Bunuh Diri Publik Simbol Keputusasaan Warga Thailand Tunggu Bantuan

Bunuh Diri Publik Simbol Keputusasaan Warga Thailand Tunggu Bantuan
Ilustrasi (antara)

INILAH, Bangkok - Seorang perempuan yang meminum racun tikus pekan ini di luar Kementerian Keuangan Thailand untuk memprotes pemberian bantuan yang lambat selama karantina wilayah atau "lockdown" virus corona, dijanjikan pada Selasa akan mendapatkan uangnya segera.

Namun bagi jutaan warga Thailand lainnya, penantian masih belum usai. Thailand mengumumkan bulan lalu bahwa pemerintah akan memberikan 15.000 baht atau Rp7.170.00 kepada mereka yang pekerjaannya telah terkena dampak wabah virus corona dan tindakan pencegahan.

Program itu akan juga menjangkau dampak dari perintah penutupan mal dan kegiatan bisnis lain sebulan lalu.

Total bantuan, senilai $ 7,4 miliar, dinilai tidak cukup cepat disalurkan pada banyak warga Thailand, yang kesulitan kehidupan sehari-harinya diperburuk dengan berkurangnya pendapatan dengan tiba-tiba ketika kegiatan ekonomi domestik terhenti.

Perempuan yang meminum racun pada Senin memprotes proses panjang pendaftaran yang dia ajukan sebulan yang lalu, menuduh pemerintah mengabaikan permohonannya.

Dia sedang dalam pemulihan di rumah sakit dan akan menerima pembayaran pada Rabu (29/4), kata seorang juru bicara kementerian keuangan pada Selasa.

Attachak Sattayanurak, seorang dosen di Universitas Chiang Mai yang penelitian akademisnya tentang kaum miskin kota telah membawanya bertemu dengan banyak warga Thailand yang mendaftar program bantuan itu, mengatakan bahwa kasus perempuan yang mengonsumsi racun itu merupakan simbol dari masalah yang jauh lebih besar.

"Upaya bunuh diri publik mencerminkan keputusasaan absolut dari satu orang biasa yang mencoba mengirim pesan bahwa pemerintah tidak melindungi rakyat kecil," katanya.

Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa bahwa ia sangat menyadari perjuangan yang dihadapi warga, terutama mereka yang berpenghasilan rendah.

"Kami melindungi seluruh warga dari semua sektor, baik petani, pekerja lepas, pekerja formal atau informal," katanya.

Kelompok-kelompok bisnis memperkirakan bahwa 10 juta orang, atau 26% dari tenaga kerja negara itu, akan kehilangan pekerjaan jika wabah itu berlangsung beberapa bulan, terutama karena pembatasan pada sejumlah sektor, termasuk ritel dan konstruksi.

Secara keseluruhan, 24 juta orang mengajukan permohonan bantuan kemanusiaan dan hingga pekan ini, 7,5 juta telah menerima pembayaran pertama dari tiga bulanan 5.000 baht atau setara Rp.2.390.000, kata Menteri Keuangan Uttama Savanayana.

Sebanyak 16 juta pendaftar dinilai memenuhi kriteria, tetapi hanya 10,6 juta dari mereka yang telah disetujui, sisanya masih dievaluasi, kata menteri.

Pemerintah pada Selasa menambah jumlah maksimum pekerja yang dapat memperoleh bantuan hingga 16 juta dari 14 juta dan juga menjanjikan bantuan untuk 10 juta petani secara terpisah.

Thailand telah menjanjikan langkah-langkah senilai setidaknya 2,4 triliun baht atau $ 74,05 miliar, yang setara dengan lebih dari 14% dari PDB negara itu, untuk membantu individu dan bisnis yang terkena dampak pandemi.

Attachak mengatakan Thailand harus bertindak cepat. "Wabah COVID-19 telah membuat ketimpangan di Thailand lebih mencolok ... Mereka yang membutuhkan harus dibantu secara menyeluruh dan segera," katanya.

Para ekonom memperkirakan tahun depan suram dengan kontraksi terburuk sejak krisis keuangan Asia 1997/1998 karena penurunan ekspor dan dampak berkepanjangan pada pariwisata, mesin pertumbuhan untuk ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara itu.

"Semua ini akan semakin diperburuk oleh tindakan karantina wilayah yang mengganggu kegiatan ekonomi domestik," kata ekonom Nomura Charnon Boonnuch. Thailand sejauh ini melaporkan 2.938 kasus COVID-19 dan 54 kematian. (antara)