum angka kematian pasien akibat virus corona ini semakin meningkat secara signifikan di Indonesia.

    Masyarakat harus jeli dengan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat virus ini pada umumnya yaitu mengalami demam hingga mencapai 38 derajat Celcius, kelelahan, batuk kering yang terus menerus, sesak nafas bahkan merasakan nyeri, juga sakit tenggorokan, mual, flu bahkan ada yang mengalami diare juga walaupun tidak semua gejala- gejala ini terdapat pada pasien yang terpapar, ini tergantung dari imun kondisi tubuh seseorang. 

    Melihat kondisi demikian, pemerintah Indonesia terus berupaya melakukan pencegahan dan penanganan akibat covid-19 baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Akibat adanya pandemic covid-19 ini kebijakan yang sekarang diterapkan yaitu pembatasan social (social distancing) yang sekarang berubah menjadi menjaga jarak fisik (physical distancing) yaitu meminimalisir kontak dengan orang, menjaga jarak minimal 1 meter jika ada pertemuan, rajin membersihkan diri sesuai anjuran pemerintah. Sementara karantina wilayah (lockdown) masih pro kontra walaupun ada beberapa wilayah yang sudah menerapkan kebijakan ini. tetapi kalau kita lihat konsep lockdown di Negara Italia yang telah diterapkan justru meningkatkan korban kematian yang terpapar dikarenakan rakyat Italia tidak disiplin, transportasi umum masih beroperasi sehingga menyebarkan virusnya sangat cepat. Unik pula yang dilakukan Negara Inggris dalam menangani Covid-19 ada salah satu langkah pendekatan yang dilakukan dengan istilah herd immunity yaitu dengan membiarkan virus ini menyebar ke seluruh masyarakat Inggris karena dengan anggapan masyarakat akan mempunyai kekebalan baru terhadap virus ini. Beda dengan Negara Vietnam yang begitu gesit dan sangat cepat tanggap darurat mulai dari awal pebruari 2020, Negara ini sudah menutup semua penerbangan ked an dari Cina dan membatalkan semua penerbangan asing, menutup semua sekolah-sekolah juga mengisolasi orang yang terpapar serta melacak sumber virus itu, karantina selama 21 hari sehingga di Vietnam ini hanya terdapat 241 kasus corona dan dinyatakan sembuh 90 persen pasien yang terpapar maka kematian di Vietnam nol (Tempo, 2020).

    Pandemik covid-19 ini menghasilkan dampak beragam terhadap social ekonomi berbagai lapisan masyarakat tak terkecuali para petani. Perubahan social dapat terlihat dengan adanya pandemic virus ini, dimana perubahan ini sesuatu yang jauh dari apa yg direncanakan bahkan suatu perubahan yang yang tidak diinginkan masyarakat (Hamid, 2016). Dampak Covid-19 ini pun berimbas ke semua sector terutama sector ekonomi. Asian Development Bank (ADB) menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh hanya 2,5% pada tahun 2020 akibat virus ini, dan Bank Indonesia pun sama memprediksikan pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan dan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 sebesar 2,9%,  bahkan Menteri Keuangan Republik Indonesia yang dikutip CNN Indonesia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan bahkan dalam kondisi terburuk bisa mengalami minus sampai 0,4%  kondisi ini dipicu karena sangat terjadinya penurunan investasi maupun konsumsi baik itu oleh rumah tangga maupun lembaga pemerintahan ataupun karena lemahnya kondisi lingkungan eksternal maupun lemahnya permintaan dalam negeri (ADB, 2020). kondisi anjloknya rupiah pun semakin memperburuk keadaan perekonomian di negara kita, hal ini diakibatkan karena semakin menurunya kinerja pasar keuangan global, menurunya permintaan dunia yang dampaknya terhadap kondisi konsumsi dan produksi barang dan jasa yang semakin menurun. Melihat kondisi demikian, Bank Indonesia terus melakukan koordinasi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan monitoring dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya.

    Dengan konsep physical distancing yang dianjurkan pemerintah juga berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah dilakukan di setiap wilayah, maka semua orang tetap di rumah, bekerja di rumah melakukan aktivitas di rumah dan tidak melakukan aktivitas ke luar rumah, tidak berbelanja keluar sebagaimana mestinya disaat kondisi normal. kondisi begini berdampak untuk semua sector, semua kondisi perekonomian masyarakat, baik itu berdampak terhadap kegiatan pariwisata apakah itu kunjungan destinasi wisata, perhotelan, travel, manufaktur pun banyak menurunkan produksinya bahkan tidak sedikit yang menghentikan kegiatan produksinya karena permintaan turun drastis. Namun demikian ada beberapa hal yang dilarang dan diperbolehkan di saat PSBB ini seperti yang dikutip dari Humas Polda Jabar yaitu adanya pembatasan trasnportasi semua moda baik udara, laut, kereta api, jalan raya umum dan pribadi tetap berjalan dengan adanya pembatasan jumlah jarak dan jumlah penumpang pengecualian untuk transportasi barang kebutuhan dasar masyarakat, kendaraan roda dua hanya diperbolehkan mengangkut barang, pelarangan kegiatan sosial dan budaya dengan adanya pertemuan politik, pertemuan olahraga, hiburan maupun akademik begitu pula semua sekolah dan tempat kerja di liburkan serta semua tempat ibadah di tutup. Dibalik kondisi pandemic ini ada beberapa tempat usaha yang diperbolehkan tetap beroperasi yaitu supermarket/minimarket/pasar/toko, pembangkit listrik, layanan transmisi dan distribusi, toko bangunan serta toko ternak pertanian, penyedia layanan internet, penyiaran dan layanan nirkabel, layanan ekspedisi barang, media cetak dan elektronik, distribusi bahan bakar, minyak, gas, bensin, apotek serta toko peralatan medis, Rumah sakit. Puskesmas, Perbankan, Kantor Asuransi, ATM, dan layanan system pembayaran, layanan pasar modal.

    Dengan demikian, walaupun ditengah pandemic covid-19, dengan berbagai dampak yang menyisakan berbagai permasalahan namun dapat dikaji dibalik semua ini kebutuhan pangan dan penguat imunitas atau kekebalan seseorang tetap diperlukan dan hal ini didapatkan dari sector pertanian. Sektor pertanian memegang peran penting dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan bahan pangan, tak terkecuali dalam pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya apakah itu sebagai bahan baku industry olahan makanan maupun bahan konsumsi langsung. Pertanian meliputi bahan pangan, hortikultura, tanaman obat-obatan, buah-buahan kecuali tanaman hias yang saat ini menjadi kunci dalam ketahanan berbagai situasi, baik dalam kondisi krisis moneter, krisis dalam perdagangan bahkan dalam kondisi pandemi covid-19. Sector pertanian juga merupakan sector non migas yang dalam kondisi pandemic ini dapat dikatakan sebagai sector yang paling bertahan karena hamper semua kebutuhan pangan bersumber dari sector pertanian.

    Sektor pertanian Negara kita selama ini masih belum mampu memenuhi semua kebutuhan akan pangan masyarakat Indonesia sehingga masih ada kebijakan pemerintah untuk impor, tetapi dengan pandemic covid-19 ini semua perdagangan dari dan ke luar negeri sudah tidak memungkinkan lagi maka kondisi ini meningkatkan peluang kita dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas sector pertanian bahkan dengan dapat menghasilkan berbagai produk pangan untuk pemenuhan kebutuhan wilayah masing-masing harus bisa dijadikan peluang. Dengan lockdown dan PSBB, para petani dapat focus dengan kegiatan usahatani masing-masing di wilayahnya dengan tetap menerapkan physical distancing.  Impor tidak bisa dilakukan lagi, kesempatan petani inilah harus dijadikan peluang, petani bisa melaksanakan usahatani mulai dari kebutuhan pangan masyarakat disaat pandemic padi bisa petani tanam, palawija juga bisa ditanam disaat kondisi begini, sayuran untuk kebutuhan sehari-hari pun bisa ditanam begitu pula dengan buah-buahan. Kondisi physical distancing yang tidak mempolehkan masyarakat keluar rumah bersentuhan dengan orang lain, maka marketing dari produk pertanian sudah dapat dilakukan dengan teknologi informasi yaitu secara online. Para petani selain dapat memanfaatkan peluang untuk meningkatkan produksi juga menambah wawasan dalam berinovasi melakukan kegiatan marketing. Kondisi ini pun menambah peluang juga dalam meningkatkan produk turunannya yaitu melakukan kegiatan subsistem dari agribisnis yaitu proses pengolahan yang akan meningkatkan nilai tambah. Peluang semacam ini harus ditangkap oleh para petani yang berskala menengah ke bawah karena merupakan kesempatan yang baik dalam meningkatkan kualitas maupun kuantitas, Selain kehilangan impor, kondisi ini memungkinkan para petani terus meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pangan wilayah masing-masing. Dengan konsep PSBB pun, masyarakat sudah dapat memulai melaksanakan produksi sendiri yang mempunyai pekarangan luas harus sudah dapat memanfaatkan peluang ini minimal untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya ataupun dengan teknologi yang semakin bagus dalam konsep pertanian menggunakan polybag yang lahan pekarangannya sempit bahkan nyaris tidak mempunyai lahan untuk ditanami tanaman. Konsep hidroponik dapat dijadikan salah satu alternative karena dalam konsep ini dapat melakukan kegiatan budidaya tanaman dengan tidak menggunakan tanah lagi sebagai media tanam tetapi dapat memanfaatkan air yang telah diberi nutrisi untuk tanaman sehingga hasilnya pun mempunyai produktivitas tinggi. Dapat juga dikatakan sebagai konsep pertanian verticulture (vertical and culture) merupakan konsep dalam melakukan budidaya tanaman secara vertical atau melakukan budidaya secara bertingkat karena tidak mempunyai lahan sebagai media tanamnya.

International Monetary Fund (IMF) menjelaskan bahwa ada 3 negara asia yang mampu bertahan dengan kondisi covid-19 dan Indonesia adalah salah satunya, hal ini dikarenakan Negara kita sebagai Negara agraris dimana hampir sebagian besar masyarakat mengandalkan kehidupannya dari sector pertanian dan inilah yang menyebabkan kekuatan dalam kondisi sesulit apapun termasuk disaat covid-19. Sector pertanian sebagai pengaman di saat kondisi krisis maupun wabah dan pertanian untuk masyarakat Indonesia adalah sebagai way of life, dan kebutuhan dasar setiap orang berasal dari pertanian, peternakan. Pertanian ini merupakan usaha yang menjanjikan dan berpeluang sehingga dapat dikatakan kalau pertanian adalah sebagai suatu bisnis. Di saat kondisi pandemic ini peluang pertanian sangat besar.

    Peluang sector pertanian saat kondisi pertumbuhan ekonomi yang memburuk harus diraih para petani dan steakholder yang terlibat pun seperti halnya akademisi,fasilitator/penyuluh, pemasar dan lain sebagainya terus memberikan dukungan sesuai bidangnya. Ada beberapa point yang dapat disimpulkan terkait peluang sector pertanian yaitu: (1) sector pertanian sebagai sector pengaman disaat pandemic sehingga harus dijadikan peluang yang besar oleh para petani untuk terus menjadi pahlawan bagi bangsa ini dengan tetap melaksankan produksi sesuai standar operasional prosedur (SOP) terutama dalam melakukan usahatani komoditas-komoditas sesuai anjuran kementerian pertanian yaitu padi, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, telur, bawang merah, cabai merah juga produk olahannya sehingga senantiasa dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, (2) dengan kondisi saat ini dapat berpeluang dalam mengurangi saluran pemasaran produk pertanian sehingga para petani dapat menimgkatkan kesejahteraan mereka dengan tidak banyaknya lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat sehingga efisien proses pemasaran, (3) digitalisasi pada sector pertanian sangat berpeluang tinggi, baik itu mulai dari proses budidaya sampai proses pemasaran dari pertanian tradisional atau konvensional beralih ke pertanian modern sehingga hal ini akan menumbuhkembangkan minat kaum milenial dalam berusaha di sector pertanian. Sehingga kebijakan pembangunan pertanian dalam menguatkan sector pertanian dalam negeri dan juga sebagai salah satu upaya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor, dapat diwujudkan saat ini dengan kondisi pandemic justru peluang sangat besar maka pertanian tangguh sebagai penghasil bahan pangan dan peningkatan produksi dapat terwujud. 

    

    

 

 

 

 

 

​​