Sikap Kami: Pagi Tempe, Sore Dele

Sikap Kami: Pagi Tempe, Sore Dele

IBARAT pelatih sepak bola, maka pelatih kita dalam bertarung melawan virus corona, adalah pelatih yang galau. Dia yang menetapkan strategi, tapi dia pula yang tak tertib memainkan strategi itu.

Banyak sekali strategi yang sudah kita susun untuk melawan corona. Tapi, semuanya tidak matang. Saat tidak matang, strategi sudah ditekankan kepada para pemain. Tentu saja, para pemain menjadi kacau ketika tiba-tiba terjadi perubahan strategi yang tak disiapkan di lapangan.

Begitu banyak strategi yang disampaikan pelatih, dalam hal ini pemerintah, tiba-tiba mentah. Berbelok di tengah permainan ketika para pemain sudah mencoba menjalankan strategi cukup membuahkan hasil.

Misalnya, strategi larangan mudik, penutupan jalur penerbangan, sudah mulai jalan, ternyata mentah lagi. Saat kita sudah sepakat, penerbangan hanya untuk membawa kargo, tiba-tiba pelatih yang baru sembuh dari sakitnya, membuka peluang pesawat menerbangkan pengusaha, pelaku ekonomi.

Tentu saja, perubahan strategi ini memicu kontroversi. Memunculkan silang sengketa di antara pemain, dalam hal ini masyarakat. Selain pertanda kita tidak tegas dengan strategi, pola semacam itu mengacaukan banyak pihak lain.

Yang begini ini tidak hanya sekali-dua terjadi. Berbagai kebijakan, strategi, komposisi yang sudah disusun matang, tiba-tiba mentah lagi ketika baru berjalan. Termasuk soal mudik. Selalu berubah-ubah. Tak satu suara.

Kita tak hendak menyatakan pelatih –baca pemerintah—setengah hati melawan corona. Tapi, kita juga tak bisa membantah bila masyarakat memandang hal semacam itu sebagai sebuah fakta yang terjadi.

Kita paham, ini situasi yang berat. Lebih berat ketimbang saat terjadi gonjang-ganjing politik pada 1998 lalu. Karena itu, semestinya kita semua, terutama pemerintah, berada di satu jalur yang sama dalam perjuangannya.

Kita tidak pernah belajar dengan malapetaka yang terjadi pada 22 tahun lalu itu. Kita bisa bangkit, bahkan lebih cepat dari yang diduga, karena kita sungguh-sungguh, berpegang pada satu strategi, menghadapi lawan yang sama: ekonomi dan kehidupan yang terpuruk.

Jikalah pemerintah saat ini tetap bersikap seperti ini, pagi tempe sore kedele, maka perjuangan kita melawan Covid-19 akan lebih panjang. Lebih panjang melampaui awal Juni, seperti yang diperkirakan sebuah lembaga dari Singapura. (*)