Inilah Fakta Ibu VIral Penerima Bantuan Covid-19 di Purwakarta

Inilah Fakta Ibu VIral Penerima Bantuan Covid-19 di Purwakarta
foto: INILAH/Asep Mulyana

INILAH, Purwakarta – Kabar itu terdengar merdu di telinga Geugeu Fatimah (49) warga Kampung/Desa Cibodas, Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta. Ya, janda anak lima ini mendapat kabar jika dirinya tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang mendapat bantuan sosial selama pandemik Covid-19.

Benar saja, Selasa (28/4/2020) siang, dirinya kedatangan tamu yang mengantarkan bantuan sosial tersebut. Tamu tersebut, tak lain merupakan petugas dari kantor pos yang didampingi aparat desa dan kecamatan. Geugeu pun saat itu terlihat girang bukan kepalang.

Namun, menjelang sore kegembiraannya itu berangsur memudar tak kala ada sebuah pemberitaan di salah satu media yang menganggap jika bantuan yang diberikan kepada dirinya itu tidak tepat sasaran. Bahkan, dalam pemberitaan tersebut Geugeu dianggap tak layak mendapat bantuan tersebut jika melihat kondisi rumahnya yang lumayan megah.

Alhasil, adanya pemberitaan tersebut jelas menimbulkan riak dan kecemburuan di tengah masyarakat, terutama mereka yang ada di kampung tersebut. Keresahaan pun muncul saat itu. Ada yang mengganggap jika pemberitaan itu benar, ada juga yang menyayangkan dengan pemberitaan ini.

Camat Sukatani, Asep Gumilar menuturkan, saat pemberitaan itu mencuat jajarannya langsung melakukan kroscek ke rumah warga tersebut. Dia pun merasa heran, masa iya data penerima bantuan ini tidak tepat sasaran. Apalagi, sebelum bantuan tersebut tiba di kantor pos, pihaknya bersama jajaran TNI/Polri telah melakukan pengecekan.

“Dengan adanya pemberitaan yang ramai diperbincangkan, perlu saya sampaikan klarifikasi bahwa yang bersangkutan memang layak mendapatkan bantuan,” ujar Asep dalam surat tertulis yang dikirim ke INILAH, Rabu (29/4/2020).

Asep menegaskan, setelah dikroscek ulang bersama aparat desa setempat, penerima bantuan sosial atas nama Geugeu ini memang layak dan masuk kategori warga yang layak mendapat bantuan. Ibu tersebut, berstatus janda. Suaminya meninggal 9 tahun lalu. Dia menghidupi empat orang anaknya seorang diri.

“Ibu itu memiliki lima anak. Yang satu sudah berumah tangga, yang empat lagi tinggal serumah. Empat anaknya yang serumah ini masih kecil-kecil. Yang bungsu masih SD,” jelas dia.

Untuk menghidupi keluarganya sehari-hari, kata dia, Geugeu hanya mengandalkan harta peningglan suaminya yang dulu sebagai pelangsir pasir. Karena, ibu tersebut tidak punya pekerjaan tetap atau tidak bekerja. Bahkan, untuk biaya sekolah anak-anaknya dirinya kerap dibantu oleh saudara-saudaranya.

“Termasuk rumah yang ditempati seperti terlihat dalam foto yang viral itu, merupakan warisan dari orangtua suaminya (mertua). Kalau dilihat dari depan, memang nampak masih bagus. Tapi, jika dilihat atau masuk ke rumah bagian belakang, kondisinya sangat tidak  layak,” jelas dia.

Asep menambahkan, saat ditemui di rumahnya Geugeu mengaku sangat terbantu dengan bantuan yang diterimanya itu. Dia sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah ini. Namun, saat itu ibu tersebut juga sempat berujar kepada staff desa, lebih baik mengembalikan bantuan ini dari pada jadi tidak manfaat.

“Dari pada jadi madhorot, mending diuihkeun deui. (Dari pada jadi Mudhorot, lebih baik dikembalikan saja,” pungkasnya seraya menirukan perkataan ibu tersebut. (Asep Mulyana)